INDOZONE.ID - Perang Asia Timur Raya, yang lebih dikenal dengan nama Perang Pasifik, dipicu oleh penyerangan Jepang di Pearl Harbor, Hawai.
Setelah menyerang Pearl Harbor, tentara Jepang mendarat di Indonesia dan berhasil mengusir Belanda yang saat itu menduduki wilayah Nusantara. Kedatangan Jepang disambut meriah oleh rakyat Indonesia, karena Jepang dinilai berhasil mengakhiri penjajahan Belanda sekaligus mengaku sebagai "saudara tua" yang siap melindungi Indonesia.
Baca juga: MULO: Sekolah Elite Zaman Kolonial yang Jadi Cikal Bakal SMA Favorit Sekarang
Sejarah Singkat Pembentukan PETA
Pada akhir tahun 1942, pihak Sekutu melakukan serangan balik terhadap Jepang, yang membuat Jepang kewalahan dalam mempertahankan wilayahnya.
Pada tanggal 3 Oktober 1943, pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) diumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia melalui Osamu Seirei No. 44 oleh Letnan Jenderal Kumakichi Harada.
Tujuan PETA awalnya adalah untuk mempertahankan wilayah Jepang dari serbuan Sekutu. Namun, rakyat Indonesia melihat pembentukan PETA sebagai langkah awal persiapan menuju kemerdekaan.
Tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang terlibat dalam PETA antara lain Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, Raden Gatot Mangkoepraja, serta Haji Agus Salim.
Pangkat dalam PETA
Tingkatan dalam ketentaraan PETA meliputi:
- Daidancho (Komandan Batalyon): diberikan kepada orang-orang berpengaruh di kalangan pribumi.
- Chudanco (Komandan Kompi): berasal dari golongan pribumi yang sudah bekerja, tetapi tidak setara dengan guru atau juru tulis.
- Shodanco (Komandan Peleton): berasal dari kalangan pelajar pribumi.
- Bundancho (Komandan Regu): untuk pribumi yang menamatkan Sekolah Dasar (SD).
- Giyuhei (Prajurit): bagi kalangan yang belum mendapatkan kesempatan bersekolah.
Baca juga: Kontribusi Jong Java dalam Menggerakkan Semangat Nasionalisme
Pemantik Kemerdekaan Indonesia
Bagi Indonesia, pembentukan PETA menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan. Melalui latihan yang diterima para tentara PETA, rakyat Indonesia memperoleh pengetahuan tentang kemiliteran, teori taktik tempur, dan gerakan pertempuran. Hasil didikan ini mempersiapkan para pemuda untuk memimpin pertempuran di lapangan.
PETA menjadi kekuatan awal yang kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan akhirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Perjuangan PETA dalam membela tanah air menjadi sumber semangat bagi rakyat Indonesia, khususnya tentara, untuk terus menjaga kedaulatan dan keamanan bangsa dari ancaman dalam maupun luar negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Journal.upy.ac.id