INDOZONE.ID - Pada masa kolonial Belanda, Hindia-Belanda mengalami perubahan sosial yang signifikan. Struktur masyarakat saat itu sangat kaku, dengan orang-orang Eropa menduduki kasta tertinggi, sementara pribumi berada di lapisan terbawah.
Namun, dinamika ini mulai berubah pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, salah satunya akibat Politik Etis yang membuka akses pendidikan bagi kaum pribumi.
Pendidikan ini menjadi pemicu lahirnya kebudayaan Indis, sebuah perpaduan unik antara budaya Barat dan lokal yang membentuk gaya hidup masyarakat Hindia-Belanda.
Baca Juga: Pengaruh Kebudayaan Tang pada Kemakmuran Periode Heian Jepang
Salah satu aspek yang paling kentara dalam kebudayaan Indis adalah gaya hidup, terutama dalam hal berpakaian.
Perempuan Belanda yang tinggal di Hindia-Belanda mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian sehari-hari karena kondisi iklim tropis yang panas dan lembab.
Namun, kebaya yang mereka pakai mengalami modifikasi dengan bahan lebih mahal, motif batik khas Eropa, serta tambahan renda dan brokat untuk menunjukkan status sosial mereka.
Sementara itu, pria pribumi yang mulai terpengaruh budaya Eropa mulai mengenakan jas dan dasi, memadukannya dengan bawahan kain batik.
Tak hanya dalam busana, kebudayaan Indis juga membawa perubahan dalam penggunaan bahasa. Masyarakat mulai menggunakan campuran bahasa Belanda dan Melayu, yang kemudian berkembang menjadi bahasa petjoek.
Bahasa ini umumnya digunakan oleh keluarga Indo-Belanda dan dipengaruhi oleh bahasa ibu masing-masing daerah.
Baca Juga: Peradaban Sungai Kuning: Membedah Asal Usul Kebudayaan Cina Kuno
Pengaruh lain dari Kebudayaan Indis yang masih dikenang hingga kini adalah konsep "rijsttafel" yakni cara makan khas yang diadopsi dari tradisi Eropa namun menggunakan hidangan Nusantara.
Rijsttafel biasanya disajikan di meja besar dengan puluhan pelayan yang menghidangkan beragam menu, seperti nasi goreng, lumpia, sate, dan semur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: KRINOK: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah FKIP UNJA