Ilustrasi Pertempuran Medan Area (Youtube/Nessie Judge).
INDOZONE.ID - Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, rakyat Medan menyambutnya dengan penuh suka cita.
Tapi, euforia ini tak berlangsung lama. Pasukan Sekutu datang dengan membawa NICA (Belanda) di belakangnya. Meski dikatakan mau menertibkan keadaan, sebenarnya Belanda diam-diam ingin kembali berkuasa.
Suasana mulai memanas pada Oktober 1945. Untuk melawan ancaman Belanda, para pemuda dan rakyat Medan pun bergerak.
Mereka membentuk Barisan Pemuda Indonesia (BPI), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan berbagai kelompok laskar lainnya.
Baca juga: Kisah Ratu Suhita: Wanita Berbaju Ungu yang Mengguncang Tahta Majapahit
Pemicu pertama terjadi pada 13 Oktober 1945, ketika seorang tentara NICA merampas dan menginjak-injak lencana merah putih.
Peristiwa ini langsung memicu bentrokan yang menewaskan sejumlah pemuda.
Pada 1 Desember 1945, Belanda dan Sekutu seenaknya pasang papan peringatan "Fixed Boundaries Medan Area".
Papan itu ibarat ngasih tau, "Wilayah ini kami yang kuasai, jangan coba-coba masuk atau kami tembak!"
Tapi, tindakan semena-mena ini malah bikin rakyat dan para pejuang di Medan makin gregetan dan berani. Mereka nggak gentar.
Dengan modal taktik gerilya dan ngutak-ngatik pengetahuan tentang medan tempur, para pejuang kita yang persenjataannya terbatas itu terus nekat melawan pasukan Sekutu yang jauh lebih lengkap dan kuat.
Baca juga: Pertempuran Ambarawa: Drama Heroik di Awal Indonesia Merdeka
Perjuangan mereka buktiin satu hal: sekeras apapun intimidasi, nggak akan pernah bisa ngalahin tekad rakyat buat mempertahankan tanah airnya.
Perlawanan rakyat terus bergelora di berbagai daerah, seperti Pematang Siantar dan Berastagi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Nessie Judge