Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti: Tempat Suci di Bukit Kasap yang Pernah Ditetapkan Sebanding Borobudur
INDOZONE.ID - Di balik sejuknya lereng Bukit Kasap, Semarang, berdiri sebuah tempat sakral yang mungkin belum banyak diketahui anak muda: Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti. Tapi siapa sangka, vihara ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga menyimpan kisah sejarah spiritual yang menyatukan umat Buddha dari berbagai penjuru dunia.
Awal Mula: Sebidang Tanah dan Sebuah Janji Spiritual
Ceritanya dimulai pada Tri Suci Waisak 2499 B.E., tepatnya tanggal 6 Mei 1955, saat seorang tokoh Buddhis bernama Ir. Sutopo (Goei Tjwan Ling) menyerahkan sebidang tanah di Bukit Kasap kepada Ashin Jinarakkhita. Tanah itu diserahkan bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk dijadikan pusat pengembangan Agama Buddha di Indonesia.
Ini jadi titik awal berdirinya Vihara Sima. Tiga tahun kemudian, Bhikkhu Narada Mahathera dari Sri Lanka hadir langsung untuk meresmikan vihara ini dan memberi nama “Vihara 2500 Buddha Jayanti”, bertepatan dengan peringatan 2500 tahun wafatnya Sang Buddha.
Baca juga: Makna Hari Waisak 2025: Cahaya Kelahiran Buddha, Misteri Naskah Kuno, dan Pesan Damai untuk Dunia
Saat Bukit Kasap Disejajarkan dengan Borobudur
Yang bikin momen ini makin spesial, relik Sang Buddha juga disematkan di vihara. Bhikkhu Narada bahkan menyebut nilai spiritual Bukit Kasap tak kalah penting dari Candi Borobudur.
Kemudian pada 21 Mei 1959, Sungai kecil yang mengelilingi bukit dijadikan batas suci atau “Sima”. Penetapan ini dihadiri oleh bhikkhu dari berbagai negara, seperti Myanmar, Thailand, Sri Lanka, Jepang, hingga Indonesia. Momen ini menandai Sima Internasional Kasap sebagai simbol persatuan umat Buddha lintas negara.
Pernah Jaya, Sempat Terlupakan, Kini Bangkit Lagi
Vihara Sima dulu jadi pusat pelatihan para bhikkhu dari 1955 sampai 1965. Tapi sayangnya, mulai 1970-an, aktivitas mulai meredup karena minimnya umat yang aktif. Baru pada tahun 2006, vihara mulai “dibangkitkan” lagi lewat riset sejarah dan pelestarian fisik bangunan.
Mulai 2019, pemugaran vihara dilakukan oleh Sangha Agung Indonesia, Yayasan Vajradwipa, dan Yayasan Buddhayana. Kini, vihara kembali hidup, jadi tempat tinggal anggota Sangha, pusat pelatihan meditasi, dan juga tempat singgah bhikkhu thudong dalam perjalanan spiritual menuju Borobudur.
Baca juga: Jejak Pendidikan di Indonesia pada Masa Hindu-Buddha
Jadi Ruang Ibadah, Edukasi, dan Spiritualitas Zaman Now
Sejak 2024, vihara ini juga mulai digunakan untuk masa vassa, yaitu masa pelatihan intensif selama tiga bulan bagi para bhikkhu. Semua ini menunjukkan bahwa Vihara Sima bukan cuma peninggalan sejarah, tapi juga masih sangat relevan dalam konteks spiritualitas zaman sekarang.
Nggak cuma buat umat Buddha, tempat ini juga terbuka untuk siapa pun yang ingin belajar hidup selaras, merenung, atau sekadar merasakan hening di tengah hiruk pikuk dunia digital.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung