Ilustrasi Pemandangan Candi Borobudur dikala Senja. (iStock/Zxvisual)
INDOZONE.ID - Candi Borobudur yang berdiri kokoh di Magelang, Jawa Tengah, dikenal sebagai monumen Buddha terbesar di dunia yang tidak lepas oleh waktu.
Didirikan oleh Dinasti Syailendra pada abad ke-8, Borobudur merupakan pencapaian arsitektur luar biasa yang dibangun dari sekitar dua juta balok batu tanpa bantuan semen. Ketahanannya menghadapi bencana alam selama lebih dari 1.200 tahun bersumber dari sistem penguncian antar-batu yang sangat presisi.
Teknologi rekayasa sipil kuno ini memberikan fleksibilitas pada struktur bangunan, sehingga Borobudur mampu meredam energi gempa dan tetap kokoh hingga saat ini.
Baca juga: Tahukah Kamu? Candi Borobudur Pernah Hilang dari Perhatian Dunia
Kekuatan Candi Borobudur terletak pada seni penguncian batu yang presisi. Tanpa setetes pun perekat, jutaan balok andesit dipahat secara khusus agar dapat saling menggenggam satu sama lain.
Struktur ini ibarat puzzle raksasa yang saling mengikat, menciptakan sebuah kesatuan bangunan yang tidak hanya masif, tetapi juga memiliki fleksibilitas untuk bertahan dari guncangan zaman.
Metode konstruksi ini merefleksikan kecerdasan arsitektural dalam merespons dinamika alam. Para pembangun menyadari bahwa rigiditas (kekakuan) justru menjadi kelemahan utama saat menghadapi aktivitas seismik.
Berdasarkan informasi dari Infomitigasi, sistem interlock ini berfungsi sebagai peredam getaran yang memungkinkan bangunan bergerak secara kolektif.
Dengan mendistribusikan beban energi gempa secara merata, struktur Borobudur terhindar dari kerusakan fatal. Prinsip fleksibilitas struktural ini menunjukkan bahwa teknologi kuno tersebut telah mengantisipasi standar keamanan bangunan tahan gempa yang digunakan di era modern.
Stabilitas struktural Candi Borobudur didukung oleh kombinasi kompleks dari beberapa mekanisme penguncian batu (interlocking). Berdasarkan studi arkeologi dan teknik sipil, terdapat empat tipe sambungan utama yang digunakan, yaitu tipe ekor burung, takikan, alur dan lidah, serta purus dan lubang.
Penempatan tiap jenis sambungan ini disesuaikan dengan beban dan posisi batu untuk menjamin integrasi bangunan yang maksimal.
Penerapan sistem ini terlihat jelas pada teknik purus dan lubang, sebuah mekanisme sambungan jantan-betina yang serupa dengan prinsip modular Lego. Sebagaimana dijelaskan dalam Raheem Tabet Blog, fungsi utama metode ini adalah menjaga stabilitas posisi batu dari gaya geser vertikal maupun horizontal.
Selain itu, digunakan pula tipe sambungan ekor burung (dovetail) pada bagian dinding. Geometri trapesium pada sambungan ini dirancang untuk menciptakan ikatan antar-blok yang sangat rapat, guna mencegah munculnya celah struktural yang berisiko merusak integritas candi.
Lebih dari sekadar kemegahan, konstruksi Borobudur adalah pelajaran abadi tentang keberlanjutan. Dengan meniadakan bahan kimia buatan dan memaksimalkan material alam serta ketelitian tangan manusia, candi ini menjadi prototipe arsitektur ramah lingkungan yang jauh mendahului zamannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: INFOMITIGASI