INDOZONE.ID - Eropa sedang benar-benar dibuat kewalahan oleh gelombang panas ekstrem yang suhunya bikin geleng-geleng kepala.
Bukan cuma terasa menyengat, panas kali ini bahkan sampai memecahkan rekor di sejumlah negara.
Dampaknya pun gak main-main, sampai aktivitas warga yang ikut terganggu.
Jadi, apa saja fakta mengenai gelombang panas di Eropa yang bikin dunia ikut khawatir? berikut penjelasannya:
1. Panas Datang Lebih Cepat dari Biasanya
Eropa mulai merasakan gelombang panas sejak Mei 2026, jauh sebelum puncak musim panas benar-benar tiba.
Suhu di sejumlah wilayah naik drastis hingga jauh di atas batas normal.
Kondisi yang biasanya masih terasa sejuk berubah menjadi sangat menyengat dalam waktu singkat.
Setelah itu, gelombang panas kedua datang pada akhir Juni dengan intensitas yang lebih parah dan menyebar ke banyak wilayah Eropa.
2. Suhu Ekstrem Pecahkan Rekor
Gelombang panas pada akhir Juni 2026 membuat sejumlah negara Eropa mencatat rekor suhu baru.
Spanyol menjadi salah satu wilayah paling terdampak setelah suhu di Andújar dan Montoro dilaporkan mencapai 45,1 derajat Celsius.
Baca juga: Kenapa Kota-Kota di Indonesia Semakin Panas? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Prancis juga mengalami hari yang sangat panas, termasuk Paris yang mencatat suhu hingga 40,9 derajat Celsius.
Negara lain seperti Jerman, Hungaria, Polandia, Swiss, Austria, Denmark, hingga Inggris juga ikut merasakan lonjakan suhu yang tidak biasa.
3. Heat Dome Bikin Udara Terperangkap
Cuaca panas ekstrem ini dipicu oleh fenomena heat dome atau kubah panas.
Fenomena ini terjadi ketika udara panas tertahan di suatu wilayah dan tidak mudah bergerak keluar.
Akibatnya, udara sejuk sulit masuk sehingga suhu tetap terasa sangat panas dalam waktu lama.
Kondisi ini makin berbahaya karena malam hari pun tetap panas, hingga membuat tubuh sulit beristirahat dan memulihkan diri setelah seharian terkena cuaca ekstrem.
4. Perubahan Iklim Jadi Pemicu Utama
Para ilmuwan menilai gelombang panas ekstrem ini sangat berkaitan dengan dampak pemanasan global.
Emisi dari aktivitas manusia membuat suhu panas terasa jauh lebih intens dibandingkan peristiwa serupa di masa lalu.
Kondisi ini menjadi bukti bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah terjadi dan dirasakan langsung.
Para ahli juga menyebut El Nino bukan faktor utama dalam panas ekstrem kali ini, melainkan krisis iklim yang semakin memburuk.
5. Korban Jiwa Terus Bertambah
Gelombang panas ekstrem ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga berdampak fatal bagi keselamatan warga.
WHO mencatat ada lebih dari 1.300 kematian tambahan sejak 21 Juni yang dikaitkan dengan cuaca panas.
Baca juga: Darurat Laut Panas! Terumbu Karang Memutih, Ini Dampaknya
Selain itu, sekitar 150 juta penduduk Eropa juga dilaporkan harus bertahan di tengah suhu ekstrem di atas 35 derajat Celsius.
Di tengah kepanikan mencari tempat sejuk, beberapa insiden tragis juga terjadi, termasuk kasus tenggelam saat warga mencoba berenang di lokasi berbahaya.
6. Banyak Wilayah Masuk Siaga Merah
Dampak gelombang panas membuat sejumlah wilayah di Prancis dan Italia menetapkan status Siaga Merah.
Kota-kota besar seperti Roma, Venesia, dan Florence ikut berada dalam kewaspadaan tinggi karena ancaman kekeringan dan kebakaran hutan.
Lebih dari itu, suhu panas dan angin kencang membuat air lebih cepat menguap serta tanaman mudah mengering.
Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan sekaligus memberi bahaya besar bagi beberapa mahluk hidup yakni satwa liar, hewan ternak, dan ekosistem sekitar.
7. Bangunan Eropa Belum Siap Hadapi Panas
Gelombang panas ini juga memperlihatkan bahwa banyak infrastruktur di Eropa belum siap menghadapi suhu ekstrem.
Hal ini terbukti sebagian besar beberapa bangunan seperti rumah, sekolah, dan rumah sakit dibangun untuk menjaga kehangatan saat musim dingin, bukan untuk menahan panas berkepanjangan.
Akibatnya, udara panas justru terperangkap di dalam ruangan dan membuat kondisi semakin tidak nyaman.
Situasi tersebut makin rumit karena kepemilikan AC di rumah-rumah Eropa masih rendah, sementara penggunaan AC massal dikhawatirkan menambah konsumsi listrik dan emisi karbon.
Gelombang panas di Eropa menjadi pengingat bahwa krisis iklim sudah memberi dampak nyata bagi kehidupan manusia. Yuk kita lebih sadar lagi pentingnya menjaga lingkungan sekitar
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian, Space