INDOZONE.ID - Meta kembangkan AI yang memungkinkan untuk menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dunia.
AI tersebut nantinya dapat “mensimulasikan” aktivitas media sosial seseorang, bahkan setelah orang tersebut meninggal dunia.
Melansir laman Business Insider (19/02/2026) proyek yang diajukan pada 2023 dan disetujui pada akhir Desember itu menjelaskan bagaimana model bahasa besar (LLM) dapat digunakan untuk meniru perilaku pengguna di platform jejaring sosial.
Baca juga: Astrologi dan AI Jadi Cara Baru Cari Relasi, Inovasi atau Sekadar Tren?
Artinya, sistem AI tersebut mampu membalas komentar, menyukai unggahan, hingga merespons pesan langsung seolah-olah dilakukan oleh pemilik akun asli.
Dalam dokumen proyek disebutkan bahwa model ini dapat diaktifkan ketika pengguna “tidak hadir” di media sosial, misalnya saat mengambil jeda panjang atau bahkan setelah meninggal dunia.
Gagasan ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah Meta ingin membuat kehadiran digital manusia menjadi abadi?
Proyek tersebut mencantumkan Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, sebagai penulis utama.
Baca juga: Aplikasi AI Kini Bisa Identifikasi Spesies Dinosaurus Lewat Jejak Kaki
Meski demikian, juru bicara Meta menegaskan kepada Business Insider bahwa perusahaan tidak memiliki rencana langsung untuk mengembangkan atau menerapkan konsep tersebut.
Mereka menekankan bahwa tidak semua paten yang didaftarkan akan diwujudkan menjadi produk nyata.
Mengisi Kekosongan Digital
Dalam penjelasannya, Meta berargumen bahwa ketika seseorang berhenti aktif di media sosial, baik karena istirahat atau karena meninggal, pengalaman para pengikutnya ikut terdampak.
Ketidakhadiran itu bisa terasa permanen dan meninggalkan kekosongan emosional.
Untuk mengatasi hal tersebut, teknologi yang dipatenkan akan menciptakan semacam “klon digital” berdasarkan data spesifik pengguna, seperti riwayat unggahan, komentar, serta interaksi lainnya.
Sistem kemudian mempelajari pola perilaku tersebut untuk meniru gaya komunikasi dan respons pengguna.
Bagi influencer atau kreator konten yang bergantung pada media sosial sebagai sumber penghasilan, teknologi ini bahkan digambarkan dapat membantu menjaga interaksi dengan audiens saat mereka beristirahat.
Baca juga: Dulu Kalkulator Didemo, Sekarang AI: Akankah Sejarah Membuktikan Kita Salah Lagi?
Tidak hanya itu, proyek tersebut juga menyinggung kemungkinan AI mensimulasikan panggilan audio atau video dengan sosok digital yang telah “direkonstruksi”.
Antara Inovasi dan Etika
Meski terdengar futuristik, gagasan ini memicu perdebatan serius.
Meniru seseorang yang sedang hiatus dari media sosial mungkin masih dapat diterima, tetapi bagaimana jika AI meniru orang yang sudah meninggal?
Edina Harbinja, profesor hukum dari University of Birmingham yang meneliti hak digital dan privasi pasca-kematian, menyebut teknologi semacam ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga menyangkut isu sosial, etika, dan filosofis yang kompleks.
Baca juga: Pertama di Dunia, Bayi Laki-laki di Mexico Lahir dari Proses Bayi Tabung Lewat Bantuan AI
Meta sendiri bukan pemain baru dalam isu warisan digital. Sekitar satu dekade lalu, Facebook sebagai platform yang berada di bawah naungan Meta meluncurkan fitur “legacy contact” untuk mengelola akun pengguna yang telah meninggal.
Bahkan dalam wawancara tahun 2023 bersama podcaster Lex Fridman, CEO Meta Mark Zuckerberg sempat membahas kemungkinan avatar virtual untuk mengenang orang yang telah tiada.
Tren Teknologi Duka Cita
Konsep “menghidupkan kembali” orang lewat AI bukanlah hal baru.
Sejumlah perusahaan rintisan telah lebih dulu bergerak di ranah ini. Misalnya Replika, yang didirikan oleh Eugenia Kuyda setelah kehilangan sahabatnya.
Ada pula You, Only Virtual (YOV) yang dibuat oleh Justin Harrison, terinspirasi dari pengalaman pribadi menghadapi penyakit ibunya.
Bahkan pada 2021, Microsoft juga mematenkan chatbot AI yang dapat mensimulasikan orang yang telah meninggal, termasuk tokoh fiksi atau selebriti.
Baca juga: R.U.R: Drama Teater Era 1920-an yang Memprediksi Bahayanya Robot dan AI
Kemunculan proyek Meta menandakan bahwa teknologi “AI duka cita” semakin masuk arus utama. Namun, perpaduan antara AI, kematian, dan kesedihan tetap menjadi topik sensitif.
Di satu sisi, teknologi ini berpotensi membantu orang mengenang dan memproses kehilangan. Di sisi lain, ia membuka perdebatan tentang hak digital, privasi, serta batas etis dalam mereplikasi identitas manusia.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya soal apakah teknologi ini bisa diwujudkan, melainkan apakah manusia benar-benar siap hidup berdampingan dengan versi digital dari mereka yang telah tiada?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Business Insider