INDOZONE.ID - Tak banyak yang tahu bahwa dibalik ramainya kawasan Tembalang, Kota Semarang, yang dipenuhi mahasiswa Universitas Diponegoro, tersimpan jejak seorang tokoh yang ikut berjuang pada abad ke-19, yakni Ki Ageng Galang Sewu.
Makamnya yang terletak di tengah-tengah lingkungan kampus ternama di Semarang ini, merupakan salah satu tokoh yang turut membantu perjuangan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa tahun 1825-1830.
Kisah ini diceritakan Kumaidi, Ketua RW setempat dalam Kanal YouTube Pemkot Semarang yang berjudul “Jelajah Semarang - Makam Ki Ageng Galang Sewu", berdasarkan cerita dari ayahnya.
Ki Ageng Galang Sewu, atau Kyai Galang Sewu, berasal dari keluarga Bustaman, keturunan ulama besar di Semarang.
Ia merupakan cucu dari Kyai Bustaman dan memiliki hubungan keluarga dengan Raden Sukar, salah satu pengikut setia Diponegoro yang turut dibuang ke Makassar.
Saat Perang Jawa (1825–1830) meletus, Ki Ageng Galang Sewu dipercaya memimpin laskar perlawanan yang berjumlah ribuan orang di wilayah Semarang dan sekitarnya, terutama di daerah Jatingaleh hingga Ungaran.
Nama Ki Ageng Galang Sewu bukanlah nama asli. Menurut Kumaidi, nama lahirnya adalah Suryokusumo.
Baca Juga: Bukan di Tanah Jawa, Ternyata Makam Pangeran Diponegoro Ada di Makassar, Begini Kisahnya
Nama Ki Ageng Galang Sewu muncul ketika dia memimpin pasukan yang berjumlah ribuan, saat membantu Pangeran Diponegoro di daerah Tembalang sampai Ungara.
Dari situ nama “Galang Sewu” digunakan karena bermakna “menggalang seribu pasukan”.
Perjuangan Ki Ageng Galang Sewu tidak berhenti di medan perang. Setelah perang berakhir, ia kembali ke jalur dakwah.
Ia dikenal sebagai tokoh spiritual yang sederhana dan dihormati. Makamnya kini menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi, terutama saat Haul Simbah Ki Ageng Galang Sewu dan Haul Pangeran Diponegoro yang tiap tahun dilaksanakan pada bulan Januari.
Para pengunjung datang dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa Universitas Diponegoro yang kampusnya berdiri tak jauh dari sana.
Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat sekitar, Ki Ageng Galang Sewu pernah menyampaikan ramalan bahwa tanah tempat tinggalnya kelak akan “dipenuhi jamur”—yang diinterpretasikan sebagai pertanda tumbuhnya banyak bangunan dan pusat kehidupan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kyaigalangsewu.net, Youtube @semarangpemkot