INDOZONE.ID - Ketika nama Ted Bundy disebut, banyak orang langsung teringat pada sosok pria tampan, berpendidikan, dan tampak meyakinkan. Citra yang sengaja Ted bangun untuk menutupi sisi paling gelap dalam dirinya.
Di balik senyum ramah dan penampilan rapi itu, Ted Bundy menyimpan kelicikan yang membuatnya menjadi salah satu pembunuh berantai paling berbahaya dalam sejarah Amerika Serikat. Apalagi ia jenis pembunuh yang suka kembali datang ke lokasi pembunuhan hanya untuk merasakan sensasinya.
Baca juga: Kisah Monster Laut Perairan Edo di Masa Politik Isolasi Keshogunan Tokugawa
Hingga kini, jumlah pasti korbannya masih menjadi misteri. Ted Bundy hanya mengakui sekitar 30 korban, tetapi banyak ahli percaya jumlah sebenarnya jauh lebih besar.
Kisahnya menjadi bukti bahwa bahaya tidak selalu datang dari wajah menyeramkan, terkadang justru dari seseorang yang terlihat paling “normal.”
Manipulasi yang Dibungkus Kebaikan
Tidak hanya pada kekerasan fisik yang ia lakukan, tetapi Ted Bundy memiliki cara untuk membuat orang percaya bahwa ia tidak berbahaya. Dengan menunjukan kepribadian yang menawan dan gaya bicara yang halus, ia menampilkan dirinya sebagai pria yang sopan, bahkan pemalu.
Baca juga: Kematian Senyap Kaisar Terakhir Dinasti Mughal yang Berusaha Dihapus dari Sejarah
Ted Bundy sering berpura-pura menjadi polisi, petugas survei, atau seseorang yang membutuhkan bantuan karena cedera. Ia menggunakan kruk, gips, dan alat bantu lainnya agar terlihat rentan. Para perempuan yang menolongnya tidak pernah menyangka bahwa kebaikan mereka akan dibalas dengan kekerasan brutal.
Inilah yang membuat Ted Bundy dicap sebagai pembunuh berantai, bukan hanya karena kekejamannya, tetapi juga kemampuannya menyembunyikan niat tersebut hingga detik terakhir.
Suka kembali ke TKP
Ted Bundy sering kembali ke lokasi kejahatan dan tempat ia membuang jenazah, dan kerap menghabiskan waktu cukup lama di sana.
Kriminolog menyebut bahwa kebiasaan Bundy kembali ke lokasi serta mengumpulkan kenang-kenangan berkaitan dengan kebutuhan obsesif untuk mengendalikan dan mengobjektifikasi para korbannya.
Ketergantungan emosionalnya pada kejahatan-kejahatan itu meningkat seiring waktu.
Kekerasan yang Terus Intens
Saat menyerang korbannya, Bundy menunjukkan keganasan yang tak terkendali. Beberapa korban yang selamat menggambarkan bagaimana Ted Bundy memukul, menyerang, dan menyiksa mereka dengan cara yang kejam, meninggalkan trauma seumur hidup.
Baca juga: The Long March, Perjalanan Epik yang Mengubah Sejarah dan Bangkitnya Mao Zedong
Bundy bahkan dikenal menggunakan giginya untuk menyiksa korban. Bukti gigitan itulah yang akhirnya membantu jaksa menjeratnya di pengadilan.
Akhir dari Teror
Menjelang hari eksekusinya, Ted Bundy mencoba menawar keselamatannya dengan janji memberikan informasi baru tentang kasus-kasus lain. Namun upaya itu ditolak.
Baca juga: Kisah Mistis Penari Jaranan: Berawal Makan Sesajen yang Salah Berakhir dengan Kutukan Mengerikan
Pada 24 Januari 1989, Bundy dieksekusi menggunakan kursi listrik. Meski Bundy telah tiada, kisahnya menjadi pengingat bahwa kejahatan tidak selalu datang dari sosok yang tampak menyeramkan. Terkadang, ia hadir dengan wajah ramah, kata-kata manis, dan senyum yang tampak meyakinkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crimeandinvestigation.co.uk