Teuku Markam dan emas di Monas (ANTARA)
INDOZONE.ID - Emas seberat 38 kilogram yang berkilauan di puncak Monas bukan sekadar simbol kemewahan Jakarta. Bagi satu orang, emas tersebut menjadi saksi bisu dari salah satu pengkhianatan negara yang paling menyakitkan.
Monumen kebanggaan bangsa ini ternyata berdiri di atas penderitaan seseorang yang pernah menyumbangkan hartanya sendiri.
Lantas, siapakah sosok yang disebut pernah menyumbangkan hartanya untuk negara lalu berujung dikhianati? Simak selengkapnya berikut ini!
Baca juga: Yogyakarta dan Republik yang Hampir Runtuh: Memori KLB di Stasiun Tugu 4 Januari 1946
Seorang saudagar kaya berdarah Aceh bernama Teuku Markam hidup pada era kepemimpinan Soekarno.
Karena kecintaannya pada Indonesia, ketika Bung Karno berencana membangun Monumen Nasional (Monas) namun terkendala pendanaan, Markam tanpa ragu menyumbangkan 28 kilogram emas dari harta pribadinya, tanpa mengharap imbalan apa pun. Ia hanya ingin negaranya memiliki sebuah ikon kebanggaan.
Namun, nasibnya berbalik drastis setelah pergantian rezim pada 1966. Karena kedekatannya dengan Soekarno, Markam menjadi sasaran.
Ia ditangkap, dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) dan korupsi, tanpa pernah dibuktikan secara jelas di pengadilan.
Negara tidak hanya memenjarakannya, tetapi juga menyita seluruh hartanya. Aset dan perusahaan miliknya dirampas dan dialihkan kepada perusahaan baru bentukan rezim Orde Baru.
Teuku Markam mendekam di penjara selama delapan tahun. Saat bebas, ia jatuh miskin dan harus berjuang sendirian membersihkan namanya hingga akhir hayat. Bahkan setelah meninggal dunia, hartanya tak pernah kembali utuh.
Ironisnya, ketika kita mendongak kagum melihat emas yang berkilauan di puncak Monas, sesungguhnya kita sedang menatap sisa kekayaan seorang dermawan yang dibalas dengan pengkhianatan.
Baca juga: Tak Hanya Gadjah Mada, Inilah Mpu Nala Laksamana Hebat di Balik Kejayaan Maritim Majapahit
Terlalu tulus kepada negara, pada waktu yang salah, ternyata bisa dianggap sebagai dosa yang tak terampuni.
Kisah Teuku Markam menjadi pengingat pahit bahwa sejarah tak selalu berpihak pada mereka yang tulus. Di balik megahnya Monas, tersimpan cerita tentang pengorbanan yang tak pernah sepenuhnya diakui.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram @leofransmunthe