INDOZONE.ID - Cerita Pertempuran Ambarawa ini mungkin nggak setenar film laga, tapi kisah nyatanya jauh lebih seru dan emosional. Ini adalah momen penting banget setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sekaligus jadi panggung debut seorang pemimpin legendaris: Sudirman.
Pas Perang Dunia II beres, pasukan Sekutu datang ke Indonesia dengan alasan “mulia”: mengurus tawanan perang dan memulangkan tentara Jepang. Kedengarannya baik, ya? Pemerintah Indonesia pun menyambut dengan tangan terbuka.
Tapi ternyata, di balik itu ada maksud tersembunyi. Diam-diam, mereka membawa serta orang-orang Belanda yang pengin balik lagi menjajah Indonesia. Padahal, Indonesia yang baru merdeka jelas nggak mau lagi dijajah!
Masalah mulai muncul ketika tawanan Belanda yang seharusnya dipulangkan malah diam-diam dikasih senjata. Wajar kalau rakyat Indonesia jadi geram. Bentrokan antara TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan Sekutu pun pecah di Magelang.
Presiden Sukarno sampai turun tangan buat mendamaikan situasi. Ada perjanjian yang disepakati, termasuk bahwa Sekutu nggak boleh bikin ulah militer. Tapi ternyata, mereka ingkar janji dan malah pindah ke Ambarawa untuk memperkuat posisi di sana.
Ambarawa itu lokasinya strategis banget, gerbang penghubung antara Yogyakarta, Surakarta, dan Magelang. Kalau sampai Ambarawa jatuh, tiga kota penting ini bisa ikut dikuasai musuh. Itu bisa sangat berbahaya bagi posisi Republik.
Sekutu paham betul soal ini, makanya mereka mempertahankan Ambarawa mati-matian bahkan pakai pesawat tempur buat melindungi pasukan mereka.
Di sisi lain, rakyat Indonesia nggak tinggal diam. Pemuda-pemuda dari berbagai daerah Boyolali, Salatiga, Kartasura, Surakarta, Semarang, hingga Yogyakarta berbondong-bondong datang buat bantu TKR. Mereka membangun pertahanan, menyerang balik, dan mempertahankan desa satu per satu.
Pertempuran makin sengit, sampai akhirnya seorang pemuda berusia 29 tahun, Kolonel Sudirman, memutuskan turun langsung ke medan perang setelah mendengar komandan Divisi Banyumas gugur.
Jenderal Sudirman kisah hidup menjadi pahlawan bergerilya untuk Indonesia
Dengan kepemimpinan Sudirman, pasukan Indonesia jadi makin terorganisir. Kota Ambarawa dibagi menjadi empat sektor dan diterapkan taktik legendaris: Supit Udang, taktik pengepungan dari dua sisi seperti capit udang.
Taktik ini terbukti jitu. Pelan-pelan, pasukan Sekutu terdesak mundur sampai akhirnya terusir dari Ambarawa.
Pada 15 Desember 1945, pasukan Indonesia berhasil merebut kembali Ambarawa. Kemenangan ini dirayakan dengan haru, meski korban dari pihak Indonesia mencapai sekitar 2.000 jiwa, jauh lebih banyak daripada pihak Inggris.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Nessie Judge