Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 18 APRIL 2025 • 11:30 WIB

Kisah Tentara Kolonial di Hindia Belanda: dari Eropa, Pribumi, hingga Afrika

Kisah Tentara Kolonial di Hindia Belanda: dari Eropa, Pribumi, hingga AfrikaIlustrasi tentara kolonial di Hindia Belanda

INDOZONE.ID - Saat Belanda pertama kali datang ke Nusantara, tujuan utamanya cuma satu yaitu berdagang. Tapi semakin lama, mereka semakin dalam terlibat dalam urusan politik kerajaan-kerajaan lokal.

Dari sinilah cikal bakal pemerintahan kolonial Hindia Belanda mulai terbentuk. Tapi, kehadiran Belanda tentu nggak diterima begitu saja. Banyak daerah menolak, bahkan melawan dengan senjata.

Untuk meredam perlawanan itu, Belanda sadar mereka butuh pasukan militer yang kuat. Maka dimulailah perekrutan tentara secara besar-besaran.

Uniknya, tentara kolonial ini berasal dari berbagai latar belakang, ada yang dari Eropa, pribumi, bahkan dari Afrika.

Baca Juga: Di Zaman Kolonial, Pakai Narkoba Opium Legal di Indonesia: Sajian di Pesta Para Bangsawan hingga Alat Kontrol Masyarakat

Perekrutan Pribumi: Fokus di Beberapa Wilayah

Tentara pribumi jadi salah satu tulang punggung militer Hindia Belanda. Tapi, rekrutmen ini hanya dilakukan di daerah-daerah tertentu yang dinilai "loyal" ke Belanda, seperti Jawa, Minahasa, dan Ambon.

Misalnya di Minahasa, masyarakatnya dikenal pro-Belanda. Bahkan menurut Soeara Militair Minahasa tahun 1924, hubungan baik dengan pemerintah kolonial bikin pendidikan di sana berkembang pesat.

Tentara Eropa: Banyak yang Ilegal

Selain pribumi, tentara juga didatangkan langsung dari Eropa. Tapi jangan bayangin ini tentara elite. Banyak dari mereka justru mantan tentara yang kabur dari tugas alias desertir.

Mereka gabung ke militer Hindia Belanda karena nggak dikejar polisi militer Eropa di koloni. Ada juga yang disebut sebagai "tentara kubangan lumpur", alias tentara bermasalah yang dibuang ke koloni karena dianggap nggak berguna di Eropa.

Dikirim ke Daerah Rawan Pemberontakan

Tentara-tentara ini disebar ke wilayah-wilayah panas. Salah satunya Saparua, tempat terjadinya pemberontakan besar pada 1817. Rakyat marah karena Belanda kembali memberlakukan kerja paksa dan upeti.

Benteng Saparua diserbu, dan sebagian besar tentara Belanda tewas. Perlawanan ini baru bisa dipadamkan setelah para pemimpinnya ditangkap.

Perang Jawa: Krisis Tentara Eropa

Situasi makin parah saat meletus Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Taktik gerilya Diponegoro bikin Belanda kewalahan.

Dalam dua tahun, 8000 tentara Eropa dan 7000 tentara pribumi tewas. Akhirnya Belanda coba rekrut tentara dari Jerman. Tapi tetap aja, dari 3000 tentara yang dikirim ke Jawa, cuma 1000 yang selamat.

Baca Juga: Peran Pergundikan di Era Kolonial Hindia Belanda: Jadi Pengerak Perempuan dalam Tantanan Perekonomian

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Tentara Kolonial di Hindia Belanda: dari Eropa, Pribumi, hingga Afrika

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!