INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana titik awal peradaban tulis-menulis dan sistem pemerintahan terstruktur pertama kali hadir di Bumi Nusantara? Jauh sebelum era digital merajai dan peradaban modern terbentuk, sebuah kemaharajaan telah berdiri dengan gagah di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, pada sekitar abad ke-4 Masehi. Kerajaan Kutai Martadipura bukanlah sekadar mitos atau legenda pengantar tidur, melainkan sebuah entitas politik dan budaya yang tonggak sejarahnya dibuktikan melalui berbagai penemuan arkeologis yang otentik.
Artikel di Indozone.id ini akan mengupas tuntas berbagai peninggalan Kerajaan Kutai, menelusuri pesan-pesan kuno yang terukir pada batu, serta memahami makna di balik kejayaan masa lalu yang menjadikannya sebagai kerajaan bercorak Hindu tertua di Indonesia.
Pengertian dan Sejarah Singkat Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu pertama dan tertua di wilayah Nusantara. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad ke-4 Masehi atau sekitar tahun 400 Masehi. Letak geografisnya sangat strategis, yakni berada di Muara Kaman, sebuah daerah pedalaman di tepian Sungai Mahakam, Provinsi Kalimantan Timur.
Berdirinya Kerajaan Kutai menjadi penanda yang sangat krusial bagi sejarah Indonesia. Masa ini merupakan titik transisi di mana bangsa Indonesia mengakhiri zaman praaksara (zaman sebelum mengenal tulisan) dan melangkah memasuki zaman sejarah. Pengaruh budaya dan agama dari India yang masuk melalui jalur perdagangan maritim telah membawa perubahan besar, baik dalam sistem tata negara maupun spiritualitas masyarakat lokal pada masa itu.
Baca juga: Kerajaan Kutai: Kerajaan Tertua di Indonesia yang Jadi Titik Awal Peradaban Nusantara
Apa Saja Peninggalan Kerajaan Kutai?
Ketika berbicara mengenai bukti fisik kemegahan Kutai di masa lampau, masyarakat sering kali menyatukan seluruh artefak dari dua era yang berbeda: era Kerajaan Hindu (Kutai Martadipura) dan era Kesultanan Islam (Kutai Kartanegara).
Secara umum yang sering dicari dan dikenal oleh masyarakat, berikut adalah daftar peninggalan penting yang berkaitan erat dengan peradaban Kutai:
- Prasasti Yupa (7 buah): Tiang batu berhuruf Pallawa dan bahasa Sanskerta yang menceritakan silsilah, kebesaran Raja Mulawarman, dan sedekah puluhan ribu sapi kepada kaum Brahmana.
- Ketopong Sultan: Mahkota emas seberat 1,98 kg milik Sultan Kutai yang dihiasi ukiran indah.
- Kalung Uncal: Kalung emas seberat 170 gram dengan liontin berelief kisah Ramayana, yang konon berasal dari India.
- Kura-Kura Emas: Benda logam emas murni sebesar kepalan tangan yang diyakini sebagai hadiah diplomatik dari seorang pangeran Kerajaan Tiongkok.
- Kalung Siwa: Kalung emas kuno yang ditemukan di sekitar Muara Kaman, dipercaya digunakan saat upacara kerajaan pada masa lampau.
- Pedang Sultan Kutai: Pedang emas padat dengan ukiran harimau pada gagangnya dan hiasan batu mulia.
- Tali Juwita: Simbol 7 muara dan 3 anak sungai Mahakam, yang terbuat dari benang emas dan sering digunakan dalam upacara adat Bepelas.
- Keris Bukit Kang: Keris legendaris yang digunakan oleh permaisuri Raja Kutai, Aji Putri Karang Melenu.
- Singgasana Sultan: Kursi kebesaran khusus raja yang dilengkapi payung, yang kini berada di Museum Mulawarman, Tenggarong.
Penting untuk Meluruskan Sejarah:
Sebagai catatan edukasi yang penting bagi pelajar dan pembaca umum, dari daftar di atas, bukti otentik yang benar-benar berasal dari Kerajaan Kutai Martadipura (era Hindu tertua) hanyalah Prasasti Yupa dan Kalung Siwa (yang ditemukan di Muara Kaman).
Sementara itu, benda-benda emas seperti Ketopong, Singgasana, Pedang, hingga Kura-Kura Emas adalah warisan dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Kerajaan yang lebih muda ini pada akhirnya menaklukkan sisa-sisa wilayah Kutai Martadipura pada abad ke-16, sehingga warisan sejarah keduanya sering kali dianggap sama oleh masyarakat awam. Saat ini, artefak emas peninggalan kesultanan tersebut dijaga ketat di Museum Nasional Jakarta dan Museum Mulawarman.
Bukti otentik dari era Kutai Martadipura (era Hindu) terpusat pada tujuh tiang batu. Untuk mempermudah pemahaman, berikut adalah tabel ringkasan peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura yang telah divalidasi oleh para ahli sejarah:
| Nama Peninggalan | Bentuk Fisik | Lokasi Ditemukan | Bahasa & Aksara | Fungsi Utama |
| Prasasti Yupa I - VII | Tiang Batu Andesit (Tugu) | Bukit Brubus, Muara Kaman, Kalimantan Timur | Sansekerta (Bahasa), Pallawa (Aksara) | Tugu peringatan kedermawanan raja dan tiang penambat hewan kurban. |
| Situs Waprakeswara | Area/Situs | Muara Kaman | - | Lapangan suci tempat pemujaan Dewa Siwa dan penyerahan kurban. |
Prasasti Yupa, Peninggalan Kerajaan Kutai (Meursault2004)
Yupa sebagai Peninggalan Utama Kerajaan Kutai
Peninggalan Kerajaan Kutai yang paling fundamental dan menjadi rujukan utama seluruh buku sejarah Indonesia adalah Prasasti Yupa. Yupa adalah tugu batu atau tiang batu yang didirikan oleh kaum Brahmana. Secara harfiah, Yupa berfungsi sebagai tiang untuk menambatkan hewan kurban (seperti sapi) yang akan dipersembahkan kepada para dewa dalam sebuah upacara keagamaan.
Hingga saat ini, para ahli arkeologi telah menemukan sebanyak 7 (tujuh) buah Yupa di daerah Muara Kaman. Ketujuh Yupa ini tidak ditemukan secara bersamaan, empat di antaranya ditemukan pada tahun 1879 oleh pekerja Belanda, sedangkan tiga lainnya ditemukan kemudian pada tahun 1940. Saat ini, ketujuh prasasti Yupa tersebut disimpan dan dirawat dengan baik di Museum Nasional (Museum Gajah) di Jakarta untuk menghindari pelapukan dan kerusakan akibat cuaca.
Isi Prasasti Yupa dan Maknanya
Tulisan yang terukir pada Yupa menggunakan huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Gaya penulisan huruf Pallawa pada Yupa Kutai ini memiliki kesamaan identik dengan aksara yang digunakan di India Selatan pada abad ke-4 Masehi. Hal inilah yang menjadi dasar bagi para ahli epigrafi (ilmu membaca tulisan kuno) untuk menentukan angka tahun berdirinya kerajaan ini.
Salah satu isi prasasti Yupa yang paling terkenal menceritakan tentang kedermawanan Sang Raja. Dalam prasasti tersebut tertulis bahwa Raja Mulawarman telah menyumbangkan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana di tempat suci yang bernama Waprakeswara.
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku monumental Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, menegaskan maknanya:
"Pemberian 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana menunjukkan bahwa Kerajaan Kutai pada masa pemerintahan Mulawarman telah mencapai tingkat kemakmuran ekonomi yang luar biasa. Angka yang fantastis ini membuktikan bahwa peternakan dan pertanian telah berkembang pesat, didukung oleh lalu lintas perdagangan di Sungai Mahakam."
Corak Agama Kerajaan Kutai (Hindu)
Yupa dengan jelas memberikan petunjuk mengenai corak keagamaan yang dianut oleh Kerajaan Kutai, yakni agama Hindu beraliran Siwa. Kesimpulan ini ditarik dari penyebutan kata Waprakeswara di dalam prasasti. Waprakeswara dalam ajaran Hindu merujuk pada sebuah lapangan suci atau tempat pemujaan yang didedikasikan untuk Dewa Siwa.
Adanya kaum Brahmana yang memimpin upacara keagamaan dan melakukan ritual pengorbanan juga memperkuat bukti bahwa sistem kasta dan ajaran Weda dari India telah diadaptasi dengan baik oleh masyarakat Kutai kala itu.
Tanpa adanya Yupa, sejarah awal Nusantara mungkin akan tetap gelap dan terkubur dalam mitos. Fungsi peninggalan Kerajaan Kutai sangatlah vital. Prasasti ini bertindak sebagai "mesin waktu" yang memberikan data primer (sumber pertama) bagi para peneliti.
Yupa mengungkapkan informasi multi-dimensi: dari aspek politik (sistem kerajaan yang menggantikan sistem kepala suku), aspek sosial (keberadaan golongan Brahmana dan Ksatria), hingga aspek ekonomi (peternakan sapi yang melimpah dan perdagangan sungai yang aktif).
Baca juga: Bukan Tempat Jin Buang Anak, Kalimantan Sempat Jadi Pusat Pemerintahan Kerajaan Kutai
Raja-Raja Kutai dalam Peninggalan Sejarah
Peninggalan Kerajaan Kutai berupa Yupa juga berfungsi sebagai dokumen silsilah (genealogi) yang menceritakan tiga generasi kepemimpinan di Kutai Martadipura, yaitu:
- Kudungga: Disebut sebagai raja pertama. Menariknya, nama Kudungga adalah nama asli Nusantara, bukan nama India. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa Kudungga, pengaruh Hindu baru mulai masuk dan belum sepenuhnya meresap ke dalam tradisi pemberian nama keluarga.
- Aswawarman: Merupakan putra Kudungga. Yupa menyebut Aswawarman sebagai Wamsakarta atau "pembentuk keluarga" (pendiri dinasti). Penggunaan akhiran "Warman" yang berasal dari bahasa Sansekerta membuktikan bahwa pada masa ini, pengaruh Hindu telah mengakar kuat dalam struktur kerajaan. Ia disamakan dengan Dewa Matahari (Ansuman).
- Mulawarman: Merupakan putra Aswawarman dan cucu Kudungga. Ia adalah raja terbesar Kutai yang membawa kerajaan menuju puncak keemasan. Mulawarman dikenal sebagai raja yang beradab, kuat, dan sangat dermawan terhadap kaum Brahmana.
Peran Kerajaan Kutai dalam Sejarah Indonesia
Peran Kerajaan Kutai dalam kanon sejarah Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Kutai adalah pintu gerbang "Indianisasi" (masuknya budaya India) di Indonesia. Letaknya di pedalaman Kalimantan Timur membuktikan bahwa jalur perdagangan internasional pada masa kuno tidak hanya terpusat di Selat Malaka atau Laut Jawa, tetapi juga menjangkau wilayah Timur Nusantara hingga ke Filipina dan Tiongkok.
Kutai Martadipura meletakkan dasar bagi sistem monarki absolut di Indonesia, sebuah sistem pemerintahan terpusat yang kelak akan diteruskan oleh kerajaan-kerajaan besar lainnya seperti Tarumanegara, Sriwijaya, dan Majapahit.
Pentingnya Melestarikan Peninggalan Sejarah
Situs Muara Kaman dan wujud fisik prasasti Yupa adalah harta karun tak ternilai bangsa Indonesia. Pelestarian cagar budaya ini diatur secara ketat oleh negara. Mempelajari dan menjaga peninggalan sejarah bukan sekadar upaya merawat benda mati, melainkan menjaga memori kolektif bangsa. Generasi muda, pelajar, dan mahasiswa harus menyadari bahwa identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar, toleran, dan beradab telah dibentuk sejak 1.600 tahun yang lalu di tepian Sungai Mahakam.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa peninggalan Kerajaan Kutai dengan Yupa sebagai primadonanya merupakan bukti absolut berdirinya kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Prasasti ini tidak hanya menceritakan silsilah raja dari Kudungga hingga Mulawarman, tetapi juga merekam tingkat kemakmuran ekonomi dan kedalaman nilai spiritual masyarakatnya.
Sebagai wujud apresiasi, kunjungilah museum-museum sejarah, pelajari literatur masa lalu, dan jadikan sejarah sebagai cermin untuk melangkah ke masa depan. Menjawab pertanyaan di awal artikel; terbukti bahwa titik awal peradaban Nusantara bukanlah sebuah narasi kosong, melainkan sebuah realitas historis yang telah diukir dengan pahatan kebanggaan, emas kedermawanan, dan tata krama yang tinggi oleh para leluhur kita di Kutai Martadipura.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa peninggalan Kerajaan Kutai yang paling terkenal?
Peninggalan yang paling terkenal dan menjadi bukti sejarah utama adalah Prasasti Yupa, yakni berupa 7 tugu batu yang berisi tulisan beraksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta.
2. Di mana letak Kerajaan Kutai?
Kerajaan Kutai Martadipura terletak di wilayah Muara Kaman, tepatnya di tepian Sungai Mahakam, Provinsi Kalimantan Timur.
3. Siapa raja Kutai yang paling terkenal dalam sejarah?
Raja yang paling terkenal adalah Raja Mulawarman, cucu dari Kudungga. Ia membawa Kutai pada masa kejayaan dan sangat dermawan, dibuktikan dengan sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.
4. Apakah Kutai Martadipura sama dengan Kesultanan Kutai Kartanegara?
Berbeda. Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu yang berdiri pada abad ke-4 Masehi. Sedangkan Kutai Kartanegara awalnya adalah kerajaan di era yang lebih muda (berdiri abad ke-13) yang kemudian bercorak Islam (Kesultanan) dan akhirnya menaklukkan sisa-sisa wilayah Martadipura.
Sumber Referensi:
- Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. (2008). Sejarah Nasional Indonesia Jilid II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Jejak Peradaban Kutai Martadipura.
- Casparis, J.G. de. (1975). Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to c. A.D. 1500. Leiden: E.J. Brill.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber