Rabu, 09 JULI 2025 • 17:05 WIB

Dua Wajah Bandit Pulau Jawa di Masa Revolusi: Kiprah Penjahat dalam Perjuangan Indonesia Merdeka

Author

Polisi Batavia

INDOZONE.ID - Di masa revolusi Indonesia (1945-1949), bandit Jawa punya dua wajah. Mereka dianggap penjahat, tapi juga membantu perjuangan melawan Belanda. 

Fenomena unik ini disebut "pedang bermata dua". Penelitian sejarah mengungkap bagaimana kelompok kriminal justru jadi sekutu tak terduga bagi tentara Indonesia.

Bandit muncul akibat konflik agraria pada zaman Belanda. Pembukaan perkebunan besar merampas tanah rakyat. 

Sistem tanam paksa dan pajak yang tinggi memiskinkan petani. Banyak yang frustasi lalu beralih ke kriminalitas. Pencurian dan perampasan menjadi bentuk protes terhadap ketidakadilan.

Baca juga: Jauh Sebelum Covid Ternyata Jakarta Pernah Lumpuh oleh Berbagai Wabah, Begini Cara Pemerintah Kolonial Mengatasinya

Dari Petani Jadi "Jagoan"

Kelompok bandit terbagi dua: penjahat biasa dan "bandit sosial". Bandit sosial dianggap pahlawan lokal karena menyerang penguasa yang lalim. 

Misalnya, mereka merampas hasil perkebunan Belanda lalu membaginya ke rakyat miskin. Masyarakat memandang mereka sebagai pembela keadilan.

Saat revolusi pecah, bandit menghadapi pilihan, yaitu terus jadi penjahat atau bergabung dengan pejuang kemerdekaan. 

Tentara Indonesia melihat peluang strategis dari keberadaan para bandit. Bandit punya penguasaan medan, jaringan luas, dan keberanian. Mereka direkrut sebagai pasukan tambahan melawan Belanda.

Baca juga: Dari Kerang hingga Yuan: Sejarah Uang di Tiongkok Kuno

Kisah Para Bandit di Pulau Jawa

Di Jakarta, kelompok "jago" atau "centreng" ikut berperan. Awalnya mereka dikenal sebagai penjahat, tapi di revolusi membantu pergerakan nasionalis. 

Mereka menyusup, mencuri informasi, dan mengganggu logistik Belanda. "Jagoan" biasanya menjadi mata dan telinga para gerilyawan kota untuk mendapatkan informasi.

Daerah Pekalongan, Tegal, dan Brebes punya "kutil" dan "lenggaong". Kutil membentuk organisasi gerilya bernama AMRI. 

Tugas mereka menghadapi pengkhianat pro-Belanda. Sementara lenggaong lebih fokus pada aksi balas dendam. Keduanya bekerja sama dalam peristiwa Tiga Daerah.

Baca juga: Teknologi, Astronomi, dan Kertas: Warisan Hebat dari Dinasti Tang

Di Jawa Timur, bandit bernama Juwahir menjadi legenda. Dia merampas gudang Belanda lalu membagikan barangnya ke rakyat. 

Masyarakat Kediri memujinya sebagai pahlawan. Juwahir bahkan punya pasukan khusus berisi pencopet dan pelacur untuk misi spionase.

Meski membantu revolusi, motif bandit seringkali bersifat ekonomis. Mereka mendapat bayaran tinggi dan posisi strategis di militer. 

Bagi mereka, revolusi jadi kesempatan menjalankan aksi kriminal dengan "legitimasi". Sebagian lainnya hanya berpura-pura berjuang demi keuntungan pribadi.

Baca juga: Sastra Sangam: Puisi Cinta dan Perang dari Peradaban Tamil Kuno

Bandit Sosial vs Penjahat Biasa

Perbedaan dari bandit sosial dan penjahat biasa dapat jelas terlihat. Bandit sosial menarget penjajah dan dibela rakyat. Contohnya kutil di Pekalongan atau Juwahir di Kediri. 

Sementara bandit biasa merampok siapa saja, termasuk rakyat kecil. Di Surakarta, beberapa bandit malah menjarah keraton saat suasana kacau.

Usai revolusi, nasib bandit berujung pilu. Banyak yang kembali jadi penjahat dan ditangkap mantan sekutunya. 

Seperti di Tulungagung, bekas bandit revolusi ditembak aparat tahun 1970-an. Pengorbanan mereka terlupakan, hanya diingat sebagai kriminal.

Baca juga: Perang Puputan Bali: Kisah Perlawanan Tanpa Tanding yang Menginspirasi dari Generasi ke Generasi

Sejarawan Bebas Menilai

Para ahli sejarah berdebat, apakah bandit pahlawan atau pengacau? Mereka ibarat pedang bermata dua, bisa melukai musuh atau menggores pemegangnya.

Kisah bandit Jawa mengajarkan kepada kita bahwa sejarah punya banyak sisi. Apa yang tampak sebagai kejahatan bisa jadi bentuk perlawanan tertindas. 

Penelitian ini mengingatkan kita untuk tidak menghakimi masa lalu terlalu sederhana. Setiap aksi punya latarbelakang sosialnya sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Sejarah Citra Lekha

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU