Selasa, 27 JANUARI 2026 • 21:15 WIB

Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia: Di Mana Letaknya dan Bagaimana Sejarahnya?

Author

Kerajaan Kutai. (Sampoerna Academy)

INDOZONE.ID - Sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh besar peradaban luar yang masuk secara bertahap melalui jalur perdagangan, kebudayaan, dan agama. 

Salah satu pengaruh paling awal dan signifikan adalah masuknya agama Hindu, yang kemudian melahirkan sistem kerajaan sebagai bentuk pemerintahan terorganisasi. 

Dari berbagai kerajaan yang pernah berdiri di Nusantara, terdapat satu kerajaan yang diakui sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia. 

Baca juga: Asal Usul Santet di Indonesia, Ilmu Hitam yang Berakar dari Era Kerajaan Nusantara: Tradisi dan Persaingan Sosial

Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Kutai, yang berlokasi di wilayah Kalimantan Timur. 

Keberadaannya sangat penting dalam sejarah awal Nusantara karena menandai peralihan dari masyarakat prasejarah menuju peradaban yang mengenal tulisan, sistem kekuasaan, dan agama terstruktur. Berikut penjelasannya.

Prasasti Yupa sebagai Bukti Sejarah Awal

Prasasti Yupa. (Museum Nasional)

Keberadaan Kerajaan Kutai diketahui berkat ditemukannya Prasasti Yupa pada tahun 1879. Prasasti ini ditemukan di daerah sekitar Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, dan menjadi bukti tertulis tertua dalam sejarah Indonesia. 

Yupa sendiri merupakan tugu atau tiang batu yang pada masa itu digunakan sebagai penanda kegiatan keagamaan, khususnya upacara persembahan atau sedekah.

Jumlah Prasasti Yupa yang ditemukan sebanyak tujuh buah. Isi prasasti tersebut memuat informasi mengenai silsilah raja-raja Kutai, kegiatan keagamaan, serta pujian terhadap penguasa yang memerintah saat itu. 

Baca juga: Lapisan Sosial Kerajaan Makassar: Dari Bangsawan Anakarung hingga Rakyat Merdeka

Keberadaan prasasti ini sangat penting karena menjadi dasar penentuan usia dan corak kebudayaan Kerajaan Kutai.

Yang membuat Prasasti Yupa semakin bernilai historis adalah bahasa dan aksara yang digunakan. Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sanskerta menggunakan aksara Pallawa. 

Bahasa Sanskerta dikenal luas sebagai bahasa suci dalam ajaran Hindu dan Buddha, sedangkan aksara Pallawa berasal dari India Selatan dan digunakan sekitar abad ke-4 Masehi. 

Kombinasi ini menjadi bukti kuat bahwa Kerajaan Kutai telah menerima pengaruh Hindu secara langsung dari India.

Letak Geografis Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai diperkirakan berdiri pada sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Wilayahnya berada di sepanjang Sungai Mahakam, salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Kalimantan Timur. 

Sungai Mahakam memiliki peran vital dalam kehidupan masyarakat Kutai karena menjadi jalur transportasi, perdagangan, dan komunikasi antarwilayah.

Letak geografis ini memberikan keuntungan besar bagi Kerajaan Kutai. 

Sungai Mahakam menghubungkan daerah pedalaman dengan wilayah pesisir, sehingga memudahkan interaksi dengan para pedagang dari luar Nusantara, termasuk dari India. 

Melalui jalur inilah pengaruh budaya, agama, dan sistem pemerintahan Hindu mulai masuk dan berkembang di wilayah Kutai.

Asal-usul Kerajaan Kutai Martapura

Dalam catatan sejarah, Kerajaan Kutai dikenal dengan nama Kutai Martapura. Nama ini merujuk pada pusat pemerintahan kerajaan yang diyakini berada di wilayah Martapura. 

Tokoh awal yang berperan dalam pembentukan kerajaan ini adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti, meskipun secara struktural kerajaan didirikan oleh Raja Aswawarman.

Aswawarman merupakan putra Kudungga, seorang pemimpin lokal atau kepala suku. Nama Kudungga dianggap mencerminkan budaya asli Nusantara, karena tidak memiliki unsur India atau Hindu. 

Hal ini menunjukkan bahwa pada awalnya masyarakat Kutai masih menganut sistem kepemimpinan lokal sebelum menerima pengaruh luar.

Masuknya agama Hindu membawa perubahan besar dalam struktur sosial dan politik masyarakat Kutai. Sistem kesukuan perlahan berubah menjadi sistem kerajaan yang lebih terorganisasi. 

Raja Aswawarman kemudian dikenal sebagai wangsakerta, yaitu tokoh pembentuk dinasti kerajaan. 

Sejak saat itu, garis keturunan raja-raja Kutai mulai mengikuti tradisi Hindu, termasuk penggunaan gelar dan tata pemerintahan bercorak India.

Struktur Sosial dan Kehidupan Keagamaan

Seiring berkembangnya pengaruh Hindu, struktur sosial masyarakat Kutai mulai mengenal sistem kasta, meskipun penerapannya tidak seketat di India. 

Dalam Prasasti Yupa disebutkan adanya peran brahmana sebagai golongan pendeta yang memimpin upacara keagamaan dan memiliki kedudukan terhormat di kerajaan.

Agama Hindu menjadi landasan utama kehidupan spiritual Kerajaan Kutai. Upacara keagamaan, persembahan, dan sedekah menjadi bagian penting dalam kehidupan kerajaan. 

Raja tidak hanya berperan sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai pelindung agama dan penjaga keseimbangan kosmis.

Masa Kejayaan Kerajaan Kutai

Puncak kejayaan Kerajaan Kutai Martapura terjadi pada masa pemerintahan Raja Mulawarman, putra Raja Aswawarman. 

Nama Raja Mulawarman dikenal luas karena kedermawanannya yang luar biasa, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Yupa.

Dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan sedekah dalam jumlah besar kepada para brahmana, berupa emas, minyak, lampu, dan sekitar 20.000 ekor lembu. 

Jumlah ini menunjukkan tingkat kemakmuran kerajaan sekaligus kekuatan ekonomi yang dimiliki Kutai pada masa itu.

Raja Mulawarman digambarkan sebagai pemimpin yang adil dan dekat dengan seluruh lapisan masyarakat. Ia dihormati oleh semua golongan kasta, mulai dari brahmana hingga sudra. 

Bahkan, dalam beberapa penafsiran, Raja Mulawarman disamakan dengan Dewa Surya atau Dewa Matahari, simbol kekuasaan, kemakmuran, dan keadilan.

Sebagai bentuk rasa terima kasih, para brahmana mendirikan Prasasti Yupa untuk mengenang jasa dan kebesaran Raja Mulawarman. 

Hal ini menunjukkan hubungan harmonis antara penguasa dan tokoh agama, yang menjadi salah satu faktor utama stabilitas dan kejayaan Kerajaan Kutai.

Kehidupan Ekonomi dan Perdagangan

Selain kuat secara politik dan keagamaan, Kerajaan Kutai juga berkembang dalam bidang ekonomi. 

Letaknya yang strategis di sepanjang Sungai Mahakam memungkinkan kerajaan ini menjadi pusat perdagangan regional. Hasil hutan, pertanian, dan peternakan menjadi komoditas utama yang diperdagangkan.

Hubungan dagang dengan wilayah lain di Nusantara maupun dengan pedagang asing turut memperkaya kerajaan. 

Interaksi ini tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga mempercepat proses akulturasi budaya dan penyebaran agama Hindu.

Faktor Penyebab Kemunduran Kerajaan Kutai

Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Kutai Martapura mulai mengalami kemunduran. Perubahan politik di berbagai wilayah Nusantara, terutama di Pulau Jawa, turut memengaruhi stabilitas kerajaan. 

Migrasi penduduk dan masuknya kekuatan politik baru menimbulkan persaingan dan konflik.

Pada abad ke-13, Kerajaan Kutai Martapura yang dipimpin Raja Dharma menghadapi serangan dari Kerajaan Kutai Kartanegara. 

Kerajaan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Pangeran Sinom Panji Mendapa, yang memiliki kekuatan militer lebih besar dan dukungan politik yang kuat.

Pertempuran antara kedua kerajaan tersebut berakhir dengan kekalahan Kutai Martapura. Seluruh wilayah kekuasaannya kemudian jatuh ke tangan Kutai Kartanegara. Sejak saat itu, Kutai Martapura tidak lagi berdiri sebagai kerajaan berdaulat.

Perubahan Menjadi Kutai Kartanegara ing Martadipura

Setelah kemenangan Kutai Kartanegara, terjadi perubahan besar dalam struktur pemerintahan dan penamaan wilayah. 

Kerajaan baru tersebut dikenal dengan nama Kutai Kartanegara ing Martadipura. Meskipun demikian, warisan Kerajaan Kutai Martapura tidak sepenuhnya hilang.

Nilai-nilai budaya, sistem pemerintahan, serta tradisi keagamaan yang telah berkembang sebelumnya tetap menjadi bagian dari identitas wilayah Kutai. 

Dengan kata lain, Kutai Kartanegara melanjutkan tongkat estafet sejarah dari kerajaan Hindu tertua di Indonesia.

Warisan Sejarah Kerajaan Kutai bagi Indonesia

Kerajaan Kutai memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Keberadaan Prasasti Yupa menjadi bukti awal dikenalnya tulisan di Nusantara, yang menandai berakhirnya masa prasejarah dan dimulainya masa sejarah.

Selain itu, Kerajaan Kutai menunjukkan bagaimana proses akulturasi budaya terjadi secara damai melalui perdagangan dan interaksi sosial. 

Pengaruh Hindu tidak serta-merta menghapus budaya lokal, melainkan berpadu dan melahirkan bentuk peradaban baru yang khas Nusantara.

Kerajaan Kutai bukan hanya dikenal sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia, tetapi juga sebagai fondasi awal peradaban sejarah Nusantara. Warisan Kerajaan Kutai hingga kini tetap menjadi bagian penting dari identitas sejarah Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan Penulis

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU