Senin, 08 SEPTEMBER 2025 • 20:30 WIB

Riwayat Hidup K.H.R. Asnawi: Ulama Kudus Nahdlatul Ulama yang Kharismatik dan Berprinsip Teguh

Author

K.H.R. Asnawi (sumber: Arsip Nahdlatul Ulama)

INDOZONE.ID - K.H.R. Asnawi adalah seorang ulama terkemuka asal Kudus yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam tradisional di Indonesia, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). K.H.R. Asnawi lahir sekitar tahun 1861 di Damaran, Kudus, dengan nama kecil Ahmad Syamsyi. Ia dibesarkan dalam keluarga yang menghargai pendidikan agama dan perdagangan. Beliau mulai belajar agama sejak kecil dan dilatih dalam perdagangan oleh ayahnya. Namun, Syamsyi lebih memilih mendalami agama di pondok pesantren, menunjukkan ketekunannya dalam menimba ilmu agama.

Syamsyi berganti nama beberapa kali setelah menunaikan haji. Nama terakhir, K.H.R. Asnawi, dikenal luas sebagai tokoh Ahlussunnah Waljama’ah di Kudus. Sebagai seorang ulama yang teguh, Asnawi terkenal memiliki prinsip hidup yang keras dalam menghadapi penjajahan. Ia melarang segala bentuk meniru budaya penjajah dan berkomitmen kuat pada nilai-nilai Islam.

Baca juga: Takbir dan Swastika: Hubungan Nazi Jerman dan Islam pada Perang Dunia Kedua

Asnawi berdakwah di berbagai daerah di Jawa dan aktif dalam pertemuan ulama nasional dari tahun 1926 hingga 1956. Selain itu, beliau sering mengikuti diskusi agama selama mukim di Haramain. Dalam perjuangan dakwahnya, ia dikenal sebagai ulama yang membumi, rutin bersilaturahmi dengan sanak saudara dan murid-muridnya. Sikap ramah ini membuatnya dihormati oleh masyarakat luas.

Nahdlatul Ulama (NU) resmi didirikan pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 M oleh sejumlah ulama terkemuka, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan K.H.R. Asnawi. Peran K.H.R. Asnawi tidak terlepas dari pengaruh kuat yang ia peroleh selama menimba ilmu di Mekah. Bersama ulama Jawa lainnya yang tergabung dalam komunitas “jawah,” K.H.R. Asnawi membangun jaringan ulama yang berperan penting dalam mengembangkan Islam tradisional di Indonesia.

K.H.R. Asnawi Ulama NU (sumber: Arsip Nahdlatul Ulama)

Kontribusi Asnawi juga terlihat dalam pembentukan Nahdlatul Tujjar, sebuah koperasi pedagang yang diinisiasi oleh KH Wahab Hasbullah pada 1918. Ketika Madrasah Taswirul Afkar berdiri pada 1919 di Surabaya, Asnawi terus mendukung pengembangan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam tradisional. Kehormatan yang diberikan KH Wahab Hasbullah kepada Asnawi sebagai kiai sepuh menunjukkan pentingnya peran K.H.R. Asnawi dalam diskusi-diskusi kritis, terutama dalam merespons gerakan reformasi Islam yang berkembang pada masa itu, seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persis.

Perjuangan K.H.R. Asnawi tidak berhenti saat NU hanya berfungsi sebagai organisasi sosial-keagamaan. Ketika NU bertransformasi menjadi partai politik, Asnawi turut menjadi juru kampanye (jurkam) yang sangat berpengaruh. Setelah NU memutuskan untuk berpisah dari Masyumi pada Muktamar di Palembang, 26 April 1952, K.H.R. Asnawi aktif mengampanyekan NU, termasuk dalam kampanye besar di alun-alun Yogyakarta. Dengan pakaian khas sarung, jubah putih, dan surban, ia mengajak umat Islam mendukung NU dalam pemilihan umum 1955.

Baca juga: NU dan Muhammadiyah, Dua Organisasi Keagamaan yang Saling Melengkapi dalam Membangun NKRI

Dukungan ulama seperti Asnawi membuat NU berhasil meraih 18,4% suara, menjadi partai ketiga terbesar setelah PNI dan Masyumi. Di wilayah Jawa Timur, kantong utama NU, prestasi ini menjadi bukti nyata pengaruh politik dan keagamaan yang dimiliki Asnawi. Dedikasinya pada NU, baik dalam aspek keagamaan maupun politik, meninggalkan warisan berharga yang terus dikenang oleh umat Islam Indonesia.

Wafat pada 26 Desember 1959, Asnawi tetap mengingat Allah hingga detik-detik terakhir hidupnya. Kisah hidupnya menunjukkan integritas dalam menjaga ajaran Islam dan pengabdian yang tulus bagi umat. Warisan beliau tidak hanya ada dalam ajaran keagamaan, tetapi juga dalam nilai-nilai etika dan keteladanan yang dihormati hingga sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Doi.org, Ejournal.undip.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU