Peninggalan Kerajaan Banten (Nano Banana)
INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sebuah kota pelabuhan di ujung barat Pulau Jawa mampu menjadi pusat perdagangan internasional maritim yang menggetarkan kekuatan kolonial Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-17? Kerajaan Banten bukan sekadar catatan usang di dalam buku pelajaran sejarah sekolah. Eksistensinya adalah manifestasi dari puncak kejayaan peradaban Islam di Nusantara yang menggabungkan kekuatan militer, diplomasi ekonomi tingkat global, dan toleransi antarumat beragama yang sangat tinggi. Lantas, jejak apa saja yang ditinggalkan oleh imperium hebat ini setelah runtuh oleh tipu daya kolonialisme?
Berbagai peninggalan Kerajaan Banten yang masih berdiri tegak maupun yang kini tersisa berupa reruntuhan eksotis adalah kunci untuk membuka pintu lorong waktu ke masa lalu. Benda-benda cagar budaya, bangunan keraton, hingga masjid bersejarah tersebut tidak sekadar menjadi tumpukan bata merah kuno, melainkan saksi bisu dari hiruk-pikuknya para saudagar dari Arab, Tiongkok, Gujarat, hingga Eropa yang berlabuh di Teluk Banten.
Artikel ini akan membedah secara komprehensif sejarah dan ragam peninggalan Kerajaan Banten, mulai dari situs arkeologi, warisan budaya tak benda, hingga bukti empiris kejayaan masa lalunya yang patut menjadi kebanggaan generasi masa kini.
Baca juga: Apa Saja Peninggalan Kerajaan Tarumanegara? Ini Daftarnya
Sebelum membedah peninggalan-peninggalannya, penting untuk memahami akar historis bagaimana Kesultanan Banten dapat berdiri kokoh. Kerajaan Banten secara resmi berdiri pada dekade 1520-an. Secara historis, wilayah Banten awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang bercorak Hindu. Namun, ekspansi Islam yang dipimpin oleh Fatahillah (Sunan Gunung Jati) bersama pasukan dari Kesultanan Demak dan Cirebon berhasil menguasai Banten pada tahun 1526.
Sunan Gunung Jati kemudian menyerahkan takhta pemerintahan Banten kepada putranya, Maulana Hasanuddin, yang kelak diakui sebagai raja pertama sekaligus pendiri Kesultanan Banten yang mandiri. Di bawah kepemimpinan Maulana Hasanuddin, Banten melepaskan diri dari bayang-bayang Demak dan berkembang pesat menjadi pusat penyebaran agama Islam serta pelabuhan dagang internasional.
Puncak masa keemasan Kesultanan Banten terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682). Pada era ini, armada laut Banten sangat kuat, sistem irigasi dan pertanian dimodernisasi, serta Banten berhasil memonopoli perdagangan lada. Sultan Ageng Tirtayasa juga dikenal sebagai raja yang sangat gigih menentang praktik monopoli Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Sayangnya, kejayaan tersebut harus meredup akibat konflik internal (perang saudara) antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya sendiri, Sultan Haji, yang dihasut dan dibantu oleh VOC. Intervensi Belanda ini perlahan-lahan menggerogoti kedaulatan Banten hingga akhirnya kesultanan ini secara resmi dihapuskan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19 (1813).
Bukti nyata eksistensi dan kebesaran Kesultanan Banten dapat ditelusuri melalui kawasan Banten Lama (Old Banten). Di kawasan situs bersejarah inilah berbagai peninggalan Kerajaan Banten memusat. Berikut adalah daftar peninggalan fisik dan arsitektural yang memiliki nilai historis tak ternilai:
Masjid Agung Banten lama Kawasan Kesultanan Banten Lama, Kasemen, Kota Serang. (banten.indozone.id)
Ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Banten yang paling ikonis. Dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin, masjid ini memiliki ciri khas menara yang bentuknya menyerupai mercusuar bergaya arsitektur Eropa-Tiongkok.
Desain menara ini merupakan karya arsitek keturunan Belanda bernama Hendrik Lucasz Cardeel (yang kelak masuk Islam bergelar Pangeran Wiraguna), sementara atap masjid yang bertumpuk lima mencerminkan akulturasi dengan arsitektur lokal/Hindu dan Tiongkok (karya Tjek Ban Tjut).
Keraton Surosowan adalah pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal para Sultan Banten. Dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanuddin, keraton ini dikelilingi tembok bata tebal dan bastion (pos pertahanan) di setiap sudutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber