Senin, 20 APRIL 2026 • 15:44 WIB

Daftar Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno: Candi dan Prasasti

Author

Daftar Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Nano Banana)

INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sebuah peradaban Nusantara di abad ke-8 mampu membangun monumen batu raksasa dengan presisi matematis tanpa bantuan teknologi modern? Jawabannya terukir jelas dalam lembaran sejarah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.

Berpusat di jantung Pulau Jawa, kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini tidak hanya mewariskan kemegahan arsitektur berskala global, tetapi juga meninggalkan jejak tata kelola pemerintahan, toleransi beragama, dan kemajuan teknologi pertanian yang luar biasa. Mempelajari warisan peninggalannya bukan sekadar menghafal artefak mati, melainkan menelusuri akar identitas kecerdasan peradaban bangsa Indonesia.

Sejarah Singkat Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno, atau yang sering disebut dengan Bumi Mataram, merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah menguasai Pulau Jawa. Awalnya, kerajaan ini terletak di Jawa Tengah, membentang di wilayah subur aliran Sungai Bogowonto, Progo Elo, dan Bengawan Solo. Namun, karena faktor bencana alam, letusan Gunung Merapi, dan pertimbangan politik, pusat kerajaan kemudian dipindahkan oleh Mpu Sindok ke wilayah Jawa Timur.

Sejarah mencatat bahwa kerajaan ini dikendalikan oleh tiga dinasti (wangsa) besar yang saling memberikan pengaruh kuat terhadap corak peninggalannya:

  • Wangsa Sanjaya: Didirikan oleh Raja Sanjaya, merupakan dinasti pemeluk agama Hindu beraliran Siwa.
  • Wangsa Syailendra: Dinasti yang memeluk agama Buddha Mahayana dan banyak mendirikan monumen Buddhis raksasa.
  • Wangsa Isana: Wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sindok setelah memindahkan pusat kekuasaan ke Jawa Timur.
    Sikap toleransi antar-wangsa ini sangat tinggi, terbukti dari banyaknya perkawinan politik dan kolaborasi dalam membangun tempat ibadah lintas agama yang letaknya berdekatan.

"Peninggalan Mataram Kuno adalah bukti nyata toleransi beragama di Nusantara. Wangsa Sanjaya yang Hindu dan Syailendra yang Buddha mampu hidup berdampingan dan mewariskan karya arsitektur monumental yang tak lekang oleh waktu." Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemdikbud), dalam catatan sejarah Candi Borobudur dan Prambanan.

Baca juga: Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai: Sejarah, Letak, dan Bukti Kejayaannya Lengkap

Daftar Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Peninggalan fisik yang paling menonjol dari Kerajaan Mataram Kuno adalah bangunan suci berupa candi. Candi-candi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan, tetapi juga sebagai simbol legitimasi kekuasaan raja.

1. Candi Borobudur

Biksu mengikuti Pradaksina di Borobudur (Heri nugroho (commons.wikimedia.org))

Monumen Buddha terbesar di dunia ini terletak di Magelang, Jawa Tengah. Dibangun pada masa Dinasti Syailendra (abad ke-8), candi ini memiliki panjang 121,66 meter dan tinggi 35,40 meter. Bentuknya menyerupai punden berundak dengan relief yang menceritakan ajaran Buddha.

2. Candi Prambanan

Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu yang terindah di Asia Tenggara. (Tommy Gandes)

Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun sekitar abad ke-9 (sekitar 850 M) oleh Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya (Kerajaan Mataram Kuno). Candi ini didedikasikan untuk Trimurti (Siwa, Brahma, Wisnu) sebagai tandingan candi Buddha (Borobudur/Sewu) dan penanda kembalinya kekuasaan Hindu. 

3. Candi Sewu

Candi Sewu terletak di Kompleks Candi Prambanan, tepatnya di Jalan Raya Solo KM. 16 Klurakbaru, Tlogo, Kalasan, Sleman (Crisco 1492 (commons.wikimedia.org))

Berada tak jauh dari Prambanan, ini adalah kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur. Candi Sewu yang beraliran Buddha Mahayana ini berusia lebih tua daripada Candi Prambanan. Meskipun aslinya terdapat 249 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan Sewu yang berarti seribu dalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang.

4. Candi Mendut

Candi Mendut berasal dari era Kerajaan Mataram Kuno, tepatnya dibangun sekitar tahun 824 Masehi oleh Raja Indra dari Wangsa Syailendra. Candi bercorak Buddha ini terletak di Desa Mendut, Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Chainwit. (commons.wikimedia.org))

Didirikan oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Keunikan utamanya adalah keberadaan tiga patung Buddha besar di dalam ruang utama, termasuk Boddhisattva Avalokiteshvara. Candi Mendut merupakan salah satu situs bersejarah bagi penganut Buddha yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi ini berdekatan dengan candi bercorak Buddha lainnya, yaitu Borobudur dan Pawon.

5. Candi Pawon

Candi Pawon diyakini sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra dan berlokasi strategis dalam satu garis lurus antara Candi Borobudur dan Candi Mendut. (Chainwit. (commons.wikimedia.org))

Terletak di garis lurus antara Candi Mendut dan Borobudur. Namanya bermakna "dapur" dalam bahasa Jawa. Candi Pawon adalah candi Buddha peninggalan Dinasti Syailendra dari abad VIII-IX Masehi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Candi ini diyakini sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra dan berlokasi strategis dalam satu garis lurus antara Candi Borobudur dan Candi Mendut. Berbahan batu andesit dengan gaya perpaduan Jawa Kuno dan India, candi ini juga dikenal dengan sebutan "perabuan". 

6. Kompleks Candi Dieng

Kompleks Candi Dieng adalah kumpulan candi Hindu-Siwa tertua di Jawa yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara. Candi-candinya dinamai menurut tokoh pewayangan Mahabharata, Kelompok Arjuna, Gatotkaca, Bima, dan Dwarawati. (Midori (commons.wikimedia.org))

Gugusan candi Hindu tertua di Jawa Tengah yang terletak di dataran tinggi Dieng. Terdiri dari candi-candi kecil yang dinamai tokoh pewayangan, seperti Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Semar, Candi Puntadewa, dan Candi Srikandi.

7. Candi Gedong Songo

Kompleks sembilan candi bercorak Hindu yang tersebar di lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Menurut sejarah Candi Gedong Songo merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun sekitar abad ke-8. Wisata Candi Songo dibangun oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya raja pada awal pemerintahannya.

8. Candi Sambisari

Candi Sambisari adalah candi hindu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berada di Desa Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman, DIY. (Crisco 1492 (commons.wikimedia.org))

Candi Hindu unik yang pembangunannya berada di bawah permukaan tanah karena sempat tertimbun lahar letusan Gunung Merapi, sebelum ditemukan kembali pada tahun 1966.

Baca juga: Peninggalan Kerajaan Demak: Sejarah, Fakta, dan Maknanya Lengkap

Prasasti Bersejarah Peninggalan Mataram Kuno

Selain monumen batu, informasi valid mengenai silsilah raja dan kebijakan pemerintahan didapatkan melalui penemuan prasasti. Berikut adalah rincian prasasti penting dari era Mataram Kuno:

Nama Prasasti Tahun Temuan Ciri Khas Teks Isi dan Makna Sejarah
Prasasti Canggal 732 M Huruf Pallawa, Bahasa Sansekerta Menceritakan pendirian Lingga (lambang Siwa) di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya, serta silsilah Raja Sanna.
Prasasti Kalasan 778 M Huruf Pranagari, Bahasa Sansekerta Mencatat instruksi pendirian bangunan suci untuk memuja Dewi Tara oleh Wangsa Syailendra.
Prasasti Kelurak 782 M Huruf Pranagari, Bahasa Sansekerta Menceritakan pembuatan arca Manjusri oleh Raja Indra (Sri Sanggramadananjaya) di dekat Prambanan.
Prasasti Sojomerto Abad ke-8 M Aksara Pallawa, Bahasa Sansekerta Dikeluarkan oleh Rakai Kayuwangi, berisi perintah pembangunan Vihara Venuvana dan perlindungan hak pendeta Buddha.
Prasasti Mantyasih (Kedu) 907 M Bahasa Jawa Kuno Dokumen sangat penting yang memuat daftar silsilah raja-raja Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya.
Prasasti Ratu Boko Abad ke-9 M Huruf Pranagari Mengabadikan peristiwa kekalahan Balaputeradewa dalam peperangan melawan saudaranya sendiri, Pramodawardhani.

Kemajuan Sistem Irigasi dan Pertanian

Kekayaan Kerajaan Mataram Kuno tidak murni didapat dari perdagangan maritim, melainkan dari kemajuan sektor agraris. Lokasinya yang dikelilingi gunung berapi memberikan tanah yang sangat subur. Peninggalan kebudayaan non-fisik yang paling terasa dampaknya adalah penguasaan teknologi irigasi.

Kerajaan ini dikenal memiliki sistem irigasi canggih dengan membangun kanal-kanal terstruktur untuk mengairi lahan di dataran tinggi maupun rendah. Mereka menerapkan sistem sawah tanggul yang berfungsi efisien dalam mengatur aliran air. Selain itu, teknik penanaman basah (budidaya padi dengan menggenangi sawah) dioptimalkan secara masif, menjadikan Bumi Mataram sebagai lumbung pangan utama yang mendukung kemakmuran ekonomi dan stabilitas politik negara.

Manfaat Pelestarian Peninggalan Mataram Kuno di Era Modern

Di era modern, warisan peradaban abad ke-8 ini memberikan manfaat yang nyata secara multisektoral:

  1. Sektor Pariwisata dan Ekonomi: Situs Warisan Dunia UNESCO seperti Borobudur dan Prambanan menjadi magnet jutaan turis domestik dan mancanegara, yang secara langsung menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di sektor UMKM dan perhotelan sekitarnya.
  2. Identitas dan Edukasi: Menjadi laboratorium hidup bagi para arkeolog, sejarawan, dan pelajar untuk memahami arsitektur, bahasa kuno (epigrafi), serta sistem sosial masyarakat Nusantara di masa lampau.
  3. Inspirasi Toleransi: Candi-candi yang berdiri berdampingan secara damai memberikan pesan moral yang kuat bagi generasi masa kini tentang pentingnya merawat kebhinekaan dan toleransi beragama.

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno merupakan sebuah mozaik peradaban yang membanggakan bagi bangsa Indonesia. Dari kemegahan Candi Borobudur dan Prambanan, hingga ketelitian pahatan aksara pada Prasasti Canggal, semuanya membuktikan tingginya tingkat kecerdasan seni, rekayasa arsitektur, dan kemapanan ekonomi masyarakat Jawa pada kurun waktu abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.

Lebih dari sekadar tumpukan batu punden berundak, warisan ini merekam nilai-nilai luhur toleransi lintas agama antara Wangsa Sanjaya dan Syailendra yang sangat relevan untuk diteladani hingga saat ini.

Keberadaan situs-situs bersejarah ini harus terus dijaga kelestariannya agar tidak lekang tergerus laju modernisasi. Mempelajari sejarah Mataram Kuno adalah langkah awal untuk menyadari kebesaran bangsa sendiri.

Sebagai penutup, mari kita resapi sebuah renungan jika leluhur kita di abad ke-8 mampu mendirikan mahakarya abadi berbekal batu dan gotong royong, mungkinkah kita di era modern gagal membangun peradaban yang beradab dan bertoleransi?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU