Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 29 MARET 2026 • 14:00 WIB

Mengenal Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa: Arti dan Sejarahnya!

Mengenal Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa: Arti dan Sejarahnya!Ketupat (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

INDOZONE.ID - Tahukah kamu bahwa Lebaran tidak hanya identik dengan makanan saja, melainkan umat muslim di beberapa daerah mempunyai tradisi bernama Lebaran Ketupat.

Tradisi ini merupakan bagian dari langkah dakwah Islam yang dilakukan oleh Walisongo.

Sudah lebih dari hitungan abad, Lebaran Ketupat masih menjadi warisan budaya yang terus diperingati setiap tahunnya. 

Lantas, apa itu tradisi Lebaran Ketupat dan bedanya dengan Idul Fitri? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini untuk mengetahui lebih lanjutnya!

Apa Itu Tradisi Lebaran Ketupat?

Lebaran Ketupat atau Lebaran Kupat adalah salah satu cara umat Islam di beberapa wilayah di Indonesia dalam memeriahkan Idul Fitri. Terutama, muslim yang berada di Jawa sekitar pesisir utara.

Lebaran Ketupat juga sering disebut sebagai Hari Raya Kecil. Perayaan ini berlangsung sekitar 7 Syawal atau sepekan setelah Idul Fitri. Artinya, tradisi ini berlangsung usai puasa Syawal dilaksanalkan.

Di momen itu, umat Islam di berbagai daerah, terutama sekitar Kudus, Pati, dan Rembang membagikan ketupat ke sanak saudara. 

Momen ini juga dapat berarti sebagai 'hari raya' atau apresiasi bagi orang-orang yang menunaikan sunah puasa awal Syawal.

Beberapa daerah lain juga melaksanakan tradisi ini dengan penyebutan yang berbeda. Di Klaten, contohnya. Lebaran Kupat lebih dikenal dengan sebutan Kenduri Ketupat.

Arti Lebaran Kupat

Penggunaan ketupat sebagai tradisi dari perayaan Idul Fitri tak lepas dari pemaknaan secara filosofis. Terlihat dari arti kata ketupat, bagian pembuatan, hingga bagaimana masyarakat melihat makanan tersebut.

Sementara itu, ketupat sendiri merupakan singkatan dari bahasa Jawa, ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan. Dengan menyajikan ketupat makin meramaikan Lebaran untuk saling bermaafan antar sesama umat muslim. 

Makna Lebaran Ketupat berkaitan erat dengan janur atau daun kelapa muda yang digunakan untuk membungkus beras. Secara filosofis, istilah janur merujuk pada akronim jatining nur, yang memiliki arti cahaya sejati atau hati nurani.

Tak hanya itu, beras juga melambangkan nafsu duniawi. Menambahkan beras ke dalam lipatan janur berarti mengunci hawa nafsu dan mengalahkannya dengan hati nurani.

Bentuk ketupat melambangkan prinsip kiblat papat limo pancer, yang merepresentasikan empat arah mata angin dengan satu pusat utama. Hal ini mengandung pesan bahwa sejauh mana pun manusia melangkah, ia harus tetap berpegang teguh pada kiblat sebagai pusat spiritualitas dan ibadah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Primbon Jawa

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa: Arti dan Sejarahnya!

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!