INDOZONE.ID - Di tengah Kota Tokyo, dikelilingi oleh gedung pencakar langit menjulang tinggi dan jalan-jalan yang ramai, terdapat Kuil Yasukuni.
Kuil ini merupakan tempat perlindungan yang tenang yang telah menjadi simbol peringatan dan kontroversi.
Keberadaanya didedikasikan untuk arwah mereka yang telah mati demi Jepang dalam dinas. Kuil ini telah menjadi tonggak patriotisme dan identitas nasional, namun juga telah menjadi sumber perselisihan internasional yang panas.
Asal-usul Yasukuni dapat ditelusuri kembali ke Restorasi Meiji tahun 1868, ketika Jepang memulai periode modernisasi dan ekspansi yang cepat.
Baca juga: Konflik Berkepanjangan Kashmir, Babad India dan Bangladesh Memperebutkan Secuil Surga
Kuil ini didirikan pada tahun 1869 untuk mengenang para prajurit yang gugur dalam Perang Boshin, sebuah konflik yang menggulingkan keshogunan Tokugawa feodal dan usher di era modern pemerintahan kekaisaran.
Seiring meningkatnya ambisi militer Jepang, jumlah tentara yang diabadikan di Yasukuni juga meningkat.
Pada akhir Perang Dunia II, daftar kuil tersebut mencakup lebih dari 2,4 juta nama, termasuk nama-nama penjahat perang yang telah dihukum dan pelaku kekejaman yang dilakukan selama perang.
Salah satu aspek paling kontroversial dari Kuil Yasukuni adalah penempatan roh para penjahat perang kelas pertama dan kedua di dalamnya.
Baca juga: Kiprah NU di Masa Penjajahan: Dari Politik Non-Kooperatif hingga Pendidikan Melawan Belanda
Ini termasuk 14 tokoh utama yang dihukum oleh Sekutu karena kejahatan perang pasca-Perang Dunia II.
Beberapa dari mereka yang menjadi sumber kontroversi di Kuil Yasukuni adalah:
- Hideki Tojo (1884–1948): Jenderal Tojo adalah Perdana Menteri Jepang selama sebagian besar Perang Dunia II dan dianggap sebagai salah satu tokoh utama dalam perencanaan dan pelaksanaan agresi militer Jepang. Ia dieksekusi oleh Sekutu setelah perang.
- Isoroku Yamamoto (1884–1943): Laksamana Yamamoto adalah komandan angkatan laut Jepang selama Perang Dunia II dan dianggap sebagai arsitek dari serangan ke Pearl Harbor. Ia tewas dalam sebuah serangan udara Sekutu pada tahun 1943.
Baca juga: Petisi Sutardjo: Harapan yang Ditolak, Namun Menginspirasi Gerakan Nasional
- Akira Mutō (1883–1948): Sebagai panglima pasukan ekspedisi Jepang di Tiongkok selama Perang Tiongkok-Jepang Kedua, Mutō terlibat dalam berbagai operasi militer yang kontroversial. Ia dieksekusi setelah perang karena kejahatan perang.
- Heitaro Kimura (1888–1945): Jenderal Kimura adalah komandan pasukan Jepang yang terlibat dalam invasi ke Manchuria dan beberapa kampanye militer di Asia Timur. Ia dieksekusi oleh Sekutu pada tahun 1948.
- Iwane Matsui (1878–1948): Jenderal Matsui memimpin pasukan Jepang selama invasi ke Nanjing pada tahun 1937, yang kemudian dikenal sebagai Pembantaian Nanjing. Ia dihukum mati oleh pengadilan militer internasional setelah perang.
Baca juga: Mengenal Tiga Prinsip Rakyat: Warisan Sun Yat-sen yang Membentuk Tiongkok Modern
Penempatan roh mereka di Kuil Yasukuni telah menjadi sumber ketegangan dan protes, terutama dari negara-negara seperti Tiongkok dan Korea Selatan yang merasa terkena dampak langsung dari tindakan agresi militer Jepang pada masa lalu.
Ketika pejabat tinggi Jepang, khususnya Perdana Menteri, mengunjungi Kuil Yasukuni , hal ini memicu reaksi negatif dari negara-negara tetangga.
Tiongkok dan Korea Selatan melihat kunjungan semacam itu sebagai tindakan yang menunjukkan kurangnya penyesuaian Jepang terhadap sejarah perangnya.
Mereka juga merasa diabaikan dalam proses rekonsiliasi.
Kunjungan ke Kuil Yasukuni tidak hanya menimbulkan ketegangan dengan Tiongkok dan Korea Selatan, tetapi juga dengan negara-negara lain di kawasan Asia Timur.
Ini menciptakan kesulitan dalam upaya membangun hubungan diplomatik yang stabil, menghambat kerja sama regional, dan menambah lapisan kompleksitas dalam geopolitik Asia.
Dalam masyarakat Jepang, pendapat tentang Kuil Yasukuni sangat bervariasi.
Meskipun sebagian besar orang mungkin menghormati niat awal kuil untuk menghormati para pahlawan perang, ada juga kelompok yang menuntut transparansi sejarah dan pertanggungjawaban atas kebijakan penempatan roh yang kontroversial.
Baca juga: Mengenang G30S/PKI: Fakta Autopsi yang Ungkap Derita 7 Pahlawan Revolusi
Usulan untuk meredakan kontroversi seputar Kuil Yasukuni tidak selalu mendapatkan dukungan yang kuat.
Beberapa menginginkan pemisahan antara aspek keagamaan dan kebangsaan kuil.
Namun ada juga resistensi dari mereka yang merasa hal itu akan merusak tradisi dan makna kuil.
Kuil Yasukuni adalah simbol yang kompleks dan kontroversial yang mewakili berbagai hal bagi orang-orang yang berbeda.
Bagi sebagian orang, itu adalah tempat suci untuk menghormati para pahlawan yang telah gugur.
Baca juga: Tragedi Kelam G30S 1965: Salah Satu Insiden yang Menimbulkan Trauma Perpecahan
Bagi yang lain, itu adalah simbol dari masa lalu militeristik Jepang dan penyangkalan kekejaman yang dilakukan selama perang.
Kontroversi seputar Yasukuni kemungkinan akan terus berlanjut, karena Jepang terus mencari cara untuk mendamaikan masa lalunya dengan masa kini dan masa depannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Spokesman.com