Makna dan simbol dari Ketupat saat Lebaran. (Wikipedia).
INDOZONE.ID - Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan jejak sejarah panjang yang sering menimbulkan pertanyaan tentang ketupat. Yaitu, sejak kapan ketupat dikenal, dan bagaimana kaitannya dengan tokoh penyebar Islam di Jawa seperti Sunan Kalijaga?
Dalam berbagai catatan budaya, ketupat diyakini mulai populer sekitar abad ke-15 hingga ke-16, bertepatan dengan masa dakwah para Wali Songo di Pulau Jawa. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan tradisi ini adalah Sunan Kalijaga.
Ia dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan Islam, termasuk melalui simbol-simbol yang dekat dengan masyarakat Jawa. Ketupat kemudian tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga sarana penyampaian nilai-nilai spiritual dan sosial.
Pertanyaan lain yang kerap muncul adalah mengapa ketupat menggunakan anyaman daun kelapa muda sebagai bungkusnya. Dalam konteks sejarah budaya, hal ini menunjukkan adanya proses pembauran dengan tradisi yang lebih dulu ada, termasuk pengaruh Hindu.
Baca juga: Filosofi Ketupat "Laku Papat" Dalam Budaya Jawa, Simbol Hari Raya Idul Fitri
Di wilayah seperti Bali yang mayoritas beragama Hindu, penggunaan anyaman janur dalam ritual sudah dikenal sejak lama. Ketika Islam berkembang di Jawa, unsur tersebut tidak dihilangkan, melainkan diadaptasi sehingga melahirkan bentuk budaya baru yang tetap akrab bagi masyarakat.
Dari sisi makna, ketupat juga menyimpan filosofi yang beragam. Dalam tradisi Jawa, istilah “kupat” sering dihubungkan dengan ungkapan “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Hal ini selaras dengan momen Idul Fitri yang identik dengan saling memaafkan.
Selain itu, ada pula penafsiran “laku papat” yang merujuk pada empat nilai kehidupan, yaitu lebaran sebagai simbol terbukanya pintu maaf, luberan yang melambangkan kelimpahan rezeki, leburan sebagai proses melebur dosa, dan laburan yang dimaknai sebagai penyucian diri.
Menariknya, ketupat tidak hanya hadir dalam konteks Lebaran. Di berbagai daerah di Indonesia, makanan ini juga menjadi bagian dari tradisi adat. Dalam perayaan seperti Sekaten dan Grebeg Maulud di Jawa, ketupat digunakan sebagai simbol rasa syukur dan bagian dari ritual keagamaan.
Baca juga: Sejarah Tradisi Sungkem dan Makan Ketupat Setiap Lebaran, Ternyata dari Zaman Wali Songo
Sementara itu, di Bangka dikenal tradisi Perang Ketupat yang dilakukan menjelang 1 Muharram sebagai bentuk doa untuk keselamatan dan penolak bala.
Dari sini muncul pemahaman bahwa ketupat bukan hanya makanan, melainkan hasil dari perjalanan panjang sejarah, percampuran budaya, serta strategi dakwah yang adaptif. Ia menjadi contoh bagaimana nilai agama dan tradisi lokal dapat berpadu, membentuk simbol yang tetap bertahan dan relevan hingga sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indozone