Minggu, 15 JUNI 2025 • 18:05 WIB

Dari Kartini Sampai Era Digital: Gimana Perjalanan Panjang Gerakan Feminisme di Indonesia?

Author

Ilustrasi organisasi perempuan pertama “Putri Mardika” (sumber: wikipedia)

INDOZONE.ID - Kalau ngomongin soal feminisme, banyak yang langsung mikir ini cuma soal perempuan yang pengen setara sama laki-laki. Padahal, gerakan ini punya sejarah panjang banget di Indonesia dan nggak bisa dilepas dari perjalanan sosial, politik, dan budaya negeri ini. Dari zaman kolonial sampai era medsos sekarang, feminisme di Indonesia udah melewati banyak fase dan tantangan. Yuk, kita bahas perjalanannya!

Awal Mula: Gerakan Perempuan di Masa Kolonial

Gerakan feminisme di Indonesia udah dimulai sejak akhir abad ke-19, dan salah satu tokoh paling ikonik pastinya R.A. Kartini. Terinspirasi dari ketidakadilan yang ia alami sendiri, nggak bisa sekolah tinggi seperti saudara laki-lakinya, Kartini kemudian menyuarakan pentingnya pendidikan untuk perempuan. Nggak cuma ngomong doang, ia juga mendirikan sekolah buat perempuan agar mereka punya akses yang sama dalam belajar.

Tahun 1912, berdirilah organisasi perempuan pertama bernama Putri Mardika, yang tujuannya nggak jauh-jauh dari misi Kartini: dorong pendidikan dan kesetaraan gender. Tahun-tahun setelahnya, makin banyak organisasi serupa bermunculan, seperti PPII dan PPI. Mereka mulai berani bicara soal hal-hal penting kayak upah setara dan hukum perkawinan yang adil lewat Kongres Perempuan Indonesia.

Baca juga: Pemikir Emansipasi Wanita di Indonesia Abad 19, Ini Pemikiran R.A Kartini tentang Pendidikan

Pasca Kemerdekaan dan Orde Lama

Pasca kemerdekaan, semangat feminisme makin berkobar. Organisasi seperti GERWANI muncul dengan fokus pada partisipasi perempuan di ranah politik dan ekonomi. Bahkan, ada juga majalah-majalah perempuan yang terbit buat nyuarain aspirasi mereka. Nggak cuma di dapur, perempuan mulai hadir di parlemen dan ruang-ruang diskusi penting negara.

Tantangan di Masa Orde Baru

Tapi masa kejayaan itu sempat ngerem waktu era Orde Baru datang. Organisasi-organisasi perempuan independen mulai ditekan, dibatasi, bahkan dilarang. Yang tersisa cuma organisasi bentukan negara kayak Dharma Wanita dan PKK, yang lebih fokus ngajarin perempuan soal urusan domestik dibanding perjuangan kesetaraan.

Era Reformasi: Kebangkitan Kembali Gerakan Perempuan

Untungnya, saat era Reformasi dimulai, feminisme di Indonesia bangkit lagi. Muncul banyak LSM yang digawangi tokoh-tokoh keren seperti Ratna Sarumpaet dan Nursyahbani Katjasungkana. Mereka fokus pada perlindungan hukum buat perempuan, khususnya di isu kekerasan dan hak buruh perempuan. Nggak berhenti di situ, pendekatan gerakan pun makin kreatif: ada yang lewat edukasi, kampanye digital, bahkan aksi damai di jalanan.

Sekarang, feminisme di Indonesia makin luas jangkauannya. Isu-isu seperti body shaming, catcalling, sampai toxic masculinity mulai dibahas terbuka di media sosial. Generasi muda pun makin aktif ngangkat suara lewat thread Twitter, konten TikTok, atau diskusi di komunitas.

Baca juga: Fakta Princess Qajar, Simbol Kecantikan Wanita Persia Abad ke-19 yang Bikin Banyak Pria Bunuh Diri

Feminisme di Indonesia bukan cuma soal perempuan pengen naik kelas, tapi soal gimana kita semua, cowok, cewek, dan semua gender, punya hak yang sama buat hidup adil dan bebas dari diskriminasi. Dari Kartini sampai era digital, perjuangan ini belum selesai. Tapi satu yang pasti: feminisme akan selalu relevan selama masih ada ketidakadilan yang harus dilawan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, Jurnal Uinsgd

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU