Ilustrasi anak indigo. (Unsplash)
INDOZONE.ID - Dalam khazanah budaya Jawa, terdapat konsep unik bernama sukerta, sebuah istilah yang merujuk pada kondisi seseorang, terutama anak, yang dipercaya membawa kesialan sejak lahir berdasarkan urutan atau komposisi kelahirannya dalam keluarga.
Anak yang tergolong sukerta wajib menjalani ritual penyucian yang disebut ruwatan, agar terhindar dari marabahaya sepanjang hidupnya.
Istilah "sukerta" sendiri menggambarkan kondisi yang dianggap kotor, terganggu, atau tidak sempurna secara spiritual.
Baca juga: Mengupas Keberuntungan dan Pantangan Weton Selasa Kliwon di Bulan Suro Menurut Primbon Jawa
Kepercayaan ini erat kaitannya dengan mitologi Batara Kala, sosok raksasa dalam pewayangan Jawa yang lahir dari hawa nafsu Batara Guru yang tidak terkendali.
Dalam kisahnya, Batara Kala tumbuh menjadi sosok yang haus akan mangsa manusia. Batara Guru pun mengizinkan permintaan tersebut, dengan syarat mangsa yang boleh dimakan hanyalah mereka yang tergolong "wong sukerta", orang-orang yang menyandang kesialan berdasarkan kategori tertentu.
Untuk melindungi anak-anak yang dianggap sukerta dari ancaman tersebut, masyarakat Jawa menggelar ritual ruwatan.
Biasanya berupa pergelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala, dipimpin oleh dalang khusus ruwat, disertai prosesi siraman air bunga dan pemotongan sedikit rambut sebagai simbol pembuangan energi buruk.
Kategori anak sukerta dalam tradisi Jawa umumnya ditentukan berdasarkan jumlah, urutan, dan jenis kelamin anak dalam satu keluarga. Berikut sejumlah klasifikasi yang paling dikenal.
Kedhana-kedhini: satu anak laki-laki dan satu anak perempuan bersaudara kandung.
Selain berdasarkan komposisi saudara, terdapat pula kategori sukerta berdasarkan waktu atau kondisi kelahiran, seperti anak yang lahir prematur (disebut jempina).
Atau anak yang lahir pada waktu-waktu tertentu seperti saat matahari terbenam maupun terbit, yang masing-masing memiliki penamaan dan makna simbolis tersendiri dalam tradisi Jawa.
Anak tunggal, baik laki-laki (ontang-anting) maupun perempuan (unting-unting), dianggap rentan karena tidak memiliki saudara kandung sebagai "penyeimbang" dalam struktur keluarga menurut pandangan kosmologi Jawa.
Sementara itu, anak kembar juga masuk dalam kategori yang perlu diruwat, karena dianggap membawa keseimbangan yang tidak lazim dalam siklus kelahiran normal, sehingga dipercaya perlu penyeimbangan spiritual melalui ritual ruwatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Quora, Primbon Jawa