Candi Sari Yogyakarta (Gibran Adiyono/Z Creators)
INDOZONE.ID - Kebanyakan candi di Jawa umumnya berbentuk segi empat atau segi delapan. Bentuk tersebut melambangkan empat atau delapan penjuru mata angin, sekaligus simbol teratai berkelopak delapan.
Namun, tahukah kamu kalau ada candi yang berbeda dari kebanyakan? Candi ini bisa dibilang antimainstream karena berbentuk persegi panjang dan memiliki banyak jendela di bagian badan candinya.
Candi Sari merupakan sebuah candi yang terletak tidak jauh dari Jalan Raya Solo - Yogyakarta. Lokasinya sedikit masuk ke area perkampungan warga. Meski terbilang tersembunyi, kehadiran Candi Sari tetap menakjubkan mata siapa pun yang melihatnya. Candi ini memang tidak semegah Borobudur atau Prambanan, tetapi justru keunikannya itulah yang menarik untuk dikunjungi.
Secara struktur, Candi Sari bisa dikatakan cukup lengkap, mulai dari alas candi, kaki candi, badan candi, hingga atap candi. Menurut Asisi Suhariyanto dalam salah satu video YouTube-nya, Candi Sari merupakan candi yang menganut kepercayaan Buddha. Dalam Buddhisme, alas candi disebut patala yang melambangkan alam bawah, kaki candi disebut marttyapada yang melambangkan alam nyata, badan candi disebut swargga yang melambangkan alam dewata, sementara atap candi melambangkan Bhatara Hyang Buddha beserta emanasinya.
Baca juga: Candi Wangkal: Situs Misterius yang Ditemukan Lewat Mimpi, Tersembunyi di Tengah Sawah Sidoarjo
Meski tergolong lengkap, Candi Sari memiliki beberapa bagian yang sudah tidak utuh. Bagian kaki candi misalnya, tidak lagi berbentuk sempurna dan hanya menyisakan batu-batu penyangga bangunan di atasnya. Bahkan, tangga menuju pintu masuk candi juga sudah tidak berbentuk seperti tangga pada umumnya.
Bagian paling menarik dari Candi Sari adalah badan candinya. Pada bagian ini terdapat ukiran-ukiran makhluk surgawi yang digambarkan mengenakan pakaian kebesaran serta perhiasan seperti mahkota dan gelang. Beberapa di antaranya juga terlihat memegang bunga teratai. Ukiran tersebut dibuat dengan sangat detail, memperlihatkan keahlian para silpin (pemahat) pada masanya. Relung-relung di badan candi dihiasi makhluk yang menurut Asisi Suhariyanto, disebut sebagai kinara dan kinari.
Penasaran dengan fungsi relung kosong di badan candi? Saat memasuki bagian dalam candi, rasa penasaran itu mulai terjawab. Di pintu masuk, pengunjung akan disambut oleh relief kirthimuka, sosok penjaga yang dipercaya sebagai penolak bala agar keburukan tidak masuk ke dalam candi.
Cagar Budaya Candi Sari (Gibran Adiyono/Z Creators)
Bagian dalam Candi Sari terdiri dari tiga bilik, yakni bilik kanan, bilik kiri, dan bilik utama. Ketika memasuki bilik kanan, kita akan memahami fungsi relung kosong di badan candi. Dari dalam, terasa angin yang berhembus dari luar sehingga ruangan tidak terasa pengap. Melalui relung tersebut, pengunjung juga bisa melihat pemandangan di sekitar candi.
Ketiga bilik di dalam candi pada dasarnya merupakan ruangan kosong tanpa arca. Namun, pada bilik utama terdapat bentuk lepasan arca yang entah ke mana perginya. Sementara itu, di bilik kanan dan kiri terdapat lubang yang tidak tembus, dihiasi relief kirthimuka dan makara.
Para pengunjung pasti sempat terbesit, jika candi ini hanya terdiri dari satu lantai, mengapa terdapat dua tingkat jendela yang dibuat oleh para silpin? Mengapa tidak cukup satu jendela berukuran besar saja?
Jawabannya terlihat saat kita mendongakkan kepala. Di atas relief kirthimuka terdapat lekukan berbentuk kotak. Bagian tersebut berfungsi sebagai tempat penopang bahan organik seperti kayu yang digunakan untuk lantai dua. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan di mana letak tangga untuk naik ke lantai tersebut.
Baca juga: Candi Sumur: Situs Mini Majapahit yang Menyimpan Misteri Hilangnya Tokoh Penting
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Langsung, YouTube/@ASISIChannel