Ilustrasi jalanan retak akibat gempa bumi. (livescience.com)
INDOZONE.ID - Saat bumi mengguncang, kita tahu itu gempa. Tapi bagaimana jika bumi bergeser… tanpa suara, tanpa getaran, dan tanpa peringatan?
Fenomena ini bukan fiksi. Fenomena ini dikenal oleh para ilmuwan sebagai silent earthquake, atau secara teknis disebut slow slip events (SSEs).
Meskipun tidak menimbulkan kerusakan secara langsung, “gempa diam” ini bisa menjadi sinyal menyeramkan dari sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya.
Baca juga: Piramida Dibangun Alien? Ilmuwan Ungkap Fakta Mengejutkan yang Bikin Teori Konspirasi Goyah
Tidak seperti gempa biasa yang terjadi tiba-tiba dan terasa dalam hitungan detik, Silent Earthquake terjadi sangat lambat.
Gerakan lempeng tektonik bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Namun meskipun berlangsung lama, gerakan ini tetap menyebabkan perpindahan energi di dalam kerak bumi, tanpa disadari manusia di permukaan.
Meskipun “sunyi”, silent earthquake memiliki dampak yang tidak bisa dianggap sepele.
Dalam beberapa kasus, fenomena ini justru dianggap sebagai tanda bahwa tekanan besar sedang terakumulasi di zona subduksi, yang bisa menjadi indikasi meningkatnya potensi terjadinya gempa megathrust.
Baca juga: Harta Karun Keramik Kuno dari Masa Hellenistik Ditemukan di Bangkai Kapal di Laut Turki
Fenomena ini pertama kali diperhatikan oleh para peneliti saat mereka memasang GPS berpresisi tinggi di sepanjang zona-zona rawan gempa seperti Jepang, Selandia Baru, dan wilayah Cascadia (Pantai Barat Amerika Utara).
Tanpa adanya getaran yang dirasakan manusia, alat GPS menunjukkan bahwa lempeng bumi perlahan bergeser hingga beberapa sentimeter.
Ini artinya: bumi memang sedang “bergerak”, kita saja yang tidak sadar.
Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Kisah K.H. Mas Mansur: Ulama Pejuang Kemerdekaan dari Surabaya
Di permukaan, fenomena ini memang terlihat “jinak”. Tapi jangan salah, SSE memiliki kaitan erat dengan zona megathrust—wilayah di mana dua lempeng tektonik besar saling bertemu dan saling menekan satu sama lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Scientificamerican