INDOZONE.ID - Sabtu pagi yang cerah, 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.00 WIB, sebagian besar warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, khususnya Bantul dan Klaten, masih terlelap tidur. Sebagian lainnya baru memulai aktivitas pagi di dalam rumah, seperti membereskan tempat tidur, bersantai bersama keluarga, atau bersiap berangkat kerja.
Namun tanpa disadari, 53 menit kemudian bencana dahsyat terjadi. Dalam hitungan detik, gempa besar meluluhlantakkan bangunan-bangunan yang sebelumnya berdiri kokoh, termasuk rumah-rumah warga beserta penghuninya.
Tepat pukul 05.53 WIB, gempa berkekuatan 5,9 magnitudo mengguncang selama sekitar 57 detik. Guncangan tersebut memberikan dampak luar biasa bagi wilayah DIY dan Jawa Tengah, terutama Kabupaten Bantul dan Kabupaten Klaten yang menyumbang sekitar 80 persen dari total korban jiwa dalam bencana tersebut.
Gempa ini tidak hanya mengejutkan masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian dunia internasional. Apalagi, saat itu Indonesia belum genap dua tahun bangkit dari bencana tsunami Aceh 2004 yang menewaskan lebih dari 200 ribu orang.
Baca juga: Bukan Sihir! Ternyata Ini Alasan Borobudur Tetap Tegak Meski Diguncang Gempa Ribuan Tahun
Sesar Opak, Sumber Gempa Jogja
Sesar Opak merupakan sesar aktif yang berada di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Jalurnya melintasi dua kabupaten di DIY, yakni Bantul dan Sleman, serta Kabupaten Klaten di Jawa Tengah.
Jika ditarik dari wilayah Klaten, jalur sesar ini melewati Prambanan, kemudian berlanjut ke sejumlah daerah di DIY seperti Kalasan, Berbah, Piyungan, Pleret, Imogiri, Jetis, Pundong, hingga Kretek. Sesar ini dinamakan Sesar Opak karena berada di bawah aliran Sungai Opak.
Saat gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 terjadi, Sesar Opak disebut sebagai sumber utama gempa yang menewaskan lebih dari 5.000 orang. Episentrum gempa berada di wilayah Srihardono, Pundong, Kabupaten Bantul.
Hingga kini, Sesar Opak masih dinyatakan aktif. Gempa-gempa kecil akibat aktivitas sesar tersebut masih kerap terjadi, meski sebagian tidak dirasakan masyarakat.
Getaran gempa Yogyakarta 2006 bahkan terasa hingga wilayah yang cukup jauh, seperti Surabaya, Malang, dan Blitar di Jawa Timur.
Berdasarkan Skala Intensitas Mercalli (MMI), Kabupaten Bantul dan Klaten masuk kategori MMI IX atau hebat, karena menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Sementara daerah lain di DIY seperti Kota Yogyakarta, Sleman, Prambanan, Wonosari, Wates, dan Parangtritis berada di kategori MMI VII hingga VI atau parah dan kuat.
Untuk wilayah Solo Raya seperti Kota Surakarta, Sukoharjo, dan Selo di Boyolali berada pada kategori MMI V atau sedang. Sedangkan daerah lain seperti Salatiga, Kebumen, Mungkid, Borobudur, Semarang, hingga Malang, Blitar, dan Surabaya berada di kategori MMI IV hingga III atau ringan dan lemah.
Dampak Gempa Jogja 2006
Jumlah korban tewas akibat gempa Yogyakarta 2006 diperkirakan mencapai 5.778 hingga 6.234 jiwa. Sementara korban luka-luka berada di kisaran 38.568 hingga 137.883 orang, dengan jumlah pengungsi mencapai 600 ribu hingga hampir 700 ribu jiwa.
Kabupaten Klaten serta sejumlah wilayah di DIY seperti Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta menjadi daerah paling terdampak dalam bencana tersebut.
Baca juga: Kaki Gunung Ciremai Punya Jejak Gempa Purba Berusia 20 Ribu Tahun
Bantul dan Klaten tercatat sebagai dua wilayah dengan korban jiwa terbanyak, yakni sekitar 80 persen dari total keseluruhan korban meninggal dunia atau sekitar 4.600 hingga 4.900 jiwa.
Gempa Yogyakarta 2006 menjadi salah satu gempa paling mematikan di Indonesia sejak tahun 1900, setelah tsunami Aceh 2004.
Meski kekuatan gempa tidak tergolong sangat besar, tingginya jumlah korban dipengaruhi beberapa faktor, seperti kedalaman gempa yang dangkal, banyaknya warga yang masih berada di dalam rumah saat kejadian, serta kondisi konstruksi bangunan yang belum tahan gempa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber Berita