Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 25 APRIL 2024 • 16:14 WIB

Trem Serajoedal Stoomtram Maatschappij: Perkembangan Sarana Pengangkutan Produksi Tanam Paksa di Banyumas pada Akhir Abad ke-19

Trem Serajoedal Stoomtram Maatschappij: Perkembangan Sarana Pengangkutan Produksi Tanam Paksa di Banyumas pada Akhir Abad ke-19Trem Serajoedal Stoomtram Maatschappij.

INDOZONE.ID - Sistem Tanam Paksa yang digagas oleh Van den Bosch pada 1830 memberikan keuntungan bagi Kolonial Belanda. Hasil perkebunan tanaman komoditas ekspor selama abad ke-19 mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.

Namun, peningkatan hasil tanaman ekspor tersebut tidak sebanding dengan sarana transportasi yang tersedia. Untuk mengatasi permasalahan sarana transportasi tersebut, kemudian oleh Pemerintah Kolonial Belanda dibuat keputusan dan usaha pembangunan jalur perkeretaapian.

Jalur-jalur tersebut tersebar di beberapa wilayah tanam paksa, terutama di Pulau Jawa. Salah satunya adalah pembangunan jaringan perkeretaapian di Banyumas oleh Serajoedal Stoomtram Maatschappij.

Baca Juga: Menelusuri Sistem Tanam Paksa dan Era Liberalisme Akhir Abad 19: Perjuangan Masyarakat Jawa Melawan Kemiskinan

Awal Pembangunan Jaringan Trem Serajoedal Stoomtram Maatschappij

Pembangunan jaringan transportasi di Banyumas pada awalnya sudah dilakukan melalui jalur darat dan sungai-sungai.

Wilayah ini telah menjadi bagian dari jaringan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) yang menghubungkan Yogyakarta dan Cilacap sekitar tahun 1888 M (Basundoro, 2019).

Stasiun Maos yang berada di Cilacap terhubung dekat dengan Pelabuhan Cilacap. Jalur perkeretaapian tersebut digunakan untuk mengangkut produksi gula.

Kemudian, sejak diberlakukannya Undang-undang Agraria 1870, mengakibatkan bertambahnya perusahaan-perusahaan swasta di Hindia-Belanda, termasuk pada bisnis perkeretaapian.

Sejak saat itu, penanaman modal dan perusahaan-perusahaan perkebunan di Banyumas semakin memperlihatkan perkembangannya.

Kebutuhan sarana transportasi massal juga menjadi daya tarik bagi investor-investor asing untuk mendirikan jaringan kereta api.

Para investor asing tersebut mengajukan konsesi kepada pemerintah untuk membangun jalur perkeretaapian lokal di Banyumas, yakni dengan membentuk perusahaan bernama Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) atau Perusahaan Trem Uap Lembah Serayu.

Penggunaan nama tersebut didasarkan pada jalur yang dibangun hampir menyusuri Sungai Serayu dari hilir sampai hulu.

Perkembangan Trem Serajoedal Stoomtram Maatschappij

Perusahaan kereta api swasta dibangun dengan tujuan untuk mendistribusikan hasil produksi komoditas ekspor dan barang-barang kepentingan orang-orang Eropa.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pabrik gula yang menjadi bisnis utama di beberapa tempat wilayah Keresidenan Banyumas.

Dalam Serajoedal Stoomtram Maatschappij verslag over het Jaar 1895, disebutkan bahwa pada tanggal 24 April 1894, Ratu Belanda membuat surat keputusan yang berisi pengesahan rancangan akta pendirian NV. De Serajoedal Stoomtram Maatschappij (NV. SDS).

Kemudian, pada tanggal 30 April 1894, NV. SDS secara resmi didirikan dan bertempat di s’Gravenhage. Jenis kereta api yang digunakan adalah trem, karena rute yang dibangun adalah jenis rute jarak pendek.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Humaniora

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Trem Serajoedal Stoomtram Maatschappij: Perkembangan Sarana Pengangkutan Produksi Tanam Paksa di Banyumas pada Akhir Abad ke-19

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!