INDOZONE.ID - Lebaran Betawi merupakan sebuah tradisi yang memiliki akar sejarah panjang, bahkan sudah ada sejak masa pra-Islam.
Berdasarkan laman Kabar Betawi, Sabtu (11/04/2026) masyarakat Betawi pada masa lalu yang mayoritas berprofesi sebagai petani merayakan masa panen dengan ritual khusus sebagai bentuk rasa syukur.
Mengutip dari Kabar Betawi, perayaan ini dulunya merupakan upacara penutupan panen.
Dalam tradisi tersebut, masyarakat mempersembahkan sesuatu kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan.
Baca juga: Fenomena Lebaran Dadakan 1987, Sahur Berubah Jadi Hari Raya
Tradisi ini kemudian mengalami penyesuaian ketika Islam mulai berkembang di wilayah Betawi.
Nilai-nilai yang sudah ada tetap dipertahankan, tetapi diselaraskan dengan ajaran Islam, sehingga melahirkan bentuk perayaan yang dikenal hingga saat ini.
Dalam konteks budaya Betawi, Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai kembali suci, tetapi sebagai momen untuk mengingat asal-usul dan leluhur.
Salah satu praktik yang masih dilakukan adalah ziarah kubur atau “ngored”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, ziarah menjadi bentuk komunikasi simbolis antara generasi sekarang dengan para pendahulu.
Baca juga: Mengenal Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa: Arti dan Sejarahnya!
Tradisi ini mencerminkan nilai penghormatan terhadap leluhur yang tetap hidup dalam budaya Betawi.
Menariknya, tradisi Lebaran Betawi turut menunjukkan perpaduan budaya yang beragam, terutama dalam sajian makanan.
Hidangan seperti nastar, kastengel, dan kue semprit memiliki pengaruh dari budaya Eropa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA, Kabar Betawi