Kamis, 23 JULI 2026 • 12:21 WIB

Kenapa Anak Tunggal dan Kembar Wajib Diruwat? Ini Penjelasannya

Author


Ilustrasi anak indigo. (Unsplash)

INDOZONE.ID - Dalam khazanah budaya Jawa, terdapat konsep unik bernama sukerta, sebuah istilah yang merujuk pada kondisi seseorang, terutama anak, yang dipercaya membawa kesialan sejak lahir berdasarkan urutan atau komposisi kelahirannya dalam keluarga.

Anak yang tergolong sukerta wajib menjalani ritual penyucian yang disebut ruwatan, agar terhindar dari marabahaya sepanjang hidupnya.

Asal-Usul Konsep Sukerta

Istilah "sukerta" sendiri menggambarkan kondisi yang dianggap kotor, terganggu, atau tidak sempurna secara spiritual.

Baca juga: Mengupas Keberuntungan dan Pantangan Weton Selasa Kliwon di Bulan Suro Menurut Primbon Jawa

Kepercayaan ini erat kaitannya dengan mitologi Batara Kala, sosok raksasa dalam pewayangan Jawa yang lahir dari hawa nafsu Batara Guru yang tidak terkendali.

Dalam kisahnya, Batara Kala tumbuh menjadi sosok yang haus akan mangsa manusia. Batara Guru pun mengizinkan permintaan tersebut, dengan syarat mangsa yang boleh dimakan hanyalah mereka yang tergolong "wong sukerta", orang-orang yang menyandang kesialan berdasarkan kategori tertentu.

Untuk melindungi anak-anak yang dianggap sukerta dari ancaman tersebut, masyarakat Jawa menggelar ritual ruwatan.

Biasanya berupa pergelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala, dipimpin oleh dalang khusus ruwat, disertai prosesi siraman air bunga dan pemotongan sedikit rambut sebagai simbol pembuangan energi buruk.

Klasifikasi Jenis Anak Sukerta

Kategori anak sukerta dalam tradisi Jawa umumnya ditentukan berdasarkan jumlah, urutan, dan jenis kelamin anak dalam satu keluarga. Berikut sejumlah klasifikasi yang paling dikenal.

1.Berdasarkan anak tunggal

  • Ontang-anting: anak laki-laki tunggal tanpa saudara kandung.
  • Unting-unting: anak perempuan tunggal tanpa saudara kandung.

2. Berdasarkan dua bersaudara sejenis kelamin

  • Uger-uger lawang: dua anak laki-laki bersaudara kandung.
  • Kembang sepasang: dua anak perempuan bersaudara kandung.

3. Berdasarkan dua bersaudara beda jenis kelamin

Kedhana-kedhini: satu anak laki-laki dan satu anak perempuan bersaudara kandung.


4. Berdasarkan tiga bersaudara sejenis kelamin

  • Cukit/cukil dulit: tiga anak laki-laki bersaudara kandung.
  • Gotong mayit: tiga anak perempuan bersaudara kandung (dalam sejumlah sumber, penamaan ini tertukar antara laki-laki dan perempuan tergantung daerah).

5. Berdasarkan tiga bersaudara campuran

  • Sendhang kapit pancuran: tiga bersaudara dengan anak perempuan berada di tengah, diapit dua saudara laki-laki.
  • Pancuran kapit sendhang: tiga bersaudara dengan anak laki-laki berada di tengah, diapit dua saudara perempuan.

6. Berdasarkan empat bersaudara sejenis kelamin

  • Saramba: empat anak laki-laki bersaudara kandung.
  • Sarimpi: empat anak perempuan bersaudara kandung.

7. Berdasarkan tiga bersaudara campuran

  • Ipil-ipil: empat anak laki-laki dan satu anak perempuan.
  • Podangan: empat anak perempuan dan satu anak laki-laki.

8. Berdasarkan lima bersaudara sejenis kelamin

  • Pandhawa: lima anak laki-laki bersaudara kandung, merujuk pada lima tokoh Pandawa dalam pewayangan.
  • Pancagati: lima anak perempuan bersaudara kandung.

9. Kategori lain berdasarkan waktu kelahiran

Selain berdasarkan komposisi saudara, terdapat pula kategori sukerta berdasarkan waktu atau kondisi kelahiran, seperti anak yang lahir prematur (disebut jempina).

Atau anak yang lahir pada waktu-waktu tertentu seperti saat matahari terbenam maupun terbit, yang masing-masing memiliki penamaan dan makna simbolis tersendiri dalam tradisi Jawa.

Kenapa Anak Kembar dan Anak Tunggal Dianggap Rentan?

Anak tunggal, baik laki-laki (ontang-anting) maupun perempuan (unting-unting), dianggap rentan karena tidak memiliki saudara kandung sebagai "penyeimbang" dalam struktur keluarga menurut pandangan kosmologi Jawa.

Sementara itu, anak kembar juga masuk dalam kategori yang perlu diruwat, karena dianggap membawa keseimbangan yang tidak lazim dalam siklus kelahiran normal, sehingga dipercaya perlu penyeimbangan spiritual melalui ritual ruwatan.

Bagi masyarakat Jawa, ruwatan bukan semata-mata ritual menghindari kesialan, melainkan juga bentuk ikhtiar dan doa agar anak yang bersangkutan mendapat keselamatan serta kemudahan hidup di masa depan.

Sejumlah tokoh budaya juga menegaskan bahwa esensi ruwatan lebih menekankan pada keseimbangan lahir dan batin.

Baca juga: Cara Menghitung Hari yang Baik untuk Bercocok Tanam Menurut Primbon Jawa

Sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya leluhur, meski di sisi lain tidak sedikit pula masyarakat modern yang memandangnya sebagai bagian dari kearifan lokal dan warisan budaya, bukan keyakinan mutlak yang harus dijalani secara harfiah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Quora, Primbon Jawa

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU