INDOZONE.ID - Wu Zetian adalah sosok legendaris dalam sejarah Tiongkok. Ia dikenal sebagai satu-satunya kaisar wanita yang berhasil memegang kekuasaan penuh dan memberi pengaruh besar dalam peradaban Tiongkok. Namun, pandangan para ahli mengenai dirinya sangat beragam. Sebagian menilainya sebagai wanita hina, kejam, bahkan tidak bermoral. Lalu, benarkah Wu Zetian pantas disebut sebagai kaisar “bejat” dan “tidak bermoral”?
Tuduhan Kebejatan
Catatan pertama mengenai “kebejatan” Wu Zetian muncul dalam Dài xú jìngyè chuánxí tiānxià wén karya Luo Binzhu. Dalam tulisannya, Luo menggambarkan Wu Zetian sebagai sosok berhati dingin tanpa kelembutan. Awalnya, Wu Zetian adalah selir Kaisar Tang Taizong. Namun, setelah sang kaisar wafat, ia justru menjadi permaisuri bagi putra Taizong, yaitu Kaisar Tang Gaozong. Tindakan ini dianggap bertentangan dengan etika dan moral saat itu, sehingga dicap sebagai bentuk “kecabulan”.
Selain itu, Ouyang Xiu dalam tulisannya juga menuduh Wu Zetian memiliki hubungan dengan dua pria, Xue Huaiyi dan Zhang Yizhi, yang digambarkan sebagai selir laki-laki sang kaisar wanita. Tulisan-tulisan ini populer pada zamannya dan kerap dijadikan bukti untuk mendukung citra “nafsu” Wu Zetian. Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh novel, drama, hingga opera, yang membuat gambaran negatif ini semakin meluas. Padahal, banyak dari tuduhan itu tidak sepenuhnya meyakinkan.
Jika ditelusuri, tuduhan tersebut lemah. Hubungan Wu Zetian dengan Kaisar Gaozong bukanlah sesuatu yang sepenuhnya melanggar norma, karena saat itu ia berada pada posisi pasif. Adapun Xue Huaiyi dan Zhang Yizhi lebih berperan sebagai penasihat politik ketimbang pasangan asmara. Bahkan, Wu Zetian sudah berusia hampir 70 tahun saat dikenal dekat dengan mereka. Maka, sulit dibayangkan bahwa di usia senja ia digerakkan oleh “nafsu” seperti yang dituduhkan.
Tuduhan Kekejaman
Selain dituduh bejat, Wu Zetian juga kerap dilabeli “kejam”. Luo Binzhu, misalnya, menyebutnya sebagai “momok”, “serigala”, dan “pembunuh raja”. Sejumlah catatan menuduhnya tega membunuh putrinya sendiri demi menjebak Permaisuri Wang, hingga meracuni putra mahkota Li Hong untuk membuka jalan menuju tahta.
Namun, banyak bukti “kekejaman” tersebut berasal dari catatan yang ditulis oleh musuh-musuh politik Wu Zetian. Fitnah ini sengaja disebarkan untuk merusak reputasinya. Faktanya, sebagian besar tuduhan tidak didukung oleh bukti sejarah yang kuat.
Wu Zetian memang tokoh kontroversial, namun sulit untuk menyimpulkan bahwa ia benar-benar bejat atau kejam seperti yang digambarkan dalam catatan lawan politiknya. Sebaliknya, keberhasilannya menjadi satu-satunya kaisar wanita dalam sejarah Tiongkok membuktikan kecerdasan, strategi, dan kekuatannya dalam dunia politik yang keras.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Histweb.hkbu.edu.hk