INDOZONE.ID - Pernahlah Kamu merasa sesak karena dunia makin padat, populasi makin meledak, gedung makin menjulang, dan langit makin penuh satelit?
Tapi siapa sangka, di balik semua itu, alam semesta sebenarnya... nyaris kosong. Ya, lebih dari 96% ruang di semesta ini adalah kehampaan.
Dan bagian paling mencengangkan? Ilmuwan menyebut bahwa kita—planet, bintang, galaksi, bahkan tubuh kita—hanya terdiri dari sekitar 4% dari apa yang “ada” di alam semesta.
Sisanya terdiri dari materi gelap dan energi gelap, dua elemen kosmik yang hingga kini masih menyimpan banyak misteri bagi para ilmuwan.
Baca juga: Zone of Death di Utah: Tempat Aneh di Dunia di Mana Kamu Bisa Membunuh dan Tak Bisa Dihukum?
Saat kita melihat ke sekeliling—kemacetan, gedung pencakar langit, keramaian kota—terasa banget kalau bumi ini "penuh."
Tapi semua itu hanya terjadi di satu planet kecil dalam satu sistem tata surya, yang bahkan cuma titik kecil di satu dari miliaran galaksi.
Coba bayangin: kalau Bumi sebesar kacang, maka Matahari seukuran bola basket, dan jaraknya hampir 25 meter.
Nah, Pluto? Lebih jauh lagi, lebih dari dua lapangan bola. Di antara benda-benda langit ini, ada begitu banyak ruang kosong dan itulah standar di semesta ini: kosong.
Baca juga: Bumi Bergeser Diam-Diam: Fakta Mengerikan di Balik 'Silent Earthquake' yang Bisa Picu Gempa Besar
Di sinilah dark matter atau materi gelap masuk. Meski tak bisa dilihat, disentuh, atau dipantulkan cahayanya, para ilmuwan tahu bahwa materi gelap itu ada karena efek gravitasinya terlihat jelas.
Misalnya, galaksi-galaksi di alam semesta bisa tetap “utuh” dan nggak tercerai-berai karena ditahan oleh gravitasi dari materi gelap.
Fakta yang bikin tercengang: sekitar 27% alam semesta terdiri dari materi gelap—zat tak kasatmata yang belum sepenuhnya dipahami, tapi memainkan peran besar dalam membentuk struktur kosmos.
Lebih mengejutkan lagi, sekitar 68% sisanya adalah energi gelap—entitas yang jauh lebih misterius dan diyakini sebagai penyebab utama dari terus meluasnya alam semesta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Science.zeba.academy