Ilustrasi Pasukan Nazi dan Korps SS Turki Timur
INDOZONE.ID - Perang Dunia Kedua dikenal sebagai salah satu masa kelam sejarah umat manusia. Dengan korban jiwa mencapai 40–60 juta orang, kekejaman yang terjadi nyaris tak terbayangkan. Namun, di balik bayang-bayang kengerian itu, ada fakta sejarah yang jarang dibahas: kolaborasi antara Nazi Jerman dengan beberapa pihak dari Dunia Arab dan Islam.
Keterkaitan Jerman dengan Dunia Islam ternyata sudah dimulai jauh sebelum Nazi berkuasa. Pada era Kekaisaran Jerman, mereka menguasai wilayah dengan populasi Muslim cukup besar di Afrika Timur, Togo, dan Kamerun. Di sana, Jerman memanfaatkan struktur kepemimpinan Islam lokal sebagai alat pemerintahan, selama pemimpin Muslim menerima legitimasi mereka.
Hubungan ini kemudian berkembang melalui diplomasi intelektual. Max von Oppenheim, seorang orientalis Jerman, berdiskusi dengan tokoh reformis Islam seperti Shakib Arslan dan Sultan Ottoman Abdülhamid II, menilai bahwa Pan-Islamisme bisa menjadi peluang politik bagi Jerman. Ketika Perang Dunia Pertama pecah, Jerman dan Ottoman membuat perjanjian rahasia pada 1914, termasuk fatwa jihad dari Syaikh Al-Islam untuk melawan kekuatan Entente (Inggris, Perancis, Rusia, dan lain-lain). Sayangnya, fatwa ini lebih banyak ditolak oleh umat Islam wilayah Entente, sehingga muncul ejekan “Jihad Made in Berlin.”
Baca juga: Kisah Kekalahan Memalukan Nazi di Oslofjord dalam Battle of Drøbak Sound
Adolf Hitler petinggi Nazi. (Dok. Pemerintah federal Amerika Serikat via Wikimedia Commons)
Meski kalah di Perang Dunia Pertama, hubungan antara Jerman dan dunia Arab tetap berlanjut. Banyak pemimpin Arab melihat Jerman sebagai kekuatan yang relatif tidak mengancam aspirasi nasional mereka. Pada era Nazi, Jerman kembali mencoba merangkul Dunia Islam, memanfaatkan sentimen anti-Britania dan anti-Prancis, serta menggaet simpati Arab-Muslim untuk mendukung Poros Jerman-Italia-Jepang.
Beberapa upaya nyata termasuk pembentukan unit-unit militer dan paramiliter Muslim, seperti:
Tentara Ostlegion dan Korps SS Turki Timur (terdiri dari tahanan Muslim Uni Soviet)
Divisi Muslim Waffen-SS Handschar di Bosnia (1943), didukung Mufti Besar Yerusalem, Mohammed Amin al-Husayni.
Namun, tujuan Jerman murni pragmatis: memanfaatkan dunia Islam untuk kepentingan perang, bukan memperjuangkan kemerdekaan Arab atau Muslim. Propaganda Nazi disesuaikan dengan aspirasi Arab-Muslim untuk melemahkan kekuatan kolonial Inggris-Prancis, tapi tetap berbasis strategi perang.
Seiring kekalahan Nazi di 1945, hubungan ini merenggang. Negara-negara Arab seperti Mesir, Irak, Arab Saudi, dan Turki memutuskan hubungan atau bahkan menyatakan perang melawan Nazi. Kolaborator Islam menghadapi nasib berbeda-beda:
Baca juga: Teori Konspirasi Adolf Hitler, Pemimpin Nazi Jerman yang Masuk Islam dan Meninggal di Sumbawa
Kisah ini menunjukkan sisi gelap dan kompleks hubungan internasional pada masa perang. Aliansi yang tampak logis secara strategis ternyata mengandung risiko besar bagi pihak yang terlibat. Bagi dunia Arab dan Islam, bekerjasama dengan Nazi adalah keputusan pragmatis yang penuh konsekuensi, sementara Jerman memanfaatkan setiap peluang untuk kepentingan perang tanpa peduli nasib kolaboratornya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Britannica