Kamis, 09 APRIL 2026 • 11:38 WIB

Tragedi Berdarah di Lengkong: Misi Pelucutan Senjata yang Berujung Gugurnya Puluhan Taruna Indonesia

Author

Monumen Lengkok. (Indonesiakaya.com)

INDOZONE.ID - Peristiwa 21 Januari 1946 menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Insiden yang dikenal sebagai Peristiwa Lengkong ini terjadi di Desa Lengkong, Serpong, dan meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi dunia militer Indonesia.

Pada masa itu, kondisi keamanan nasional masih belum stabil. Meskipun Jepang telah menyatakan menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, sejumlah pasukan Jepang di berbagai wilayah Indonesia masih bersenjata dan belum sepenuhnya menyerahkan kendali. 

Situasi ini mendorong pihak Indonesia untuk segera melakukan pelucutan senjata guna menjaga kedaulatan yang baru saja diraih.

Baca juga: Jejak Brutal Perbudakan Modern di Balik Emas Hijau Tembakau Deli

Mayor Daan Mogot memimpin sekitar 70 taruna Akademi Angkatan Udara Republik Indonesia di Tangerang untuk menjalankan misi pelucutan senjata terhadap tentara Jepang di Lengkong. 

Para taruna ini merupakan calon-calon perwira muda yang masih dalam tahap pendidikan, namun telah diberi tanggung jawab besar dalam situasi yang penuh risiko.

Setibanya di lokasi, Mayor Daan Mogot melakukan pendekatan secara persuasif kepada pihak Jepang. 

Pada awalnya, proses pelucutan senjata berlangsung relatif lancar. Tentara Jepang tampak kooperatif dan bersedia memenuhi permintaan tersebut.

Baca juga: Mengenang Momen Bersejarah Saat Indonesia Resmi Dinyatakan Bebas Polio oleh WHO

Namun, situasi berubah secara tiba-tiba ketika terdengar letusan senjata dari luar area. Hingga kini, sumber pasti dari tembakan pertama masih menjadi perdebatan. 

Insiden tersebut memicu kepanikan dan berujung pada baku tembak yang tidak dapat dihindari.

Dalam kondisi yang tidak menguntungkan, para taruna yang memiliki keterbatasan pengalaman tempur harus menghadapi serangan mendadak. 

Akibatnya, sebanyak 34 taruna gugur dalam peristiwa tersebut. Selain itu, tiga perwira juga kehilangan nyawa, yakni Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto, dan Letnan Soetopo.

Baca juga: Mengapa Arsip Vatikan Dijaga Ketat? Bukan Konspirasi, Ini Alasannya

Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi besar dalam sejarah awal pembentukan kekuatan militer Indonesia, sekaligus mencerminkan besarnya pengorbanan generasi muda dalam mempertahankan kemerdekaan.

Monumen Palagan Lengkong sebagai Penanda Sejarah

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa para pahlawan, didirikan Monumen Palagan Lengkong di lokasi yang diyakini sebagai tempat terjadinya peristiwa tersebut. 

Monumen ini berfungsi tidak hanya sebagai simbol penghormatan, tetapi juga sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat luas.

Struktur monumen dirancang dengan sarat makna. Tugu utama yang menjulang tinggi melambangkan semangat juang yang tidak pernah padam. 

Baca juga: Kisah Eksperimen Nekat Edward Jenner dalam Menemukan Vaksin Pertama di Dunia

Pada bagian dasar tugu, terukir nama-nama para pahlawan yang gugur sebagai bentuk penghormatan abadi.

Selain itu, terdapat patung-patung yang menggambarkan situasi perjuangan para taruna pada saat peristiwa berlangsung. Visualisasi tersebut memberikan gambaran nyata mengenai keberanian dan pengorbanan mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Traveloka

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU