INDOZONE.ID - Tradisi puasa di Indonesia bukan sekadar kewajiban agama.
Di balik ritual menahan lapar dan haus, ada lapisan budaya, akulturasi lokal, dan warisan leluhur yang berbeda-beda di tiap daerah.
Praktik puasa dan bukber di Jawa, Sulawesi, atau Papua bisa punya warna yang sangat berbeda, meski dasarnya sama.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara, menyebut fenomena ini sebagai hasil pertemuan nilai global, nasional, dan lokal.
Ia menambahkan praktik bukber punya ciri khas tersendiri di tiap daerah.
"Tradisi puasa mencerminkan akulturasi budaya dan religiusitas masyarakat Indonesia. Studi mendalam terhadap tradisi ini dapat memperkaya wawasan serta memperkuat pelestarian budaya," ujar Herry dikutip dari laman BRIN, Minggu (8/3/2026).
Baca juga: Fakta atau Mitos: Inhaler Pas Puasa Batalin Puasa Nggak Sih?
Baca juga: Apa Itu Puasa Pati Geni? Tradisi Jawa yang Sarat Makna Spiritual
Herry juga mendorong para peneliti untuk mulai mendokumentasikan tradisi-tradisi puasa lokal yang belum banyak tercatat.
Menurutnya, beberapa di antaranya berpotensi diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Bukber” yang kerap kali dimeriahkan oleh masyarakat muslim Indonesia, bahkan di beberapa negara muslim ketika ramadan tiba, telah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.
Hal tersebut diungkap oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti. Ia menyampaikan bahwa tradisi buka bersama adalah fenomena budaya yang lahir dari ekspresi keberagamaan umat muslim dunia.
Menurutnya, praktik ini menunjukkan bagaimana ajaran agama dapat menjadi sumber nilai yang menginspirasi lahirnya budaya yang diterima di kehidupan masyarakat.
“Ini adalah sumbangan yang sangat besar dari negeri kita. Budaya bukber tidak hanya menjadi khazanah baru bagi tradisi Islam Indonesia, tapi juga telah menjadi warisan budaya dunia,” katanya.
Sejumlah negara muslim seperti Turki, Uzbekistan, Azerbaijan, dan beberapa negara muslim lainnya ternyata juga mengenal tradisi buka bersama di negaranya.
“Namun, pelaksanaan buka bersama di beberapa negara tersebut tentu memiliki corak yang berbeda. Hal ini karena budaya merupakan ekspresi dari pandangan hidup masyarakat, yang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama sekaligus konteks sosial, budaya, serta situasi dan kondisi di masing-masing negara,” jelasnya.
Kemudian, merujuk kepada sumber Hadist, Mu’ti menegaskan bahwa mulanya praktik ini tak lepas dari ajaran agama islam.
Mu’ti menjelaskan, agama tidak hanya menjadi sumber ajaran spiritual, namun juga menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menciptakan budaya yang hidup dalam keseharian.
“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan: Ketika berbuka ia bergembira dengan berbukanya, dan ketika bertemu dengan Rabb-nya, ia bergembira karena puasanya,” ujar Mu’ti, mengutip Hadist Riwayat Muhammad, diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Selanjutnya, ia menambahkan sumber hadist lain tentang keutamaan memberi makan orang yang berpuasa.
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga,” tegasnya menambahkan Hadist Riwayat Tirmidzi.
Dalam ajaran itu, kemudian berkembang hingga saat ini praktik sosial berupa buka puasa bersama yang dilakukan masyarakat secara luas.
Bukber Kbhinekaan KeIndonesiaan
Dalam konteks Indonesia, Mu’ti menilai bahwa tradisi bukber di Indonesia kini bahkan melampaui batas komunitas keagamaan. Buka bersama di Indonesia sering kali diikuti oleh berbagai kalangan, bahkan pemeluk agama lain, sehingga hal ini menjadi ruang kebersamaan dan silaturahmi di tengah keberagaman masyarakat.
“Buka bersama di Indonesia tidak hanya milik umat Islam. Bahkan pemeluk agama lain juga turut memeriahkan dan menyelenggarakannya sebagai arena social gathering, arena untuk berbagi suka dan kebahagiaan,” ungkap Mu’ti.
Karena itulah, Mu’ti menyebut tradisi ini sebagai contoh nyata “vernakularisasi Islam” yakni ketika ajaran agama diamalkan dalam kehidupan nyata masyarakat dengan ekspresi budaya yang khas dan kontekstual.
“Inilah contoh ketika agama dimaknai dengan pendekatan kultural. Maka ia bisa menjadi tradisi yang diterima semua kalangan, tradisi yang ternyata telah memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia,” pungkas Mu’ti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN, Muhammadiyah