INDOZONE.ID - Awal abad ke-20 menjadi masa perubahan besar di Hindia Belanda. Pendidikan mulai dibuka bagi pribumi, meskipun masih terbatas untuk kalangan laki-laki. Sementara itu, perempuan sering dipandang hanya pantas berada di rumah, tanpa kesempatan mengenyam sekolah tinggi. Dalam suasana inilah muncul gagasan baru: bagaimana jika perempuan juga diberi ruang untuk belajar dan berorganisasi?
Gagasan itu datang dari dr. Wahidin Sudirohusodo, tokoh pergerakan yang sebelumnya juga menginspirasi lahirnya Boedi Oetomo. Dengan dukungan Boedi Oetomo, pada tahun 1912 di Batavia lahirlah sebuah organisasi yang khusus ditujukan bagi kaum perempuan: Putri Mardika. Nama ini dipilih untuk menegaskan cita-cita agar perempuan Indonesia menjadi mandiri, berpengetahuan, dan bebas dari belenggu ketertinggalan.
Baca juga: Perjuangan Perempuan Indonesia: Pendidikan sebagai Senjata Melawan Ketidakadilan
Setelah berdiri, Putri Mardika langsung bergerak nyata. Pada 1913, mereka mendirikan Asrama Putri untuk menampung pelajar perempuan pribumi yang ingin melanjutkan pendidikan. Langkah ini revolusioner, karena saat itu hanya sedikit perempuan yang diizinkan bersekolah. Setahun kemudian, 1914, Putri Mardika meluncurkan majalah berjudul Putri Mardika. Melalui tulisan-tulisan di majalah ini, mereka membahas isu pendidikan, kesehatan, hingga hak perempuan, sekaligus melawan anggapan bahwa suara perempuan tak pantas terdengar di ruang publik.
Tidak berhenti di situ, Putri Mardika juga menyediakan beasiswa dan mendorong lahirnya diskusi-diskusi tentang peran perempuan dalam masyarakat. Dari gerakan kecil inilah tumbuh kesadaran baru, yang kelak menginspirasi lahirnya organisasi perempuan lain di tahun 1920-an hingga bermuara pada Kongres Perempuan Indonesia 1928.
Baca juga: Kongres Perempuan 1928: Saat Suara Perempuan Menggema dalam Pergerakan Nasional
Kisah Putri Mardika adalah kisah awal mula emansipasi di Indonesia. Dari langkah pertama mereka, kita belajar bahwa perjuangan perempuan bukan sekadar ikut serta, melainkan menjadi bagian penting dari sejarah bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal.sekawansiji.org