INDOZONE.ID - Tahukah kamu bahwa Pulau Jawa merupakan tonggak awal pendidikan kedokteran di Indonesia? Sejarah ini bermula pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda ketika berbagai wabah penyakit melanda wilayah tersebut.
Pada paruh kedua abad ke-18 hingga awal abad ke-19, tingkat kematian penduduk di Jawa meningkat drastis hingga melampaui batas normal. Kondisi ini dipicu oleh merebaknya sejumlah epidemi dan endemi penyakit berbahaya, seperti Cacar, Kolera, Disentri, dan Demam tifoid. Wabah-wabah tersebut menyebar luas di berbagai wilayah dan menyebabkan banyak korban jiwa di kalangan penduduk pribumi.
Situasi kesehatan masyarakat yang semakin memburuk membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda mencari solusi. Mereka kemudian meminta nasihat dari seorang mantan petugas kesehatan bernama Willem Bosch.
Pada 22 Desember 1844, Willem Bosch diangkat sebagai Perwira Kelas I sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Hindia Belanda. Sebelumnya, ia pernah bertugas sebagai diploma scheepsheelmeester, yaitu tenaga kesehatan di kapal. Atas kontribusinya dalam bidang kesehatan, Bosch juga dianugerahi gelar kehormatan eeredoctoraat in de genees- en heelkunde (doktor kehormatan dalam ilmu kedokteran) oleh Universiteit Utrecht pada 14 Mei 1845.
Baca juga: Sekolah Raja: Alat Kontrol Pemerintah Kolonial Berkedok Pendidikan
Setelah diangkat sebagai kepala dinas kesehatan, Bosch ditugaskan untuk meneliti kondisi kesehatan masyarakat pribumi yang saat itu banyak terserang penyakit menular. Dalam laporannya kepada pemerintah kolonial, ia menyampaikan bahwa masyarakat pribumi sangat membutuhkan bantuan medis yang lebih sistematis.
Bosch kemudian mengusulkan agar pemerintah melatih penduduk pribumi menjadi tenaga kesehatan. Usulan tersebut mendapat dukungan dari Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen. Selain membantu meningkatkan layanan kesehatan masyarakat, kebijakan ini juga dianggap mampu menghemat anggaran pemerintah kolonial yang selama ini harus mendatangkan dokter dari Eropa dengan biaya sangat besar.
Pada masa itu, sebagian besar masyarakat pribumi masih mengandalkan pengobatan tradisional dari dukun atau orang pintar untuk menyembuhkan penyakit. Pemerintah kolonial berupaya menggantikan praktik tersebut dengan memperkenalkan tenaga kesehatan baru dari kalangan pribumi yang memiliki pengetahuan medis Barat.
Bosch juga mendorong agar penduduk pribumi dilatih menjadi mantri cacar, yakni tenaga medis yang bertugas melakukan vaksinasi terhadap penyakit cacar. Langkah ini dinilai penting karena wabah cacar saat itu merupakan salah satu penyebab utama tingginya angka kematian.
Akhirnya, gagasan Bosch mulai diwujudkan. Pada 2 Januari 1849, pemerintah kolonial mengeluarkan keputusan resmi bernama Gouvernementsbesluit No. 22. Keputusan tersebut menetapkan sebanyak 30 pemuda dari suku Jawa untuk dididik menjadi tenaga kesehatan sekaligus vaksinator di berbagai rumah sakit militer di Pulau Jawa.
Langkah ini kemudian berkembang lebih jauh dengan berdirinya lembaga pendidikan kedokteran bagi pribumi. Pada 1 Januari 1851, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah dokter Jawa bernama Onderwijs van Inlandsche élèves voor de geneeskunde en vaccine yang berlokasi di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta.
Untuk menarik minat masyarakat pribumi, pemerintah kolonial menawarkan berbagai fasilitas, termasuk beasiswa dan dukungan pendidikan bagi para siswa. Persyaratan masuk sekolah ini juga relatif sederhana, yaitu berasal dari keluarga Jawa yang dianggap baik serta mampu membaca dan menulis dalam bahasa Melayu.
Baca juga: MULO: Sekolah Elite Zaman Kolonial yang Jadi Cikal Bakal SMA Favorit Sekarang
Masa pendidikan di sekolah dokter Jawa ini berlangsung selama dua tahun. Para siswa dilatih untuk memiliki keterampilan vaksinasi sekaligus pengetahuan medis dasar agar mampu membantu masyarakat yang terkena penyakit seperti demam, infeksi, dan berbagai penyakit menular lainnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, para siswa kemudian mengikuti upacara kelulusan resmi. Pada 23 Maret 1853, lulusan pertama dari lembaga pendidikan ini memperoleh gelar Dokter Djawa. Angkatan pertama tersebut berjumlah 11 orang, dan semuanya berasal dari Pulau Jawa.
Prosesi pemberian gelar dilakukan secara formal, mirip dengan upacara kelulusan mahasiswa kedokteran di Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan tersebut tidak hanya dianggap sebagai vaksinator atau mantri cacar semata, tetapi juga sebagai tenaga medis yang memiliki peran penting dalam sistem kesehatan kolonial.
Kehadiran para Dokter Djawa ini kemudian menjadi tonggak awal berkembangnya pendidikan kedokteran di Indonesia. Dari sinilah lahir generasi tenaga medis pribumi yang kelak memainkan peran penting dalam perkembangan dunia kesehatan di Nusantara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Neliti.com