INDOZONE.ID - Di dunia perkeretaapian, pekerjaan mengatur jalur rel tentu identik dengan petugas manusia yang terlatih dan penuh konsentrasi.
Namun siapa sangka, pada akhir abad ke-19 pernah ada seekor babon yang bekerja secara resmi di stasiun kereta api dan bahkan tercatat sebagai pegawai dengan nomor karyawan.
Kisah unik ini benar-benar terjadi dan menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah perkeretaapian dunia.
Kisah James dan Jack si Babon Cerdik
Cerita tersebut bermula dari seorang pria bernama James Edwin Wide, yang lebih dikenal dengan julukan “Jumper”. Ia bekerja di Cape Government Railways, Afrika Selatan, sebagai petugas sinyal kereta api.
Baca juga: Warisan Dinasti Joseon yang Masih Membentuk Korea Selatan Modern
Tugas James adalah mengoperasikan tuas rel untuk mengatur arah jalannya kereta. Julukan “Jumper” diberikan karena kebiasaannya melompat dari satu gerbong ke gerbong lain yang sedang bergerak.
Namun, kebiasaan berbahaya itu berujung petaka. Pada tahun 1877, James mengalami kecelakaan kerja setelah terpeleset saat berpindah gerbong.
Kedua kakinya terlindas kereta hingga harus diamputasi. Setelah kejadian tersebut, James menggunakan kaki palsu berbahan kayu dan sebuah troli kecil untuk membantunya bergerak.
Kondisi fisiknya membuat aktivitas sehari-hari menjadi sulit, terutama perjalanan menuju tempat kerja yang cukup jauh.
Hingga suatu hari, James melihat seekor babon di pasar yang mampu mendorong gerobak dengan sangat baik. Ia terkesan dengan kecerdasan hewan tersebut dan akhirnya memutuskan untuk membeli babon itu.
Babon tersebut kemudian diberi nama Jack. Awalnya, Jack hanya dilatih untuk membantu mendorong troli James menuju stasiun setiap hari.
Selain itu, Jack juga membantu pekerjaan rumah seperti menyapu lantai, membuang sampah, dan melakukan pekerjaan sederhana lainnya yang sulit dilakukan James setelah kehilangan kedua kakinya.
Melihat kemampuan Jack yang terus berkembang, James mulai melatih babon itu untuk membantu pekerjaannya di stasiun kereta api.
Secara perlahan, Jack diajarkan cara mengoperasikan tuas sinyal rel menggunakan kode isyarat tangan sederhana dari James.
Mengejutkannya, Jack mampu memahami instruksi tersebut dengan sangat baik. Keberadaan seekor babon yang membantu mengatur jalur kereta tentu menarik perhatian banyak orang.
Tidak semua orang merasa nyaman melihat hewan melakukan pekerjaan yang dianggap sangat penting dan berisiko tinggi.
Akhirnya, laporan mengenai Jack sampai ke manajemen pusat perusahaan kereta api. James dan Jack pun sempat diberhentikan karena dianggap membahayakan operasional kereta.
Namun James memohon kepada pihak manajemen agar Jack diuji terlebih dahulu sebelum benar-benar dipecat. Permintaan itu akhirnya disetujui.
Dalam pengujian tersebut, James sama sekali tidak diperbolehkan membantu. Para masinis hanya memberikan kode lewat bunyi peluit kereta, sementara Jack harus menentukan sendiri tuas mana yang harus ditarik.
Hasilnya sangat mengejutkan. Jack berhasil menjalankan seluruh tugas tanpa melakukan satu kesalahan pun.
Setelah menyaksikan langsung kemampuan sang babon, pihak manajemen akhirnya mengakui kecerdasan Jack dan mengizinkannya kembali bekerja di stasiun.
Baca juga: Siapa Enheduanna? Kisah Penulis Pertama di Dunia dari Mesopotamia Kuno
Sejak saat itu, Jack resmi tercatat sebagai pegawai Cape Government Railways. Ia bahkan mendapatkan nomor pegawai resmi, gaji sebesar 20 sen per hari, tunjangan makan, hingga bonus mingguan berupa setengah botol bir yang diberikan setiap Sabtu malam.
Jack bekerja di stasiun kereta api selama kurang lebih sembilan tahun. Selama masa pengabdiannya, tidak pernah tercatat satu pun kesalahan dalam pekerjaannya mengoperasikan sinyal rel kereta api.
Babon cerdas tersebut akhirnya meninggal dunia pada tahun 1890 akibat penyakit tuberkulosis (TBC).
Kisah Jack hingga kini masih dikenang sebagai salah satu cerita paling unik dalam sejarah dunia kerja dan transportasi.
Ia menjadi simbol bahwa kecerdasan hewan terkadang mampu melampaui dugaan manusia, bahkan dalam pekerjaan yang dianggap sangat kompleks dan penuh tanggung jawab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube @risyadandson