INDOZONE.ID - Pernahkah Anda bertanya-tanya, dari titik manakah cahaya peradaban Islam pertama kali berpendar dan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara? Jauh sebelum hiruk-pikuk pelabuhan modern di Pulau Jawa atau gemerlapnya Kesultanan Malaka, sebuah kekuatan maritim raksasa telah berdiri megah di ujung utara Pulau Sumatra. Kesultanan Samudra Pasai tidak sekadar menjadi kerajaan Islam pertama di Indonesia, tetapi juga poros perniagaan global yang menghubungkan saudagar dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok. Meskipun masa kejayaannya telah usai berabad-abad lalu, jejak kebesarannya tidak sirna begitu saja.
Melalui berbagai peninggalan Kerajaan Samudra Pasai, kita dapat menelusuri bagaimana fondasi awal identitas Islam di Asia Tenggara dibentuk. Artikel ini akan mengurai deretan bukti sejarah, letak geografis, alasan di balik kejayaan ekonominya, hingga bagaimana warisan budayanya diteruskan oleh Kerajaan Aceh Darussalam.
Letak dan Siapa Pendiri Kerajaan Samudra Pasai?
Untuk memahami kebesaran kerajaan ini, kita harus merunut kembali ke abad ke-13. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Marah Silu, seorang tokoh karismatik yang kemudian memeluk agama Islam dan bergelar Sultan Malik as-Saleh. Menurut berbagai catatan sejarah, kerajaan ini resmi berdiri sekitar tahun 1267 Masehi, menjadikannya monarki Islam tertua yang tercatat secara valid di kepulauan Nusantara.
Secara geografis, letak Kerajaan Samudra Pasai sangatlah strategis. Pusat pemerintahannya berada di pesisir utara Pulau Sumatra, yang saat ini secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Lokasinya yang langsung menghadap ke perairan internasional menjadikannya pintu gerbang utama bagi para pelayar dunia sebelum mereka memasuki kawasan kepulauan rempah-rempah di wilayah timur.
Baca juga: 10 Situs Peninggalan Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan: Saksi Bisu Kejayaan Peradaban Masa Lalu
Mengapa Kerajaan Samudra Pasai Menjadi Pusat Perdagangan?
Pertanyaan yang sering muncul di benak para pelajar sejarah adalah: Kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan karena apa? Jawabannya terletak pada kombinasi antara anugerah geografi dan kebijakan ekonomi yang terbuka.
Pertama, letaknya yang berada persis di jalur pelayaran Selat Malaka membuat pelabuhan Pasai menjadi titik transit wajib (episentrum) bagi kapal-kapal niaga yang harus menunggu pergantian arah angin muson untuk melanjutkan pelayaran ke Tiongkok atau kembali ke India dan Timur Tengah.
Kedua, Samudra Pasai bukan hanya pelabuhan transit, melainkan juga wilayah penghasil komoditas bernilai tinggi, terutama lada, sutra, dan kapur barus. Ibnu Battuta, seorang pengembara legendaris asal Maroko yang singgah di Pasai pada tahun 1345 Masehi, mendeskripsikan kerajaan ini sebagai kota yang sangat makmur, hijau, dan dipimpin oleh seorang raja (Sultan Malik az-Zahir) yang sangat saleh serta mencintai ilmu pengetahuan.
"Pasai adalah pelabuhan yang sangat ramai, di mana para pedagang dari berbagai bangsa bertemu. Hukum Islam ditegakkan dengan baik, dan rajanya sangat menghormati para ulama serta cendekiawan dari luar negeri." Catatan Rihlah Ibnu Battuta (1345 M).
Bukti Adanya Samudra Pasai: Rincian Peninggalan Sejarah
Lalu, apa bukti adanya Samudra Pasai? Keberadaan kerajaan ini dibuktikan melalui catatan penjelajah asing (seperti Marco Polo pada 1292 M dan Ibnu Battuta) serta artefak fisik yang masih terawat. Berikut adalah contoh peninggalan sejarah dari Kerajaan Samudra Pasai:
| Nama Peninggalan | Bentuk Fisik | Fakta Sejarah & Maknanya |
| Makam Sultan Malik as-Saleh | Batu Nisan (Nisan bergaya Gujarat) | Berangka tahun 1297 M. Bukti fisik tertua masuknya Islam sebagai institusi kerajaan di Nusantara. |
| Makam Sultan Mahmud Malik Az-Zahir | Batu Nisan | Makam putra Sultan Muhammad yang memerintah saat kunjungan Ibnu Battuta. |
| Kitab Durru al-Manzum | Karya Sastra/Teologi | Bukti perkembangan intelektual dan peran Pasai sebagai pusat ilmu agama. |
| Koin Dirham (Deureuham) | Uang Koin Emas | Bukti bahwa Pasai memiliki sistem ekonomi maju dan mata uang sendiri yang diakui dalam perdagangan internasional. |
| Lonceng Cakra Donya | Lonceng Raksasa Berhuruf Tiongkok & Arab | Hadiah dari Kaisar Tiongkok (dibawa oleh Laksamana Cheng Ho) sebagai simbol persahabatan diplomasi. |
| Makam Ratu Nahrasyiyah | Makam Berukir Marmer Mewah | Bukti bahwa emansipasi dan kepemimpinan perempuan (Sultanah) telah diakui dalam peradaban Pasai. |
1. Makam Sultan Malik as-Saleh: Tonggak Awal Sejarah
Peninggalan yang paling monumental adalah makam sang pendiri kerajaan. Nisannya terbuat dari batu granit yang diimpor dari Cambay, Gujarat, India. Kaligrafi Arab yang terukir di nisan tersebut tidak hanya menuliskan nama dan tanggal wafatnya (Ramadan 696 Hijriah / 1297 Masehi), tetapi juga menyematkan kutipan ayat suci Al-Qur'an dan puisi sufi. Ini menjadi bukti otentik yang menepis keraguan tentang eksistensi kerajaan ini.
2. Makam Sultan Mahmud Malik Az-Zahir
Selain makam sang pendiri, Makam Sultan Mahmud Malik Az-Zahir menjadi situs yang sangat penting. Sultan Mahmud adalah cucu dari Sultan Malik as-Saleh (putra dari Sultan Muhammad). Di masa pemerintahannya, Samudra Pasai mencapai stabilitas politik dan ekonomi yang luar biasa.
Bahkan, penjelajah Ibnu Battuta mencatat kekagumannya terhadap kepribadian Sultan Mahmud yang sangat rendah hati dan rajin berdiskusi mengenai ilmu agama dengan para ulama. Nisan makamnya yang berukir indah menjadi saksi bisu era keemasan diplomasi dan religiusitas Pasai.
3. Prasasti Batu Nisan (Epigrafi Pasai)
Peninggalan paling melimpah dari era Samudra Pasai adalah kompleks pemakaman kuno dengan prasasti batu nisan yang tersebar di wilayah Aceh Utara. Nisan-nisan ini tidak dibuat sembarangan; mayoritas diukir dengan gaya khas Cambay (Gujarat, India) yang diimpor langsung.
Ukiran pada batu nisan ini memuat kaligrafi Arab yang sangat indah (khat Kufi dan Naskhi), berisi ayat-ayat Al-Qur'an, selawat, nama mendiang, hingga puisi sufi. Salah satu yang paling terkenal tentu saja Makam Sultan Malik as-Saleh (wafat 1297 M) yang menjadi bukti arkeologis tertua institusi kerajaan Islam di Asia Tenggara.
Baca juga: Peninggalan Kerajaan Demak: Sejarah, Fakta, dan Maknanya Lengkap
4. Makam Ratu Nahrasiyah
Jika makam Sultan Malik as-Saleh adalah yang tertua, maka Makam Ratu Nahrasiyah adalah peninggalan makam Islam termegah di Asia Tenggara. Ratu Nahrasiyah adalah seorang Sultanah (raja perempuan) yang membawa Pasai pada puncak kejayaan ekonomi sebelum wafat pada tahun 1428 M.
Nisan dan pusaranya terbuat dari marmer putih berkualitas tinggi yang diimpor dari Gujarat. Seluruh permukaan marmer tersebut dipenuhi ukiran kaligrafi Surah Yasin dan Ayat Kursi. Peninggalan ini menjadi bukti sejarah yang sangat kuat bahwa peradaban Islam di Pasai telah mengakui emansipasi dan kepemimpinan perempuan sejak abad ke-15.
5. Koin Dirham: Simbol Hegemoni Ekonomi
Sebagai pusat perdagangan internasional, sistem barter tidak lagi memadai. Kerajaan Samudra Pasai mengeluarkan mata uang logam yang disebut Dirham, terbuat dari campuran emas, perak, dan tembaga.
Pada salah satu sisi koin, biasanya terukir nama Sultan yang sedang memerintah (misalnya Sultan Zainal Abidin), dan di sisi lainnya terukir gelar kehormatan As-Sultan Al-Adil. Penemuan ribuan koin ini oleh para arkeolog di sekitar Lhokseumawe membuktikan kemapanan sistem moneter masa itu.
6. Lonceng Cakra Donya: Jejak Diplomasi Tiongkok
Lonceng besi raksasa ini adalah suvenir diplomasi dari Dinasti Ming yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho dalam ekspedisinya pada abad ke-15. Uniknya, lonceng ini memiliki ukiran aksara Tionghoa dan kaligrafi Arab secara berdampingan. Meskipun saat ini lonceng tersebut dipamerkan di Museum Aceh, sejarah awalnya bermula dari interaksi diplomatik di Pelabuhan Samudra Pasai.
7. Stempel Sultan Muhammad Al Malik Az-Zahir
Kemajuan sistem administrasi ketatanegaraan Samudra Pasai dibuktikan dengan ditemukannya stempel kerajaan milik Sultan Muhammad Al Malik Az-Zahir. Stempel kuno ini ditemukan oleh para arkeolog di Desa Kuta Krueng, Kabupaten Aceh Utara. Benda bersejarah yang terbuat dari bahan tanduk hewan ini bertuliskan aksara Arab yang digunakan untuk mengesahkan dokumen-dokumen penting kerajaan, surat-menyurat diplomatik, dan dekrit kesultanan.
8. Kitab Durru al-Manzum: Bukti Pusat Intelektual Islam
Salah satu bukti terkuat bahwa Samudra Pasai bukan hanya pusat dagang, melainkan juga pusat ilmu pengetahuan, adalah adanya Kitab Durru al-Manzum. Kitab ini merupakan karya syekh besar asal Persia, Maulana Abu Ishak, yang kemudian dibawa dan dipelajari di lingkungan Kesultanan Pasai.
Kehadiran karya teologis tingkat tinggi ini menunjukkan bahwa Pasai menjadi magnet bagi para cendekiawan dunia. Kitab ini menjadi bukti perkembangan intelektual yang pesat sekaligus mengukuhkan peran Samudra Pasai sebagai pusat peradaban Islam paling berpengaruh di Asia Tenggara pada zamannya.
Baca juga: Peninggalan Kerajaan Banten: Bukti Kejayaan Islam di Nusantara
9. Tradisi Peutron Aneuk (Warisan Takbenda)
Peninggalan Samudra Pasai tidak melulu berupa benda mati (artefak). Salah satu peninggalan kebudayaan dan nilai sosial yang masih hidup hingga saat ini adalah tradisi Peutron Aneuk. Ini adalah upacara adat masyarakat Aceh saat menurunkan bayi untuk pertama kalinya menginjak tanah (biasanya dilakukan pada hari ke-44 setelah kelahiran).
Tradisi ini lahir pada masa Samudra Pasai, di mana ajaran Islam mulai berakulturasi dengan kearifan lokal. Bayi akan diperkenalkan pada lingkungan sekitar, didoakan oleh para ulama atau pemuka adat, dan diperdengarkan azan, sebagai simbolisasi persiapan anak tersebut menjadi khalifah di muka bumi.
Peralihan Kekuasaan: Apa Peninggalan Sejarah Kerajaan Aceh?
Kejayaan Samudra Pasai mulai meredup pada awal abad ke-16 akibat konflik internal dan invasi kolonialis Portugis pada tahun 1521. Namun, peradaban Islam di ujung Sumatra tidak mati. Sisa-sisa kekuatan Samudra Pasai kemudian diintegrasikan ke dalam kekuatan politik baru yang sedang bangkit, yakni Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1524 M).
Sebagai pewaris tahta spiritual dan geopolitik Samudra Pasai, Kesultanan Aceh melanjutkan tradisi kegemilangan Islam di Sumatra. Jika Anda bertanya, apa peninggalan sejarah kerajaan Aceh?, Anda dapat melihatnya pada monumen-monumen megah yang masih eksis di Kota Banda Aceh hingga hari ini, antara lain:
- Masjid Raya Baiturrahman: Dibangun pertama kali pada masa Sultan Iskandar Muda, menjadi pusat peradaban dan simbol perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajah.
- Gunongan (Taman Sari): Bangunan unik berbentuk gunung putih yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda sebagai tanda cinta untuk permaisurinya, Putroe Phang, yang berasal dari Pahang, Malaysia.
- Pintu Khop & Pinto Aceh: Gerbang istana dan perhiasan kerajaan yang menunjukkan tingginya seni kriya emas dan arsitektur pada era Kesultanan Aceh.
Secara historis, peninggalan Kerajaan Aceh ini adalah kelanjutan langsung dari pondasi peradaban yang berabad-abad sebelumnya telah diletakkan oleh Kerajaan Samudra Pasai.
Frequently Asked Questions (FAQ)
1. Di manakah letak Kerajaan Samudra Pasai?
Secara administratif modern, pusat Kerajaan Samudra Pasai terletak di wilayah pesisir utara Provinsi Aceh, tepatnya di sekitar Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.
2. Siapa pendiri Kerajaan Samudra Pasai?
Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang setelah memeluk agama Islam berganti nama menjadi Sultan Malik as-Saleh pada abad ke-13.
3. Mengapa Kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan?
Karena letak geografisnya yang sangat strategis di pintu masuk Selat Malaka. Pelabuhan ini menjadi tempat transit wajib bagi kapal niaga internasional dan pusat komoditas lada serta sutra.
4. Apa saja peninggalan Kerajaan Samudra Pasai?
Beberapa peninggalan utamanya meliputi Makam Sultan Malik as-Saleh, Koin Dirham emas (mata uang kerajaan), Lonceng Cakra Donya pemberian Cheng Ho, dan naskah kuno Hikayat Raja-raja Pasai.
Menelusuri peninggalan Kerajaan Samudra Pasai ibarat membaca halaman pertama dari buku besar sejarah Islam di Asia Tenggara. Dari nisan Makam Sultan Malik as-Saleh yang menyimpan keanggunan seni ukir Gujarat, hingga gemerincing koin Dirham emas yang pernah menggerakkan roda ekonomi global, semua artefak tersebut memberikan bukti tak terbantahkan tentang kebesaran maritim Nusantara di masa lampau. Letaknya yang strategis dan visi keterbukaannya telah mengubah sebuah pesisir sunyi menjadi pusat perdagangan tersibuk pada masanya, sebelum akhirnya tongkat estafet peradaban tersebut diteruskan kepada Kesultanan Aceh Darussalam.
Di masa depan, pelestarian situs-situs arkeologi di Aceh Utara ini diharapkan tidak hanya sebatas menjadi objek wisata mati, melainkan menjadi pusat riset dan literasi sejarah maritim internasional yang menginspirasi generasi muda. Menjawab pertanyaan di awal artikel; peradaban besar tak pernah benar-benar runtuh, mereka hanya mewariskan cahayanya ke dalam bentuk yang berbeda. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melihat masa depannya melalui cermin kejayaan masa lalunya.
Referensi:
- Tjandrasasmita, Uka. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Hasjmy, A. (1981). Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandung: PT Al-Ma'arif.
- Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: