Bahadur Shah Zafar (wikipedia).
INDOZONE.ID - Di penghujung hayatnya pada 7 November 1862, di sebuah kota asing jauh dari Delhi di Rangoon (sekarang Yangoon, Myanmar) kaisar terakhir Dinasti Mughal, Bahadur Shah Zafar, menghembuskan nafas terakhirnya.
Perlawanan besar yang ia gelorakan melawan penjajah Inggris pada 1857 membawanya pada kematian dalam pengasingan.
Tapi kejatuhannya bukan hanya soal tahta yang hilang, identitasnya sebagai simbol Mughal juga secara sengaja dihapus.
Dalam catatan sejarah kolonial, Zafar dikuburkan secara diam-diam di belakang tempat ia dipenjara di Rangoon.
Baca juga: India Bukan Sekadar Taj Mahal: Ini Tiga Fondasi Utamanya
Tubuhnya diturunkan pada sore yang sama, dibungkus kain, dan kemudian disiram kapur serta ditimbun tanah. Lalu rerumputan ditebar dengan hati-hati agar “tidak ada jejak yang tertinggal”.
Dengan begitu, makam Zafar berhenti menjadi monumen atau simbol. Bahkan, lokasi kuburnya pun dirahasiakan.
Sebuah kuburan tanpa tanda, tanpa nisan, tanpa nama. Dalam narasi sejarawan William Dalrymple, tindakan ini bukan kebetulan.
Inggris sadar meskipun Zafar tak berkuasa lagi, ia tetap bisa jadi ikon perlawanan. Maka mereka memastikan tak ada “altar” bagi gerakan semacam itu.
Selama lebih dari satu abad, lokasi tepat kuburan itu hilang dari ingatan publik.
Baca juga: Meiji Revolution: Perjalanan Jepang Menjadi Raksasa Asia
Warga Yangon, bahkan komunitas Muslim di sana, tidak tahu persis di mana jasad sang kaisar disemayamkan. Hanya rumor samar dan kisah lokal saja yang beredar.
Barulah pada 1991, saat dilakukan pekerjaan sipil dan penggalian drainase di kawasan yang dahulu menjadi kamp militer kolonial.
Struktur batu bata tua ditemukan kemudian diidentifikasi sebagai makam Zafar. Dengan rekonsiliasi sejarah dan dukungan komunitas lokal serta pemerintah Myanmar, dibangun sebuah makam dan dargah yang menandai tempat peristirahatan terakhir sang kaisar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Timesofindia.com, Buku: The Last Mughal: The Fall Of A Dynasty, Delhi, 1857