Stonehenge. (Picasa/Joanna Gburzyriska)
INDOZONE.ID - Benarkah Stonehenge merupakan kalender kuno? Selama berabad-abad, Stonehenge telah menjadi subjek perdebatan para peneliti mengenai tujuan pembangunannya.
Melansir laman Live Science, Sabtu (07/03/2026) sebuah studi pada tahun 2022 sempat mengklaim bahwa situs ikonik di Inggris ini berfungsi sebagai kalender surya kuno.
Namun, benarkah demikian? Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Antiquity memberikan jawaban yang berbeda.
Baca juga: Tradisi Bukber Era Modern yang Perlu Diperhatikan: Salah Satunya Tidak Berlebihan dan Memberatkan
Teori sebelumnya yang dikemukakan oleh Profesor Timothy Darvill dari Universitas Bournemouth menyebutkan bahwa Stonehenge adalah kalender surya dengan 356,25 hari, mirip dengan sistem penanggalan modern.
Ia berpendapat bahwa 30 batu tegak di lingkaran utama mewakili 30 hari dalam sebulan, sementara lima trilithon di bagian dalam melambangkan lima hari tersisa dalam setahun.
Akan tetapi, interpretasi ini ditolak oleh ahli matematika Giulio Magli dan astronom Juan Antonio Belmonte.
Mereka menyatakan bahwa temuan tersebut didasarkan pada analogi yang dipaksakan dan numerologi yang tidak memiliki bukti kuat.
Baca juga: Deretan Asteroid Terbesar yang Pernah Diteliti, Termasuk Letaknya di Tata Surya
Menurut mereka, desain Stonehenge tidak cukup akurat untuk menjalankan fungsi sebagai perangkat pengukur waktu atau kalender raksasa.
Meskipun menyangkal fungsi kalender, para ilmuwan tidak membantah bahwa Stonehenge berkaitan dengan fenomena langit. Monumen ini memiliki keselarasan yang sangat jelas dengan titik balik matahari musim panas dan musim dingin.
Giulio Magli menjelaskan bahwa keselarasan ini lebih bersifat simbolis daripada fungsional. Alih-alih digunakan untuk menghitung hari, orientasi terhadap posisi matahari ini kemungkinan besar berkaitan dengan ritual keagamaan prasejarah.
Lalu, apa fungsi utama Stonehenge jika bukan sebagai kalender? Para arkeolog cenderung berpendapat bahwa situs ini merupakan bagian dari lanskap upacara prasejarah yang dibangun untuk mengenang orang mati.
Hasil penggalian menunjukkan bahwa berbagai bagian dari kompleks megalitik ini telah digunakan sebagai lokasi pemakaman selama ratusan tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Live Science