Ilustrasi. Peninggalan Kerajaan Tarumanegara (Nano Banana)
INDOZONE.ID - Pernahkah Anda menyadari bahwa jauh sebelum kota-kota metropolitan seperti Jakarta dan Bogor dipenuhi oleh gedung pencakar langit, sebuah peradaban dengan teknologi tata air yang luar biasa sudah berdiri megah di wilayah tersebut? Pada abad ke-5 Masehi, saat banyak bangsa di dunia masih meraba-raba sistem peradaban, wilayah barat Pulau Jawa telah dikuasai oleh kemaharajaan yang mampu menggali sungai sepanjang 11 kilometer hanya dalam waktu 21 hari. Itulah Kerajaan Tarumanegara, sebuah entitas kekuasaan kuno yang rekam jejaknya menolak untuk dilupakan oleh waktu. Lantas, apa saja peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang menjadi saksi bisu dari kecemerlangan arsitektur, sosial, dan politik masa lampau tersebut?
Artikel di Indozone.id ini akan membedah secara historis dan komprehensif mengenai daftar peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Melalui penelusuran artefak dan prasasti batu yang tersebar di Jawa Barat hingga Banten, kita akan menguak bagaimana corak kehidupan manusia Nusantara di era permulaan masuknya kebudayaan Hindu dari India.
Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berdiri pada abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi, menjadikannya sebagai kerajaan bercorak Hindu tertua di Pulau Jawa, dan tertua kedua di Indonesia setelah Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Berdasarkan naskah Wangsakerta, kerajaan ini didirikan oleh Jayasingawarman pada tahun 358 Masehi yang berasal dari India dan melarikan diri ke Nusantara akibat invasi musuh.
Pusat kekuasaan Tarumanegara diyakini berada di wilayah yang kini mencakup Bogor, Jakarta, hingga Banten. Dari segi spiritual, corak agama Kerajaan Tarumanegara adalah Hindu beraliran Waisnawa (pemuja Dewa Wisnu). Hal ini sangat terlihat dari peninggalan-peninggalan rajanya, terutama Raja Purnawarman, yang kerap menyamakan dirinya atau disamakan oleh rakyatnya dengan perwujudan Dewa Wisnu sang pemelihara alam semesta. Sistem keagamaan ini berjalan beriringan dengan sistem pemerintahan monarki yang kuat, di mana raja dianggap sebagai wakil dewa di bumi (Devaraja).
Baca juga: Apa Saja Peninggalan Kerajaan Majapahit? Ini Daftar Lengkapnya
Untuk menjawab pertanyaan utama mengenai apa saja peninggalan Kerajaan Tarumanegara, para sejarawan dan arkeolog merujuk pada temuan prasasti dan beberapa arca. Berbeda dengan kerajaan di Jawa Tengah atau Jawa Timur yang mewariskan banyak candi megah, peninggalan fisik Tarumanegara didominasi oleh batu bertulis (prasasti) yang diukir menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.
Berikut adalah tabel daftar peninggalan Kerajaan Tarumanegara untuk mempermudah Anda memahaminya:
| Nama Peninggalan | Lokasi Penemuan | Ciri Khas Fisik | Makna/Isi Singkat |
| Prasasti Ciaruteun | Ciampea, Bogor | Terdapat sepasang telapak kaki raja, gambar laba-laba, dan sulur-suluran. | Menyamakan telapak kaki Raja Purnawarman dengan Dewa Wisnu. |
| Prasasti Jambu | Nanggung, Bogor | Terdapat pahatan telapak kaki. | Pujian terhadap kegagahan dan kehebatan Purnawarman dalam berperang. |
| Prasasti Kebon Kopi | Cibungbulang, Bogor | Terdapat pahatan dua telapak kaki gajah. | Telapak kaki gajah penguasa Tarumanegara yang disamakan dengan Airawata (gajah kendaraan Dewa Indra). |
| Prasasti Tugu | Cilincing, Jakarta Utara | Prasasti terpanjang yang ditulis dalam bentuk puisi (seloka) lima baris. | Pencatatan proyek penggalian Sungai Gomati dan Candrabhaga untuk irigasi serta pencegahan banjir. |
| Prasasti Cidanghiang | Munjul, Banten | Ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang. | Penegasan kekuasaan Purnawarman hingga ke ujung barat Pulau Jawa. |
| Prasasti Muara Cianten | Ciampea, Bogor | Aksara ikal (aksara sangkha/ikal yang mirip sulur). | Belum dapat diterjemahkan secara pasti karena aksaranya sangat kuno. |
| Prasasti Pasir Awi | Citeureup, Bogor | Terdapat pahatan ranting pohon dan telapak kaki, memakai aksara ikal. | Sama seperti Muara Cianten, pesannya masih menjadi misteri arkeologis. |
| Arca Wisnu Cibuaya | Karawang, Jawa Barat | Patung batu peninggalan abad ke-7. | Bukti kuat corak agama Hindu Waisnawa di pesisir utara Jawa Barat. |
Prasasti Cidanghiang untuk mengagungkan keagungan, keberanian, dan keperwiraan Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara. (Taman Renyah, commons.wikimedia.org)Ketujuh prasasti utama di atas merupakan urat nadi bagi penulisan sejarah kuno Jawa Barat. Prasasti Ciaruteun, misalnya, ditemukan di aliran Sungai Ciaruteun. Pahatan telapak kaki pada batu sungai yang keras menunjukkan tingginya teknik pahat pada masa itu. Sementara itu, Prasasti Kebon Kopi memberikan petunjuk tentang penggunaan gajah sebagai hewan militer dan simbol kebesaran kerajaan.
Tiga prasasti (Ciaruteun, Muara Cianten, dan Pasir Awi) memiliki kemiripan pola karena ditemukan di area yang saling berdekatan di wilayah Bogor, mengindikasikan bahwa area tersebut mungkin merupakan jantung spiritual atau pusat keraton Tarumanegara pada masa lalu.
Dari seluruh peninggalan Kerajaan Tarumanegara, Prasasti Tugu adalah artefak yang paling revolusioner. Prasasti ini tidak bercerita tentang peperangan, melainkan merekam karya tata air (hidrologi) terbesar di zamannya.
Dalam prasasti tersebut dijelaskan bahwa Raja Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati. Penggalian Sungai Gomati yang panjangnya mencapai 6.122 tombak (sekitar 11 kilometer) diselesaikan hanya dalam waktu 21 hari. Setelah proyek selesai, sang raja menghadiahkan 1.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Sejarawan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, memberikan penegasan terkait makna ini:
"Penggalian terusan ini mempunyai arti ekonomis yang sangat besar bagi rakyat, karena di samping berguna untuk mencegah bahaya banjir pada musim hujan, juga sangat penting untuk pengairan sawah-sawah pertanian pada musim kemarau. Hadiah 1.000 ekor lembu juga menunjukkan tingkat kemakmuran dan kuatnya tradisi keagamaan."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber