Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 03 JULI 2025 • 20:00 WIB

Mengenal Lebih Dalam Kisah K.H. Mas Mansur: Ulama Pejuang Kemerdekaan dari Surabaya

Mengenal Lebih Dalam Kisah K.H. Mas Mansur: Ulama Pejuang Kemerdekaan dari SurabayaPotret K.H. Mas Mansoer, seorang tokoh agama Indonesia yang menjabat sebagai ketua Muhammadiyah ke-4 dari tahun 1937 hingga 1942.

INDOZONE.ID - K.H. Mas Mansur, ulama besar asal Surabaya yang lahir tahun 1896, dikenal sebagai pahlawan nasional yang gigih berjuang demi Indonesia merdeka. Cintanya pada tanah air dibuktikan dengan perlawanannya terhadap penjajahan Belanda dan Jepang. Ia mewakili golongan modernis dalam Islam yang berpikiran maju.

Sejak muda, Mas Mansur haus ilmu. Ia belajar agama di pesantren ayahnya di Surabaya, kemudian di Bangkalan, Madura, dibimbing Kiai Kholil yang ternama. Tak puas, ia melanjutkan belajar ke tanah suci Mekkah dan Mesir, khususnya di Universitas Al-Azhar, Kairo, pusat ilmu Islam dunia saat itu.

Di Kairo, Mas Mansur tak hanya mendalami agama. Ia juga aktif di organisasi pelajar Indonesia (PPI) dan menyerap pemikiran modern serta semangat kebangsaan. Pengalaman ini membentuk pandangannya bahwa Islam harus membumi dan memajukan masyarakat.

Merintis Pendidikan dan Menyebarkan Pemikiran

Pulang ke Surabaya tahun 1915, Mas Mansur prihatin melihat masyarakat yang sulit menerima perubahan. Bersama kiai muda lain seperti K.H. Abdul Wahab Hasbullah, ia mendirikan kelompok diskusi Taswirul Afkar (Cakrawala Pemikiran) tahun 1916.

Diskusi itu melahirkan ide mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Mas Mansur menjadi kepala sekolahnya. Madrasah ini menanamkan semangat cinta tanah air dan nasionalisme berbasis Islam pada murid-muridnya.

Ia bahkan menggubah syair Arab bertema patriotisme, “Nahdlatul Wathan,” yang dinyanyikan murid-murid seperti lagu kebangsaan. Syair ini populer di pesantren, termasuk Tebu Ireng Jombang, hingga tahun 1940-an, dan membangkitkan semangat juang.

Mas Mansur juga pandai menyampaikan gagasan lewat tulisan. Ia menerbitkan majalah seperti Le Jinem (1920) dan Suara Santri (1921). Bahasanya sederhana dan mudah dipahami, menjadikannya tokoh jurnalistik yang berpengaruh.

Baca juga: Di Balik Peristiwa Geger Cilegon 1888: Pemberontakan Para Ulama Banten Melawan Hindia Belanda

Memimpin Muhammadiyah dan Terjun ke Politik

Pertemuannya dengan pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, sangat memengaruhi Mas Mansur. Ia pun bergabung dan aktif di Muhammadiyah Cabang Surabaya sejak 1921, bahkan menjadi ketuanya. Ia dikenal sebagai pencetus Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Mas Mansur merumuskan “Dua Belas Langkah Muhammadiyah.” Tujuh langkah fokus pada penguatan iman, akhlak, persatuan, dan keadilan bangsa. Lima lainnya untuk memajukan organisasi. Gagasannya menekankan moderatisme dan cinta tanah air (hubbul wathan).

Ia percaya kemerdekaan butuh kesadaran politik rakyat. Tahun 1938, bersama tokoh seperti Dr. Sukiman, ia mendirikan Partai Islam Indonesia (PII) yang bersikap kooperatif (bekerja sama secara hati-hati) dengan Belanda untuk pendidikan politik umat.

Sebagai Ketua Umum Muhammadiyah, keterlibatannya di PII menuai kritik dari sebagian anggota yang khawatir organisasi agama tercemar politik. Namun, Mas Mansur teguh bahwa Muhammadiyah tidak melarang anggotanya berpolitik secara pribadi.

Ia juga aktif di badan perjuangan kebangsaan lain. Tahun 1939, ia bersama partai-partai nasionalis membentuk Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang menuntut parlemen untuk Hindia Belanda. Ia bahkan sempat ditawari menjadi Ketua Majelis Rakyat Indonesia (MRI), tapi menolak.

Strategi di Masa Pendudukan Jepang

Saat Jepang menguasai Indonesia (1942), Mas Mansur dianggap tokoh penting. Ia diajak Jepang untuk memimpin organisasi bentukan mereka. Meski awalnya ragu dan ingin fokus mengajar, akhirnya ia menerima demi keselamatan bangsa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Doi.org

Tags
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Lebih Dalam Kisah K.H. Mas Mansur: Ulama Pejuang Kemerdekaan dari Surabaya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!