Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 31 AGUSTUS 2025 • 20:00 WIB

Kebijakan Kemanusiaan Raja Ashoka dalam Pemerintahan

Kebijakan Kemanusiaan Raja Ashoka dalam PemerintahanAsoka atau Ashoka (sumber: X/@itihasika)

INDOZONE.ID - Asoka, atau Ashoka yang Agung, adalah salah satu penguasa paling terkenal dalam sejarah India, yang memerintah Kerajaan Maurya dari tahun 273 SM hingga 232 SM. Ia merupakan kaisar ketiga di Kerajaan Maurya. Asoka dikenal sebagai seorang penganut agama Buddha yang berperan penting dalam penyebaran ajaran Buddha di seluruh anak benua India, bahkan hingga ke wilayah lain seperti Sri Lanka dan bagian-bagian Asia lainnya.

Asoka adalah cucu dari Chandragupta Maurya, pendiri Dinasti Maurya. Ia lahir sekitar tahun 304 SM dan merupakan anak dari Raja Bindusara. Sebelum menjadi raja, Asoka dikenal sebagai sosok yang brutal dan kejam. Dalam upayanya untuk merebut takhta, ia dilaporkan membunuh 99 saudaranya. Namun, titik balik dalam hidupnya terjadi setelah memenangkan Perang Kalinga, di mana ia menyaksikan penderitaan besar akibat peperangan tersebut, dengan ratusan ribu korban jiwa.

Baca juga: Auguste van Pers: Seniman yang “Capture” Hindia Belanda Lewat Litograf

Pertempuran Kalinga tercatat dalam sejarah sebagai salah satu konflik paling besar dan mematikan di India, dengan jumlah korban jiwa yang diperkirakan antara 100.000 hingga 300.000 orang. Melihat kekejaman dan penderitaan yang ditimbulkan oleh pertempuran tersebut memberikan dampak emosional yang mendalam bagi Asoka. Pengalaman traumatis dari perang tersebut mengubah perspektifnya, mendorongnya untuk mengadopsi sikap yang lebih damai dan bijaksana.

Setelah perang, Asoka mulai tertarik pada ajaran Buddha, yang menekankan nilai-nilai seperti kasih sayang, kejujuran, dan non-kekerasan (ahimsa). Ia berkenalan dengan ajaran Buddha melalui biksu-biksuni yang merawatnya setelah terluka dalam pertempuran. Pengalaman ini membuatnya memikirkan makna kepemimpinan dan tanggung jawabnya terhadap rakyat. Setelah mengadopsi ajaran Buddha, Asoka mengubah kebijakan pemerintahannya secara drastis. Ia mulai mempromosikan prinsip-prinsip Dharma dan mengembangkan program-program sosial, seperti pembangunan rumah sakit dan perlindungan bagi hewan. Ia juga mendirikan Departemen Dharma untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat serta memberikan kebebasan beragama kepada seluruh warga negara.

Transformasi Asoka menjadi penganut Buddha tidak hanya mempengaruhi kebijakannya, tetapi juga berkontribusi pada penyebaran agama Buddha ke wilayah lain, termasuk Sri Lanka, melalui anaknya Mahinda dan putrinya Sanghamitta. Asoka dikenal sebagai "Asoka yang Saleh" (Dharmasoka) karena dedikasinya untuk mempromosikan ajaran Buddha di seluruh kekuasaannya. Ia juga dikenal karena pendekatannya yang toleran terhadap agama lain. Asoka tidak memaksa rakyatnya untuk menganut agama Buddha, tetapi lebih mendorong mereka menjalani kehidupan berbudi pekerti berdasarkan ajaran Buddha.

Baca juga: Ketegangan Tak Berujung: Menelusuri Akar dan Ancaman Konflik India-Pakistan

Hal ini menarik minat banyak orang dari latar belakang yang berbeda untuk mempelajari dan mengadopsi ajaran tersebut. Penyebaran agama Buddha juga terjadi melalui interaksi budaya dengan masyarakat lokal di berbagai wilayah. Asoka memfasilitasi pertukaran budaya dengan cara yang damai, memungkinkan ajaran Buddha beradaptasi dengan budaya setempat tanpa kehilangan esensinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Britannica

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kebijakan Kemanusiaan Raja Ashoka dalam Pemerintahan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!