Sabtu, 21 MARET 2026 • 12:00 WIB

Makna Sugeng Riyadi dalam Budaya Jawa Saat Lebaran, Termasuk Filosofi Memaafkan dalam Budaya Jawa

Author

Ilustrasi sugeng riyadi dalam lebaran budaya Jawa (Freepik)

INDOZONE.ID - Lebaran bukan sekedar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momentum mempererat silahturahmi dan saling memaafkan. Khususnya buat kamu yang memiliki keturunan suku Jawa, tentunya paham dengan makna dari kata 'Sugeng Riyadi'. 

Dalam budaya Jawa, ucapan “Sugeng Riyadi” menjadi bagian penting dari tradisi tersebut. Ungkapan ini sarat nilai kesopanan, kerendahan hati, dan penghormatan kepada sesama.

Berikut makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya seperti yang dikutip dari beberapa situs, salah satunya studiokado.co.id.

1. Arti Sugeng Riyadi dalam Bahasa Jawa

Secara bahasa, “Sugeng Riyadi” berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa.

Sugeng berarti selamat atau sejahtera.

Riyadi berasal dari kata “riyaya” yang berarti hari raya.

Baca juga: Arti Mimpi Lebaran Idul Fitri, Benarkah Jadi Sinyal Kabar Baik?

Dengan demikian, “Sugeng Riyadi” dapat dimaknai sebagai “Selamat Hari Raya.” Dalam konteks Lebaran, ucapan ini biasanya merujuk pada Hari Raya Idulfitri dan menjadi bentuk doa agar seseorang memperoleh keselamatan, kebahagiaan, dan keberkahan.

2. Makna “Sedoyo Lepat Nyuwun Pangapunten”

Ungkapan ini hampir selalu menyertai ucapan Sugeng Riyadi.

Sedoyo lepat berarti segala kesalahan.

Nyuwun pangapunten berarti memohon maaf.

Baca juga: Tradisi Mitoni: Ritual Kehamilan Tujuh Bulan dalam Budaya Jawa

Kalimat ini mencerminkan kerendahan hati dan kesadaran diri. Dalam budaya Jawa, meminta maaf bukan hanya formalitas, tetapi bagian dari etika sosial untuk menjaga harmoni. Permohonan maaf disampaikan dengan tulus sebagai upaya membersihkan hati dan mempererat hubungan kekeluargaan.

3. Tingkatan Bahasa Jawa dalam Ucapan Lebaran

Bahasa Jawa memiliki tingkatan tutur (unggah-ungguh basa) yang menunjukkan rasa hormat.

  • Ngoko: digunakan kepada teman sebaya atau yang sudah akrab.
  • Krama Madya: digunakan dalam situasi semi-formal.
  • Krama Inggil: digunakan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

Dalam konteks Lebaran, umumnya digunakan bahasa krama atau krama inggil sebagai bentuk penghormatan, terutama kepada orang tua, guru, dan tokoh masyarakat. Pemilihan tingkat bahasa mencerminkan nilai tata krama yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.

4. Contoh Ucapan Sugeng Riyadi yang Sopan dan Menyentuh

Ilustrasi sugeng riyadi dalam lebaran budaya Jawa (Freepik)

Ada beberapa ucapan Sugeng Riyadi yang sopan dan menyentuh. Berikut beberapa contoh ucapan yang bisa digunakan:

Baca juga: Sejarah Tunjangan Hari Raya yang Jadi Tradisi Saat Lebaran: Protes Buruh dan Strategi Politik Orde Lama

“Sugeng Riyadi, minal aidin wal faizin, sedoyo lepat nyuwun pangapunten.”

“Sugeng Riyadi, mugi tansah pinaringan sehat, berkah, lan kabagyan.”

“Sugeng Riyadi, nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan kula, ingkang disengaja utawi boten.”

Ucapan-ucapan tersebut tidak hanya menyampaikan selamat, tetapi juga doa dan harapan baik bagi penerimanya.

5. Alternatif Ucapan Lebaran Bahasa Jawa

Selain 'Sugeng Ruyadi' terdapat beberapa alternatif ucapan lain, seperti:  

“Sugeng Riyaya Idulfitri.”

“Sugeng Lebaran, mugi rahayu lan tentrem.”

“Minal aidin wal faizin, nyuwun pangapunten lahir lan batin.”

Baca juga: 6 Tradisi Bulan Rajab di Jawa, Bentuk Warisan Budaya yang Bermakna

Penggunakan kata-kata seperti rahayu (keselamatan) dan tentrem (kedamaian) memperkaya makna spiritual dalam ucapan Lebaran. 

6. Filosofi Saling Memaafkan dalam Tradisi Jawa

Dalam tradisi Jawa, harmoni sosial (rukun) menjadi nilai utama. Lebaran menjadi momen untuk memperbaiki hubungan, menghapus dendam, dan mempererat persaudaraan.

Saling memafkan bukan sekedar ucapan, tetapi juga tindakan nyata untuk menjaga keseimbangan batin dan hubungan sosial. Prinsip ini selaras dengan ajaran untuk hidup penuh tenggang rasa, andhap asor atau rendah hati, dna tepa selira atau menghargai perasaan orang lain. 

Karena itu, Sugeng Riyadi bukan hanya selamat, melainkan doa dan simbol niat tulus untuk memulai lembaran baru dengan hati yang bersih dan hubungan yang lebih baik. 

Nah, itulah penjelasan dari Sugeng Riyadi. Silahkan bisa digunakan saat mudik dan bertemu dengan keluarga. 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU