Kilas Balik Peristiwa Bom JW Marriott di Jakarta 21 Tahun Lalu, 2 Dalang Utamanya Asal Malaysia
INDOZONE.ID - Sudah 21 tahun berlalu semenjak kejadian ledakan bom yang mengguncang JW Marriott di Jakarta. Bom itu telah menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang.
Mengutip taipeitimes dan csmonitor.com, bom tersebut merupakan rangkaian teror dari jaringan teroris yang diotaki Dr. Azahari dan Noordin M. Top. Keduanya berasal dari Malaysia yang diduga berafliasi dengan jaringan Al Qaeda.
Hotel JW Mariott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Indonesia pada pukul 12:45 dan 12:55 WIB. Ledakan itu berasal dari bom mobil bunuh diri yang dilakukan seorang 'pengantin', istilah untuk orang yang mengorbankan dirinya untuk bom bunuh diri.
Bom yang diaktifkan dengan seluler
Baca Juga: Kilas Balik Serangan Bom di Gedung Stasiun TV BBC yang Menggemparkan Inggris Tahun 2001
Pada pukul 12.44, sebuah bom bunuh diri meledak menggunakan mobil Toyota Kijang dengan nomor polisi B 7462 ZN yang dikemudikan oleh Asmar Latin Sani.
Ledakan bom di Hotel JW Marriott pada tahun 2003 diaktifkan melalui sebuah telepon seluler yang ditemukan di lokasi kejadian.
Kejadian tersebut mengakibatkan 12 orang tewas dan sekitar 150 lainnya mengalami luka-luka. Para korban segera dilarikan ke rumah sakit, antara lain RS MMC Kuningan, RS Medistra, RS Jakarta, RS Mintohardjo, dan RS Cipto Mangunkusumo. Ironisnya, semua korban yang meninggal kebanyakan orang Indonesia.
Para pelaku
Ada beberapa otak pelaku dari peristiwa bom ini yang juga menjadi otak atas bom-bom lainnya. Dua diantaranya warga Malasyia, dan satu lainnya sebagai martir adalah orang Indonesia.
1. Dr. Azahari
Dr. Azahari bin Husin, Ph.D., adalah seorang insinyur asal Malaysia yang diduga kuat sebagai otak di balik sejumlah aksi teror besar. Ia terlibat dalam berbagai serangan. Setidaknya ada 13 aksi bom, termasuk Hotel JW Marriot.
Azahari mulai tertarik dengan gerakan Islam radikal saat ia bertemu dengan pemimpin-pemimpin Jemaah Islamiyah, termasuk Abu Bakar Ba'asyir. Ia lalu mendapatkan pelatihan pembuatan bom di Afganistan.
Baca Juga: Peringatan 20 Tahun Ledakan Bom Bali, Kisah Penyitas Lolos dari Maut Bikin Merinding
Dr. Azahari tewas pada tanggal 9 November 2005 di Kota Batu, Jawa Timur dalam sebuah penyergapan Densus 88. Ada dua versi kematiannya. Harian The Star di Malaysia menyebut bahwa Azahari selalu mengenakan bom di seluruh tubuhnya sebagai persiapan jika akan tertangkap. Namun menurut versi Polri, Azahari mati ditembak anggota kepolisian, bukan meledakkan diri.
2. Noordin M Top
Noordin Mohammad Top adalah partner dari Dr. Azahari. Ia adalah seorang warga Malaysia dengan latar belakang suku Jawa-Melayu yang dianggap bertanggung jawab atas rangkaian serangan teror di Indonesia.
Sikap represif pemerintah Malaysia terhadap JI, membuat petinggi dan kader JI, Noordin bersama Azahari meninggalkan Malaysia setelah pemerintah negara jiran itu melakukan serangkaian operasi pembersihan teroris di negaranya, menyusul serangan yang menyebabkan hancurnya World Trade Center, New York, oleh Al Qaeda pada tanggal 11 September 2001.
Noordin berungkali lolos saat akan disergap polisi sampai 3 kali. Baru pada tanggal 17 September 2009, Noordin akhirnya benar-benar tewas dalam penyergapan di Kampung Kepuhsari, Mojosongo, Jebres, Surakarta, bersama-sama dengan tiga orang lainnya.
3. Asmar Latin Sani
Asmar Latin Sani, yang berasal dari Sumatera Barat, adalah pelaku bom bunuh diri yang meledakkan dirinya dengan mobil yang dilengkapi bom pada 5 Agustus 2003 di Hotel Marriott. Bagian tubuhnya yang berupa kepala ditemukan di lantai kelima hotel tersebut.
Sebelum pengeboman Hotel Marriott, Azahari Husin diduga pernah bertemu dengan Asmar di kediamannya di Bengkulu. Asmar bekerja sebagai tukang fotokopi di sekitar kampus Universitas Bengkulu.
JW Marriot dianggap simbol dunia barat
Baca Juga: Tsar Bomba: Bom Nuklir Buatan Uni Soviet, dengan Ledakan Terbesar dalam Sejarah Manusia
Pasca kejadian, Kedubes AS mengeluarkan peringatan mengenai ncaman yang emungkinkan akan menyerang warga asing, khususnya warga Amerika. Pihak AS meminta pendudukan waspada untuk menghindari tempat-tempat yang akan enjadi incaran terorisme.
Meskipun hampir semua korban yang tewas dalam ledakan pada 5 Agustus adalah orang Indonesia, hotel JW Marriott dipandang sebagai simbol Barat dan telah digunakan oleh kedutaan AS untuk berbagai acara.
Sementara tu, pihak Australia mengeluarkan peringatan agar warganya menghindari semua hotel internasional di Jakarta setelah informasi intelijen terbaru menunjukkan bahwa ibu kota bisa menghadapi ancaman serangan lebih lanjut.
Serangkan kedua
Pada 17 Juli 2009 hotel JW Marriott bersama dengan hotel Ritz-Carlton kembali diguncang bom, menewaskan 9 orang dan melukai 53 orang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Taipeitimes, Csmonitor