Dari Nelayan Damai Menjadi Penguasa Laut Perairan Maluku: Awal Mula Bajak Laut Tobelo dan Galela
INDOZONE.ID - Bagi penggemar kisah bajak laut seperti dalam film Pirates of the Caribbean atau petualangan kru Topi Jerami dalam One Piece, dunia perompak identik dengan kapal layar, pertempuran laut, dan perebutan kekuasaan di samudra.
Namun cerita serupa ternyata pernah benar-benar terjadi di Nusantara.
Di wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara, masyarakat Tobelo dan Galela pernah berubah dari komunitas nelayan damai menjadi kelompok bajak laut yang ditakuti di perairan timur Indonesia.
Kampung Nelayan di Ujung Halmahera
Berabad-abad lalu, Tobelo dan Galela dikenal sebagai dua komunitas nelayan yang hidup dari laut. Mereka tinggal di pesisir utara Halmahera dan menggantungkan kehidupan pada hasil tangkapan ikan.
Baca juga: Sosok Ching Shih, Bajak Laut Wanita Memimpin 70.000 Awak Kapal yang Tak Pernah Kalah
Walau memiliki adat, pemimpin, dan budaya berbeda, kedua komunitas ini tetap hidup berdampingan.
Mereka memiliki kepercayaan bahwa nenek moyang mereka diciptakan oleh Jou Giki Moi, sehingga setiap konflik biasanya diselesaikan melalui hukum adat.
Aturan Laut yang Disebut Canga
Salah satu sistem unik dalam kehidupan mereka adalah konsep Canga.
Canga merupakan wilayah tangkapan ikan yang dimiliki oleh kelompok nelayan tertentu. Jika seseorang memasuki wilayah tersebut tanpa izin, ia harus memberikan kompensasi adat kepada pemilik wilayah.
Aturan ini menjaga keseimbangan kehidupan laut selama bertahun-tahun.
Namun kedamaian itu akhirnya terganggu oleh ancaman dari luar.
Baca juga: Jack Sparrow di Dunia Nyata: Dari Bajak Laut Tak Bermoral, Jadi Mualaf
Serangan Bajak Laut dari Filipina
Ketika jalur perdagangan internasional mulai ramai, datanglah perompak dari wilayah utara, khususnya dari Kepulauan Filipina.
Kelompok yang paling terkenal adalah bajak laut Balangingi dan Mindanao.
Mereka menyerang desa-desa pesisir, membakar perahu nelayan, merampok harta, dan menculik penduduk untuk dijadikan budak.
Serangan brutal ini membuat masyarakat Tobelo dan Galela terpukul. Banyak penduduk meninggalkan kehidupan laut dan memilih pindah ke daratan untuk bertani.
Ekspedisi Yo Canga Canga
Untuk mengantisipasi ancaman yang lebih besar, masyarakat Tobelo dan Galela kemudian merencanakan ekspedisi besar.
Mereka membangun kapal yang disebut Yo Canga Canga dan berlayar mencari tempat baru jika kampung mereka jatuh ke tangan perompak.
Namun perjalanan itu justru membawa mereka bertemu dengan kelompok bajak laut Balangingi dan Mindanao.
Pertempuran sengit terjadi di sebuah tempat bernama Jere.
Kesalahpahaman yang Mengubah Sejarah
Dalam pertempuran tersebut, para pelaut Tobelo dan Galela berhasil memenangkan pertempuran.
Namun terjadi kesalahpahaman. Para bajak laut Filipina mengira bahwa pelaut Halmahera itu ingin bergabung menjadi bajak laut.
Kesalahpahaman ini memunculkan gagasan baru di kalangan pelaut Tobelo dan Galela.
Mereka mulai berpikir bahwa untuk bertahan di laut yang keras, mereka harus menjadi sekuat para perompak itu.
Dari sinilah awal mula munculnya kelompok bajak laut dari Halmahera yang kelak ditakuti banyak pihak di perairan timur Nusantara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Facebook