INDOZONE.ID - Desa Sambirampak Kidul merupakan sebuah desa yang terletak di ujung sebelah selatan, atau 15 kilometer dari kantor Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo.
Desa ini secara geografis terletak di ketinggian 103 meter di atas permukaan laut. Curah hujan desa setempat adalah 350 mm/tahun, dengan luas desa 203,44 hektar.
Dengan rincian tanah sawah seluas 119,344 hektar, tanah kering yang digunakan untuk ladang/ tegal memiliki luas 52,422 hektar, dan tanah kering untuk permukiman seluas 22 hektar dan sisanya tanah untuk fasilitas umum.
Uniknya, Desa Sambirampak Kidul umumnya dikenal masyarakat dengan Julukan Desa Watu Gajah atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti Desa Batu Gajah. Sebutan tersebut, tidak lepas dengan adanya sebuah bongkahan batu besar menyerupai seekor Gajah yang sedang duduk.
Batu Gajah itu berada di tengah-tengah pematang sawah, yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari permukiman penduduk. Warga sekitar menyebut, kalau keberadaan batu Gajah sudah ada sejak zaman kerajaan di masa lampau.
Konon ceritanya, dahulunya ada seekor Banteng dan seekor Gajah yang berkelahi di desa setempat. Setelah keduanya beradu moncong, sang banteng kemudian terlempar ke arah timur yang kini menjadi Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo.
Sedangkan sang gajah, tetap berada di tempatnya dan membatu. Dari situlah muncul sebutan Desa Batu Gajah, yang kini berubah nama menjadi Desa Sambirampak Kidul.
Kepala Desa Sambirampak Kidul, Junaedi Abdillah, mengungkapkan ia tak mengetahui pasti kapan berubahnya nama Desa Batu Gajah menjadi Desa Sambirampak Kidul. Namun sepengetahuannya, julukan Desa Sambirampak Kidul sudah ada sejak tahun 1948 silam.
"Sebelumnya nama desa di sini, memang umum disebut Desa Batu Gajah. Kemungkinan sebelum tahun 1948 itu, perubahan nama terjadi. Karena sebelum saya lahir, sudah ada perubahan nama menjadi Desa Sambirampak Kidul," terang Junaedi kepada Z Creators, Jum'at (20/10/2023).
Junaedi menyampaikan, meski sudah ada lebih dari puluhan tahun, namun sampai kini belum ada penelitian atau perhatian, terhadap keberadaan batu gajah tersebut. Padahal menurutnya, tekstur batu gajah berbeda dengan batu pada umumnya atau batu-batu yang ada di desa setempat.
"Batunya beda dengan batu pada umumnya. Beda dengan batu gunung dan sungai. Teksturnya tajam kayak batu karang, kalo dulu sempat ada mata airnya di bagian bawah batu. Namun sekarang sudah tidak ada lagi," Junaedi memungkasi.
Sementara warga sekitar, Rustaman, menyebutkan kalau keberadaan batu gajah dahulunya sempat dikeramatkan oleh warga sekitar. Warga mempercayai, apabila ada hewan yang terbang di atas batu gajah akan jatuh.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan perubahan zaman. Keberadaan batu gajah saat ini, malah berubah menjadi lokasi berfoto selfie oleh warga sekitar, maupun luar desa.
Baca Juga: Kisah Asal Usul Kota Kudus, Berawal dari Pedagang Cina yang Pandai Mengukir
"Sekarang seringnya malah dibuat foto-foto oleh orang-orang. Mereka sengaja datang ke tempat ini, hanya untuk berfoto bersama batu gajah ini," ujarnya.
Writer: Victor Median
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Z Creators