INDOZONE.ID - Pernahkah kamu bertanya, mengapa pers menjadi penting di era pergerakan nasional? Bercinta, berpadu, atau pun bergulat dengan birokrasi yang kian menjerat, sementara rakyat mencengkeram erat harapan untuk mendapat demokrat?
Bernostalgia bagaimana pembredelan pers dan jurnalisme merupakan hal wajar di masa lalu memberi petunjuk jelas bahwa pers membawa dampak besar bagi pembentukan pola pikir masyarakat dan ketakutan penguasa gemuk akan suatu pergerakan.
Jika berbincang mengenai pers, mari kita sambut Bataviase Nouvelles, surat kabar pertama di Hindia Belanda yang muncul pada tahun 1744.
Bataviase Nouvelles membawa redaksi realitas perdagangan yang dianggap mengancam keberadaan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) dan akhirnya dinonaktifkan tahun 1746.
Baca Juga: Kisah Kelam di Tanah Deli, Menguak Kehidupan Para Kuli Tembakau
Beranjak dari pers tersebut, lahir berbagai jenis pers berbahasa Belanda yang memuat kepentingan ekonomi di Hindia Belanda yang tentunya diawasi oleh pemerintah kolonial.
Pada masa ini, pers didominasi oleh orang-orang Eropa dan China, keterlibatan kaum bumiputra terbilang nihil. Pada masa ini disebut sebagai “Babak Putih Sejarah Pers Indonesia” atas kenihilan partisipasi kaum Bumiputra.
Sebagian mungkin bertanya, apa itu pers Bumiputra? Pers Bumiputra merupakan pers yang dikelola oleh kaum Bumiputra untuk kepentingan pribumi sendiri yang penulisannya menggunakan Bahasa Melayu atau bahasa daerah setempat.
Pers Bumiputra haruslah milik pribumi itu sendiri, bukan pers yang diterbitkan pemerintah Kolonial berbahasa daerah.
Baca Juga: Misteri Tali Pocong Penglaris: Kisah di Balik Warung yang Ramai tapi Bikin Merinding
Surat kabar Bromartani menjadi salah satu pemantik lahirnya Slompret Melajoe. Bromartani diterbitkan di Surakarta pada tahun 1855 oleh C.F Winter dan putranya berbahasa kromo inggil.
Setahun setelahnya (1856), Soerat Kabar Slompret Melajoe lahir di Surabaya menggunakan Bahasa Melayu yang berorientasi pada informasi komersial pedagang di Jawa Timur. Slompret Melajoe juga berkembang di wilayah Jawa Tengah, khususnya Semarang.
Surat kabar hasil peranakan komunitas Tionghoa ini membawa kompleksitas isu sosial-politik yang diusung oleh pemerintah Kolonial, dan juga dinamika sosial masyarakat pribumi-Tionghoa.
Slompret Melajoe yang awalnya mewartakan iklan dan laporan bisnis pedagang Tionghoa, kian menjadi salah satu media yang cukup vokal dan berani untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan kelompok masyarakat Tionghoa dan pribumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bihari: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Ilmu Sejarah