Senin, 02 MARET 2026 • 13:05 WIB

Engku Mohamma Sjafei, Pelopor Pendidikan Pribumi dari Sumatera Barat yang Luput dari Spotlight

Author

Engku Mohammad Sjafei (wikimedia.org).

INDOZONE.ID - Kalau kita menyebut tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara menjadi nama yang paling sering muncul. 

Padahal, di Sumatera Barat, ada seorang tokoh pendidik yang gagasannya sama berani bahkan terasa sangat modern untuk ukuran zamannya. 

Ia ialah Engku Mohammad Sjafei (sering ditulis Mohammad Sjafei/Syafei). Ia tidak hanya bicara soal “sekolah untuk pribumi”. 

Ia menciptakan sekolah yang membentuk manusia utuh yang bisa berpikir, bekerja, dan berkarakter. 

Dan sekolah itu lahir pada 31 Oktober 1926 di Kayutanam dalam wujud Indonesische-Nederlandsche School Kayutanam.

Baca juga: Sejarah Syair Tombo Ati dan Makna Lima Obat Hati

Di masa Hindia Belanda, pendidikan modern memang ada tetapi aksesnya sempit. Atmosfernya pun sering membuat pribumi merasa “tamu” di negerinya sendiri. 

Banyak sekolah diarahkan untuk menghasilkan pegawai yang terampil, patuh, dan tidak banyak bertanya. 

Mohammad Sjafei melihat masalah yang lebih dalam: sekolah yang hanya mengejar nilai dan jabatan telah melahirkan generasi yang pintar tapi tidak merdeka. 

Makanya, ia membayangkan sekolah yang berbeda. Baginya, belajar tidak boleh hanya di kepala, tapi juga harus turun ke tangan dan membentuk hati.

INS Kayutanam didirikan sebagai sekolah alternatif bukan mengikuti pakem kolonial, melainkan menawarkan cara belajar yang lebih hidup. 

Baca juga: Sejarah dan Makna Sakral Tembok Ratapan di Yerusalem yang Dikaitkan dengan Tembok Ratapan Solo

Dalam berbagai tulisan akademik tentangnya, INS sering digambarkan sebagai ruang pendidikan yang menyatukan kemandirian, keterampilan, seni, dan pembentukan karakter.  

INS Kayutanam dikenal menekankan tiga pilar yang sering diringkas sebagai tangan, otak, dan hati sebuah konsep yang terasa dekat dengan pendidikan modern berbasis kompetensi dan karakter.

Kurikulum yang “Aneh” untuk Zamannya 

Bayangkan sekolah yang menjadikan seni, musik, kerja tangan, eksperimen, dan pengalaman lapangan sebagai bagian serius dari pendidikan, bukan sekedar ekstrakurikuler semata. 

Sjafei mengembangkan kurikulum inovatif yang menekankan pengalaman lapangan dan eksperimen, serta memelopori pendidikan dasar dalam seni dan musik.  

Di sini “sekolah” tidak berhenti pada papan tulis. Anak diarahkan untuk belajar membuat, mencoba, memperbaiki, lalu belajar lagi. 

Baca juga: Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia, Ini 4 Teori yang Perlu Diketahui

Mereka tidak hanya disiapkan untuk menjadi pegawai. Mereka disiapkan untuk punya daya hidup. 

Kalau hari ini kita bicara “project-based learning” atau “life skills”, pendekatan INS Kayutanam terasa seperti versi awalnya lahir hampir seabad lalu.

Mengapa Nama Mohammad Sjafei Tidak Seviral Tokoh Lain?

Ada beberapa alasan yang bikin nama Sjafei sering terlewat di ruang publik:

Ia bergerak jauh dari pusat narasi Jawa-sentris. Banyak cerita pendidikan nasional populer berpusat pada Batavia–Yogyakarta–Surabaya. 

Sementara Kayutanam “tidak selalu masuk frame”.Ia tidak dibungkus simbol politik besar yang mudah dijadikan slogan. 

Baca juga: Dari Dinas Code hingga menjadi Badan Siber dan Sandi Negara

Sjafei bekerja lewat institusi pendidikan dan praktik harian, bukan lewat panggung.

Warisan pemikirannya banyak tersimpan dalam jejak sekolah dan tulisan-tulisan pendidikan, bukan dalam mitos heroik yang sering dipopulerkan.

INS Kayutanam dan Gagasan “Merdeka Belajar” yang Datang Terlalu Cepat

Ada satu hal yang bikin kisah Sjafei terasa dekat dengan zaman sekarang: ia percaya pendidikan harus membuat orang mandiri dan berjiwa merdeka, bukan sekadar lulus. 

Sebuah kajian tentang INS menyebut tujuan pendidikan di INS adalah mendidik anak agar dapat mandiri atas usaha sendiri dan memiliki jiwa yang merdeka. 

Baca juga: Mengapa Korea Selatan Gak Akur Sama Jepang dan China? Alasan Knetz Gak Dibantu saat Ribut dengan Seablings

Ia membangun sekolah yang membuat murid berdaya di kepala, di tangan, dan di nurani. 

Dan mungkin, itu jenis pendidikan yang selalu kita cari dari dulu sampai sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Sejarah

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU