Rabu, 25 MARET 2026 • 11:35 WIB

Situs Manusia Purba Monte Verde di Chile Picu Perdebatan soal Kehadiran Manusia Tertua di Amerika

Author

Situs Arkeologi Monte Verde di Chile (google maps). 

INDOZONE.ID - Monte Verde, situs arkeologi di Chile selatan yang selama beberapa dekade dianggap sebagai bukti tertua kehadiran manusia di Amerika, kini harus menghadapi kenyataan baru. 

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science mengklaim bahwa lokasi tersebut sebenarnya jauh lebih muda dari perkiraan sebelumnya, yaitu antara 4.200 hingga 8.200 tahun lalu, bukan 14.500 tahun seperti yang selama ini diyakini.

Jika temuan ini benar, maka Monte Verde tidak lagi relevan dalam perdebatan kapan manusia pertama kali memasuki Benua Amerika. Sebuah pernyataan yang tentu akan mengguncang dunia arkeologi.

Baca juga: Asteroid Ryugu Bawa 5 Bahan Pembentuk DNA, Mungkinkah Ada 'Bumi Lain' di Alam Semesta?

Metode Baru, Hasil yang Berbeda

Tim peneliti yang dipimpin Todd Surovell, arkeolog dari University of Wyoming, menggunakan tiga metode penanggalan ilmiah yang berbeda pada material yang ditemukan di dalam dan sekitar situs. 

Mereka tidak hanya mengambil sampel dari area situs, tapi juga dari formasi tanah yang sama di hulu dan hilir sungai di lembah tersebut.

Hasilnya menunjukkan konsistensi yang mengejutkan: semua sampel mengindikasikan usia yang jauh lebih muda. Surovell menyebut kesalahan penanggalan dari peneliti sebelumnya "langsung terlihat" setelah data baru dianalisis.

Salah satu temuan kunci adalah penanggalan lapisan abu vulkanik kuno yang berusia sekitar 11.000 tahun. 

Baca juga: Pembunuhan Snapchat: Kisah 2 Remaja Belasan Tahun Bunuh Wanita

Abu itu berada di lapisan di bawah bukti hunian manusia, yang berarti manusia baru hadir setelah abu itu terendapkan. 

Artinya, usia situs tidak mungkin lebih tua dari 11.000 tahun.

Debat Panas: 'Kesalahan' vs 'Penemuan Baru'

Tentu saja, temuan ini tidak diterima begitu saja oleh peneliti asli Monte Verde. 

Tom Dillehay, antropolog dari Vanderbilt University yang telah meneliti situs ini sejak 1970-an, menolak keras kesimpulan baru ini.

Baca juga: Ternyata Ini Alasan Kuda dan Mamalia Besar Punya Wajah Panjang

Dillehay menyebut studi baru itu penuh dengan "banyak kesalahan metodologis dan empiris." 

Ia menyoroti interpretasi terhadap kayu yang ditemukan, yang menurutnya mengabaikan "sejumlah besar bukti budaya yang terkait dengan Monte Verde," termasuk alat batu, artefak kayu dan tulang, sisa-sisa tanaman yang dapat dimakan, perapian, jejak kaki manusia, hingga sisa daging dan kulit hewan.

"Dalam melihat data mereka, itu adalah campuran dari rekaan dan kesalahpahaman. Mereka melihat apa yang ingin mereka lihat, dan datang ke situs dengan kesimpulan yang sudah ditentukan sebelumnya," tegas Dillehay.

Apa Artinya Bagi 'Teori Clovis First'?

Selama ini, Monte Verde dianggap sebagai pukulan telak bagi teori "Clovis First" yang menyatakan manusia pertama di Amerika muncul sekitar 12.800 tahun lalu. 

Baca juga: Mengenal Cula Badak: Berfungsi sebagai Alat Pertahanan Demi Melawan Predator

Dengan usia yang lebih tua dan lokasi yang jauh di selatan, Monte Verde menunjukkan bahwa manusia telah berada di Amerika lebih awal dari yang diperkirakan.

Jika penanggalan baru ini benar, maka Monte Verde justru lebih muda dari situs-situs Clovis di Amerika Utara. 

Artinya, situs itu tidak lagi memiliki signifikansi besar dalam perdebatan awal penghunian Benua Amerika. 

Namun Dillehay bersikukuh bahwa Monte Verde tetap menjadi salah satu situs paling penting di benua Amerika, dan telah memainkan peran penting dalam menggantikan paradigma Clovis First.

Baca juga: Apa Itu Post-Holiday Blues? Ini Cara Mengatasinya dan Beberapa Fakta Menariknya

Apakah ini akhir dari sebuah legenda arkeologi atau justru awal dari babak baru penelitian yang lebih mendalam? 

Yang jelas, perdebatan tentang kapan dan bagaimana manusia pertama kali menginjakkan kaki di Amerika masih jauh dari kata selesai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU